- Home
-
- Luar Negeri
-
- Dinamis Tanpa Aliansi: Evo...
Dinamis Tanpa Aliansi: Evolusi Kerja Sama Militer Rusia–Tiongkok Berdasarkan Laporan CEPA
Rabu, 16 Jul 2025, 17:45 WIBJAKARTA - Kerja sama militer Rusia dan Tiongkok kini bergerak dari sekadar transaksi senjata pasca?Soviet menjadi hubungan politis?teknologis yang saling bergantung, meski tetap tanpa jaminan pertahanan formal. Laporan Center for European Policy Analysis (CEPA) bertajuk Partnership Short of Alliance yang terbit 16?Juni?2025 menegaskan bahwa sanksi Barat sejak 2014 dan invasi penuh Rusia ke Ukraina pada 2022 menjadi pendorong utama perubahan ini.
Antara 1992 dan 2014, data Stockholm International Peace Research Institute (SIPRI) mencatat lebih dari 100 jet tempur Su?27/Su?30, belasan baterai S?300, dan 12 kapal selam kelas Kilo dikirim Moskow ke Beijing. Transfer itu memodernisasi kekuatan udara dan laut Tiongkok seraya menyokong industri pertahanan Rusia, meski kemudian memicu praktik reverse engineering yang melahirkan jet J?11 dan sistem pertahanan udara HQ?9.
Pada 2015, tonggak baru tercipta saat Rusia setuju menjual 24 Su?35 dan sistem S?400 ke Tiongkok, membuka akses bagi senjata generasi berikutnya. Di sisi lain, kehilangan mesin Ukraina dan komponen Barat pasca?Krimea membuat Rusia mulai memasang mesin buatan Tiongkok pada korvet Buyan?M yang kualitasnya diakui lebih rendah ketimbang mesin Jerman yang direncanakan.
Antara 2016 hingga 2019, Moskow mengirim 24 Su?35, delapan baterai S?400, dan beberapa pesawat angkut Il?76M versi peningkatan ke Beijing. Kedua ibu kota lalu menyepakati âpeta jalanâ lima tahunan yang mengatur jadwal latihan, produksi bersama, dan pertukaran teknologi, skema yang dirinci lebih lanjut dalam studi RAND tahun 2024.
Kalimat âkemitraan tanpa batasâ diumumkan Xi Jinping dan Vladimir Putin pada 4?Februari?2022, tepat sebelum invasi ke Ukraina. Namun CEPA menilai dukungan Tiongkok tetap dipagari sejumlah batasan untuk menjaga otonomi strategis Beijing dan menghindari sanksi sekunder dari Barat.
âTiongkok siap memimpin dalam penandatanganan protokol SEANWFZ,â pernyataan serupa sering dikutip CEPA untuk menunjukkan pola komitmen bersyarat Beijing. Pernyataan itu menjadi ilustrasi bagaimana Tiongkok menjaga citra kooperatif sambil menakar risiko ekonomi.
Asia Financial melaporkan bahwa 88â89?persen mikrochip yang diimpor Rusia pada 2023 berasal dari Tiongkok, menopang lini produksi senjata Rusia meski dibatasi embargo Barat. South China Morning Post mengutip bukti Uni Eropa yang menyebut drone bersenjata bagi militer Rusia diproduksi di Xinjiang, sementara ekspor nitroselulosa Tiongkok melonjak dari nol menjadi lebih 1.300 ton pada 2023 menurut Ukrinform.
Di medan tempur, DesertCross 1000?3 buatan Tiongkok dipakai Rusia untuk logistik dan serbuan cepat, sedangkan satu kendaraan lapis baja Baoji Tiger terkonfirmasi tiba di unit âAkhmatâ. Meski demikian, CEPA mencatat Tiongkok menahan pengiriman tank, howitzer, atau amunisi artileri karena khawatir balasan Barat akan melebihi keuntungan yang diperoleh.
Latihan laut tahunan âJoint Seaâ dan serial âBeibu/Interaction?2024â di Laut Jepang sudah memasukkan skenario tembakan artileri dan rudal, yang oleh Moskow dipromosikan sebagai sinyal kehadiran di Pasifik. Laporan CSIS Space Threat Assessment?2025 menambahkan bahwa kedua negara turut menguji kemampuan anti?satelit dan merancang sistem peperangan elektronik terpadu.
Di ranah bawah permukaan, ERR mengingatkan insiden kapal kontainer Newnew Polar Bear berbendera Hong Kong tetapi diawaki pelaut Rusia yang merusak pipa gas Balticconnector dan kabel serat optik pada Oktober?2023. Investigasi Finlandia menautkan peristiwa itu pada sabotase sengaja, menyoroti dimensi operasi rahasia dalam hubungan kedua negara.
Sebuah bocoran dokumen FSB yang diterbitkan grup peretas Ares Leaks menuding Tiongkok sebagai âmusuh berbahayaâ yang merekrut insinyur Rusia, menganalisis senjata NATO di Ukraina, dan menyusun klaim wilayah di Timur Jauh Rusia. Laporan internal itu juga menyingkap program kontraintelijen âEntente?4â dan alat penyaring data WeChat bernama âSkopishche/Laretzâ, menandakan kecurigaan mendalam di kalangan aparat keamanan Rusia.
CEPA menilai bahwa sinkronisasi krisis di Ukraina dan Taiwan dapat memaksa NATO serta Amerika Serikat membagi sumber daya pada dua front sekaligus. Namun absennya perjanjian pertahanan bersama memberi peluang bagi Barat untuk menekan Moskow melalui kontrol ekspor semikonduktor, nitroselulosa, drone, atau kendaraan taktis tanpa otomatis memicu bantuan militer total dari Beijing.
Kesimpulan laporan CEPA menyatakan Rusia dan Tiongkok bekerja sama karena terpaksa, bukan karena saling percaya sepenuhnya. Kremlin makin bergantung pada chip, bahan baku, dan pasar ekspor Tiongkok, sementara Beijing terus menghitung biaya politik dari dukungannya agar tak melebihi manfaat strategis. Hubungan ini bisa diperluas atau diperkecil dengan cepat, tetapi sulit diubah menjadi aliansi formal, fakta yang ditegaskan baik oleh analisis terbuka CEPA maupun kekhawatiran tersembunyi dalam dokumen FSB.
Berita Terkait:
-
Lidah Warga Tiongkok Mulai Jatuh Hati pada Makanan Olahan RI
-
Semarakkan Mudik Lebaran 1447 H, KAI Wisata Hadirkan Hiburan Budaya hingga Pembagian Takjil
-
Lagi, Anggota Politbiro Tiongkok Diselidiki Lembaga Pengawas Antikorupsi
-
RI Bidik Minyak Rusia—Pertamina Siap Eksekusi Arahan Pemerintah
-
Trump dan Xi Jinping Sepakat Selat Hormuz Tetap Terbuka Tanpa Pungutan
-
Trump Ingin Tiongkok Belanja Lebih Banyak Energi dari AS
-
Harga Minyak Anjlok Tajam setelah Trump Sebut Perang Melawan Iran akan Segera Berakhir
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.