'Jauh di Mata Dekat di Hati', Nostalgia Pelayaran Cheng Ho di Asia

Senin, 14 Jul 2025, 19:41 WIB

JAKARTA - Laksamana Cheng Ho, namanya tenar khususnya di kalangan pecinta sejarah Asia. Penjelajah sekaligus diplomat pada masa Dinasti Ming, Tiongkok itu dikenal antara lain karena ekspedisi menjangkau Asia Tenggara, Asia Selatan, Asia Barat hingga pesisir timur Afrika.

Indonesia, khususnya Semarang termasuk menjadi saksi kunjungan sang penjelajah yang meninggalkan kisah kerja sama di masa lalu dan terus bergaung hingga kini.

Ket. Foto: Seorang pengunjung memotret sosok Laksamana Cheng Ho di sela pameran bertajuk "Miles Apart, Close at Heart: Jauh di Mata, Dekat di Hati" yang diadakan di Museum Seni Rupa dan Keramik, Jakarta Barat, Jumat (11/7). — Sumber: ANTARA/Lia Wanadriani Santosa

Perjalanan di masa lalu itu kemudian digambarkan melalui sebuah pameran bertajuk "Miles Apart, Close at Heart: Jauh di Mata, Dekat di Hati" yang diadakan di Museum Seni Rupa dan Keramik, Jakarta Barat.

Berbagai artefak terkait Laksamana Cheng Ho, seperti diagram kapal harta karun, peta navigasi langit, peta maritim, cetakan batu Prasasti Kekaisaran Ming, serta koleksi porselen dan tembikar diperlihatkan di sana.

Kepala Dinas Kebudayaan Provinsi DKI Jakarta, Mochamad Miftahulloh Tamary menyampaikan, terdapat sekitar 50 koleksi unggulan dari Tiongkok dan Indonesia dipamerkan di sana.

Bagian awal pameran itu memuat kisah skala, ambisi, dan jalur pelayaran Cheng Ho.Sebuah ilustrasi dari Peta Panduan Ketinggian Bintang Penyeberangan Laut pun dihadirkan, menggambarkan metode navigasi astronomi yang digunakan Cheng Ho dalam pelayarannya.

Ada juga informasi terkait “Baocuan” yang berarti kapal pengangkut harta yang digunakan sang penjelajah. Kapal ini menjadi inti dan kapal utama armada, membawa hadiah kekaisaran, upeti dari negara lain, dan barang-barang langka hasil perdagangan luar negeri. Kapal harta terbesar diketahui bisa mencapai panjang hingga 126 meter dan lebar sekitar 51 meter.

Setelah mengenal alat dan kapal, pengunjung diajak mengenal sejauh mana armada Cheng Ho berjalar melalui peta rute pelayaran dari tujuh ekspedisi Cheng Ho ke Lautan Barat. Ekspedisi ketujuh adalah yang paling luas, melintasi Asia Tenggara, Asia Selatan, Asia Barat, dan bahkan sampai ke pesisir timur Afrika.

Bagian selanjutnya, yakni rute pelayaran dan fakta sejarah. Di sini, pengunjung dapat melihat peta topografi yang menunjukkan titik awal pelayaran Cheng Ho.

Catatan pelayaran ini juga diabadikan melalui serangkaian tulisan atau gambar dari prasasti yang disalin di atas kertas sesuai ukuran batu aslinya atau rubbing batu prasasti. Salah satu yang terbesar berukuran 2,5-3 meter yakni rubbing prasasti Kekaisaran Dinasti Ming untuk Kuil Dewi Laut Mazu, merupakan prasasti terbesar yang masih ada di Tiongkok untuk mengenang pelayaran Cheng Ho.

Setelah ekspedisi pertamanya, Kaisar memberikan gelar khusus kepada Dewi Laut Mazu sebagai pelindung dan memerintahkan pembangunan kuil. Setelah pelayaran keempat, Cheng Ho mengajukan pendirian prasasti ini di kuil sebagai penghormatan kepada Kaisar Taizu dan perlindungan ilahi Dewi Laut.

