• Home
  • navigasi panah1
  • Rona
  • panah2
  • Memahami Angin Matahari La...

Memahami Angin Matahari Lambat

Selasa, 15 Jul 2025, 07:35 WIB

ANGIN matahari (solar wind) merupakan aliran partikel bermuatan (terutama elektron dan proton) yang dipancarkan secara terus-menerus dari bagian korona matahari. Korona sendiri adalah lapisan terluar atmosfer ­matahari.

Partikel-partikel angin matahari bergerak dengan kecepatan tinggi, bisa mencapai 400–800 km per detik. Ciri-ciri adalah berasal dari korona matahari yang sangat panas dengan suhu mencapai lebih dari 1 juta derajat Celcius.

Ket. Foto: Gambar konseptual ini menunjukkan Parker Solar Probe hendak memasuki korona matahari. — Sumber: NASA/Johns Hopkins APL/Ben Smith

Angin matahari memiliki kandungan mayoritas berupa elektron dan proton, tapi juga ada ion-ion berat. Lapisan ini memiliki membawa serta medan magnet Matahari atau disebut medan magnet antargalaksi atau medan magnet antarplanet, interplanetary magnetic field.

Keberadaan angin matahari bukan tidak menciptakan dampak dan masalah di Bumi. Lapisan ini menghasilkan cahaya aurora, saat angin matahari bertabrakan dengan medan magnet Bumi, terutama di kutub, baik aurora borealis maupun australis.

Angin matahari juga menciptakan gangguan satelit dan komunikasi. Ledakan besar angin matahari (misalnya dari coronal mass ejection / CME) dapat mengganggu satelit, GPS, dan jaringan komunikasi. Arus yang diinduksi oleh angin matahari bisa merusak transformator listrik di Bumi. Efek dari angina matahari terhadap Bumi selama ini dapat diredam oleh medan magnet Bumi (magnetosfer).

Contoh peristiwa besar terkait angina matahari adalah Carrington Event pada 1859. Angin matahari yang sangat kuat terjadi menyebabkan gangguan besar pada telegraf di Eropa & Amerika. Jika hal itu terjadi sekarang, kemungkinan telah merusak infrastruktur listrik global.

Itulah mengapa angin matahari yang lambat, yang dua kali lebih padat dan lebih bervariasi daripada angin matahari cepat, penting untuk dipelajari. Hal ini karena interaksinya dengan angin matahari cepat dapat menciptakan kondisi badai matahari yang cukup kuat di Bumi, terkadang menyaingi badai matahari dari CME.

Sebelum Parker Solar Probe, pengamatan jarak jauh menunjukkan bahwa sebenarnya ada dua jenis angin matahari lambat, yang dibedakan berdasarkan orientasi atau variabilitas medan magnetnya.

Salah satu jenis angin matahari lambat, yang disebut Alfénic, memiliki putaran balik skala kecil. Jenis kedua, yang disebut non-Alfénic, tidak menunjukkan variasi ini dalam medan magnetnya.

Saat berputar mendekati matahari, Parker Solar Probe mengonfirmasi bahwa memang ada dua jenis. Pandangan jarak dekatnya juga membantu para ilmuwan membedakan asal-usul kedua jenis angin tersebut, yang menurut para ilmuwan unik.

Dalam orbitnya saat ini, yang membawa wahana antariksa hanya 3,8 juta mil dari matahari, Parker Solar Probe akan terus mengumpulkan data tambahan selama perjalanannya yang akan datang melalui korona untuk membantu para ilmuwan memastikan asal-usul angin surya yang lambat. Perjalanan berikutnya akan terjadi pada 15 September 2025. hay

Redaktur: Haryo Brono

Penulis: Haryo Brono

Berita Terbaru

KPK Panggil Kepala Imigrasi Denpasar, Diperiksa sebagai Saksi Kasus Dugaan Pemerasan WNA.

Kemdiktisaintek Siapkan Aksara Mahasiswa untuk Bantu Pemulihan Masyarakat NTT Pascabencana.

Bulog Sorong Datangkan 3.000 Ton Beras dari Jatim dan Jakarta, Stok Pangan Diperkuat hingga Akhir 2026.

Rp56 Miliar Digelontorkan untuk Sekolah Papua Harapan di Nabire, Perkuat SDM Anak Papua.

Jaga Harga Beras Tetap Stabil, Bulog Sorong Salurkan 5 Ton SPHP Setiap Hari.

Karhutla Dekati Permukiman dan Sekolah di Barru, Tim Gabungan BNPB Terus Berjibaku.

KPK Geledah Dua Kantor Pemkab Bogor, Bappenda dan BKPSDM Disasar

TransNusa Buka Rute Jakarta-Lampung dan Lampung-Kuala Lumpur

Cegah Celah Pengawasan, Karantina Babel Andalkan Teknologi untuk Percepat Layanan.

Lindungi Gajah Way Kambas, BNPB Jalankan Operasi Modifikasi Cuaca di Lampung Timur.

Marriott International Dinobatkan Jadi Tempat Kerja Terbaik Nomor 1

Google Cloud Hadirkan Gemini Enterprise untuk Industri Keuangan dan Hukum

De’ Geplak Hadir di Pusat Perbelanjaan Depok, Urus Administrasi Kependudukan Makin Mudah

JIF 2026: Buka Peluang Investasi Rp115 Triliun, 37 Proyek dan 13 Kawasan Ditawarkan

Lima Kunci Kepemimpinan HR untuk Membangun SDM Masa Depan

Somerset Kencana Jakarta Hadirkan Serviced Residence Family-Friendly dan Pet-Friendly di Jaksel

Hadapi Kemarau Ekstrem, 640.000 Liter Air Bersih Disalurkan ke 40 Titik

Lima Bulan Pascabencana Galodo, Dompet Dhuafa Reaktivasi 7 Posyandu di Agam

BTN dan Danantara Gelar Akad Massal KPR Subsidi untuk 200 Debitur di DHE 2026

Danantara Housing Expo 2026 Hadirkan KPR BTN Bunga 2,75% dan Tenor 30 Tahun

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.