Inggris Sukses Uji Coba Teknik Bayi Tabung Baru untuk Tekan Risiko Penyakit Turunan

Kamis, 17 Jul 2025, 21:00 WIB
NEWCASTLE - Inggris pada hari Rabu (16/7), mengumumkan, delapan bayi sehat telah lahir menggunakan teknik bayi tabung (In Vitro Fertilization/IVF) terbaru yang berhasil mengurangi risiko mewarisi penyakit genetik dari ibu mereka, menjadi uji coba yang pertama di dunia.
Temuan ini dipuji sebagai terobosan yang meningkatkan harapan bahwa perempuan dengan mutasi pada DNA mitokondria mereka suatu hari nanti dapat memiliki anak tanpa mewariskan penyakit yang melemahkan atau mematikan kepada anak-anak mereka.
Satu dari setiap 5.000 kelahiran dipengaruhi oleh penyakit mitokondria, yang tidak dapat diobati, dan mencakup gejala-gejala seperti gangguan penglihatan, diabetes, dan penyusutan otot.
Pada tahun 2015, Inggris menjadi negara pertama yang menyetujui teknik IVF yang menggunakan sejumlah kecil DNA mitokondria sehat dari sel telur donor -- bersama dengan sel telur ibu dan sperma ayah.
Beberapa orang menyebut hasil proses ini "bayi tiga orang tua", meskipun para peneliti menolak istilah ini karena hanya sekitar 0,1 persen DNA bayi baru lahir berasal dari donor.
Hasil uji coba di Inggris yang telah lama ditunggu-tunggu ini dipublikasikan dalam beberapa makalah di New England Journal of Medicine.
Pilihan reproduksi penting
Dari 22 perempuan yang menjalani perawatan di Newcastle Fertility Centre di timur laut Inggris, delapan bayi lahir. Empat bayi laki-laki dan empat bayi perempuan kini berusia antara di bawah enam bulan hingga di atas dua tahun.
Jumlah DNA mitokondria yang bermutasi -- yang menyebabkan penyakit -- berkurang 95-100 persen pada enam bayi, menurut penelitian tersebut.
Untuk dua bayi baru lahir lainnya, jumlahnya turun 77-88 persen, yang berada di bawah kisaran yang menyebabkan penyakit.
Hal ini menunjukkan bahwa teknik ini "efektif dalam mengurangi penularan" penyakit antara ibu dan anak, menurut salah satu penelitian.
Kedelapan anak tersebut saat ini sehat, meskipun salah satu dari mereka mengalami gangguan irama jantung yang berhasil diobati, kata para peneliti.
Kondisi kesehatan mereka akan dipantau selama beberapa tahun mendatang untuk melihat apakah ada masalah yang muncul.
Nils-Goran Larsson, pakar reproduksi Swedia yang tidak terlibat dalam penelitian ini, memuji "terobosan" ini.
Teknik baru ini menawarkan "pilihan reproduksi yang sangat penting" bagi keluarga yang terdampak penyakit mitokondria yang "mematikan", tambahnya.
Tinjauan Etis
Donasi mitokondria masih kontroversial dan belum disetujui di banyak negara, termasuk Amerika Serikat dan Prancis.
Para pemimpin agama menentang prosedur ini karena melibatkan penghancuran embrio manusia. Penentang lainnya menyatakan kekhawatiran bahwa prosedur ini dapat membuka jalan bagi "bayi rancangan" hasil rekayasa genetika.
Tinjauan etis yang dilakukan oleh Dewan Bioetika Nuffield independen di Inggris "berperan penting" dalam melakukan penelitian baru ini, kata direktur dewan tersebut, Danielle Hamm, pada hari Rabu.
Peter Thompson, kepala Otoritas Fertilisasi Manusia dan Embriologi Inggris yang menyetujui prosedur tersebut, mengatakan hanya orang dengan "risiko sangat tinggi" mewarisi penyakit mitokondria yang memenuhi syarat untuk perawatan ini.
Kekhawatiran etis juga muncul terkait penggunaan donasi mitokondria untuk infertilitas di Yunani dan Ukraina.
Spesialis penyakit mitokondria Prancis, Julie Stefann, mengatakan bahwa "ini adalah masalah rasio risiko-manfaat: untuk penyakit mitokondria, manfaatnya jelas".
"Dalam konteks infertilitas, hal itu belum terbukti," tambahnya.
Pakar genetika reproduksi Universitas Oxford, Dagan Wells, mengamati bahwa "beberapa ilmuwan akan sedikit kecewa karena begitu banyak waktu dan upaya, sejauh ini, hanya menghasilkan kelahiran delapan anak".
Di antara anak-anak yang dipantau secara ketat, terdapat tiga anak yang menunjukkan beberapa tanda yang dikenal sebagai "pembalikan", yang masih sedikit dipahami.
Ini adalah "fenomena di mana terapi awalnya berhasil menghasilkan embrio dengan sangat sedikit mitokondria yang cacat, tetapi pada saat anak lahir, proporsi mitokondria abnormal dalam sel-selnya telah meningkat secara signifikan," jelasnya.

Redaktur: Andreas Tanjung

Penulis: AFP, Selocahyo Basoeki Utomo S

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.