Catatan sejarah pelayatan Cheng Ho juga ditulis dalam buku-buku kuno. Yang paling terkenal adalah "Keajaiban Alam Laut" karya Ma Huan, penerjemah yang ikut bersama Cheng Ho dalam ekspedisi ke Lautan Barat. Buku ini menjadi dokumen berharga yang merinci kebiasaan dan pemandangan lebih dari dua puluh negara yang dikunjungi Ma secara langsung bersama Cheng Ho.

Sebagai penutup bagian ini, terdapat sebuah koleksi untuk memperingati 600 tahun pelayaran Cheng Ho, Biro Pos Tiongkok menerbitkan tiga set perangko dan sebuah lembaran suvenir.

Desainnya menampilkan potret Cheng Ho, adegan persahabatan dengan negara tetangga, ilustrasi navigasi ilmiah, serta gambar tema yang merayakan warisan pelayaran ini.

Beralih pada sudut lain pameran, terdapat koleksi keramik Dinasti Tang, kemudian porselen biru-putih yang dibuat di kilang Jingdezhen pada masa Wanli, Dinasti Ming.

Porselen motif biru-putih dengan pengaruh Islam mencerminkan budaya yang dibawa pulang Cheng Ho dan diterima luas oleh perajin Tiongkok. Ini menjadi bukti nyata pelayaran tersebut meninggalkan jejak mendalam dalam seni lintas zaman.

Di sisi lain, pengunjung disuguhkan patung-patung dari masa Kerajaan Majapahit, yang menjalin hubungan diplomatik dengan Dinasti Ming.

Pameran juga menggambarkan hubungan Tiongkok dan Indonesia yang terjalin hingga saat ini, melanjutkan warisan Cheng Ho. Indonesia adalah salah satu mitra pengiriman dan perdagangan utama Tiongkok di Asean.

Perayaan 620 tahun pelayaran pertama Cheng Ho

Pameran "Jauh di Mata, Dekat di Hati" menandai berbagai peristiwa bersejarah bagi Indonesia dan Tiongkok, termasuk perayaan 620 tahun pelayaran pertama Cheng Ho, yakni pada tahun 1405.

Lalu, 75 tahun hubungan diplomatik antara Tiongkok dan Indonesia, 70 tahun Konferensi Asia-Afrika di Bandung, dan 5 tahun hubungan sister city atau kota kembar Shanghai-Jakarta.

Wakil Gubernur Jakarta, Rano Karno berpendapat pelayaran Cheng Ho merupakan simbol perdamaian dan keterbukaan. Nilai-nilai tersebut yang kemudian diangkat dan dirayakan dalam pameran tersebut.

Karena itu, pameran "Jauh di Mata, Dekat di Hati" bukan sekadar pameran seni, tetapi juga refleksi dari warisan sejarah dan semangat persahabatan yang terus menyatukan Indonesia dan Tiongkok.

Ini pun diamini President of Shanghai Art Collection Museum, Hu Muqing. Menurutnya, dalam pelayarannya ke Indonesia, Cheng Ho membawa nilai-nilai peradaban lainnya seperti perdamaian, saling percaya yang menjadi fondasi kuat bagi hubungan persahabatan jangka panjang antara Tiongkok dan Indonesia.

Pameran dibuka sejak 11 Juli lalu dan dijadwalkan berlangsung hingga 11 Agustus 2025, merupakan hasil kolaborasi antara Dinas Kebudayaan DKI Jakarta melalui Unit Pengelola Museum seni dengan Shanghai Art Collection Museum.

Kepala Dinas Kebudayaan Provinsi DKI Jakarta, Mochamad Miftahulloh Tamary menyampaikan kemitraan antara Shanghai dan Indonesia tidak hanya bertujuan untuk menyuguhkan koleksi yang luar biasa, tetapi juga untuk mendorong pemahaman lintas budaya yang lebih dalam serta mempererat hubungan jangka panjang antara Indonesia dan Tiongkok.

Mari menyelami sejenak seperti apa dialog lintas waktu dan ruang dalam rangka merayakan persahabatan antara Tiongkok dan dan Indonesia melalui warisan pelayaran bersejarah Cheng Ho. Ant

  • Pameran Cheng ho

Redaktur: Redaksi Koran Jakarta

Penulis: Opik

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.