Perubahan Iklim Pengaruhi Keberlangsungan Produksi Kopi
Senin, 30 Jun 2025, 22:35 WIBJAKARTA â Perubahan iklim telah mempengaruhi keberlangsungan produksi kopi, menurut Direktur Beragam, sebuah perusahaan dalam industri kopi, Nur Jamila.
âPerubahan iklim yang mengubah musim panen, hama yang semakin suit dikendalikan, dan yang paling mengkhawatirkan, semakin sedikit anak muda yang memilih jalan sebagai petani,â kata Jamila dalam temu media di Jakarta, Senin malam.
Jamila menekankan saat ini semua pihak yang terlibat dalam industri kopi khususnya di Indonesia perlu membangun kesiapan baik dari peningkatan kemampuan petani sampai dengan menjaga kualitas biji kopi.
Hal tersebut dapat dicapai apabila melakukan adaptasi yang tepat seperti melalui program pelatihan yang relevan, praktik agroforestri atau praktik pengelolaan lahan yang mengintegrasikan komponen kehutanan dengan pertanian dalam satu unit pengelolaan untuk mencapai keseimbangan ekologi, ekonomi, dan sosial yang berkelanjutan.
Upaya lainnya yang bisa dilakukan yakni menjaga ekosistem industri kopi dan memberikan dukungan yang diturunkan lintas generasi.
âSemua itu hanya bisa bertahan kalau kita juga menaruh perhatian yang sama besar ke hulu,â ujar Jamila.
Jamila turut menekankan pengaruh perubahan iklim yang semakin nyata seharusnya dapat menjadi momentum perubahan supaya para petani kopi tidak merasa ditinggalkan dan bumi dapat terjaga serta lestari.
âHal ini juga difokuskan supaya perjalanan kita di hilir, tetap bisa dirayakan, tanpa mengorbankan masa depan,â kata dia menambahkan.
Wakil Direktur Bisnis dan Operasional TUKU M. Septiansyah, yang akrab disapa Jaka, menjelaskan terkait tren kopi yang sedang berkembang di Indonesia saat ini.
Tren penjualan kopi susu dan gula aren sedang berkembang dengan baik. Dalam data penjualan TUKU untuk 2024, merek tersebut telah menjual rata-rata 78 ribu gelas produk Kopi Susu Tetangga (KST) per hari atau setara dengan 17 juta mililiter.
âCabang kafe terus berkembang, bahkan kopi dalam bentuk pods pun sedang naik daun,â ucap Jaka.
Di sisi lain, konsumen mulai cermat dalam memperhatikan kualitas serta pengalaman yang bisa didapatkan dari kopi yang diminum. Misalnya, mereka mulai mencari kopi dari letak geografis, cara seduh manual, meminum kopi yang rendah gula sampai dengan mencari jenis kopi yang cocok dengan gaya hidup sehat.
Oleh karena itu, Jaka setuju jika menjaga ekosistem industri kopi dari hulu ke hilir merupakan hal yang sangat penting, terutama dalam menjaga keberlanjutan bagi generasi selanjutnya.
âJadi, kalau dulu kita hanya bicara tentang kopi enak, sekarang kita bicara lebih kepada kopi yang jujur, relevan dan bertanggung jawab,â ujar Jaka.
Redaktur: Bambang Wijanarko
Penulis: Antara
Berita Terkait:
-
Presiden Prabowo Terbang ke Rusia, Agendakan Pertemuan Khusus dengan Vladimir Putin
-
Banjir Bandang Aceh Tengah Hantam Lagi, 2 Jembatan Ambruk dan Desa Terisolasi
-
Polres Malang Tetapkan Empat Tersangka Pelaku Kekerasan Terhadap Wisatawan Surabaya di Pantai Wedi Awu
-
BI Percaya Diri, Inflasi 2026–2027 Tetap Jinak di Kisaran Target
-
Tiket Kereta Final Piala Dunia Tembus 2,4 Juta Rupiah, Fans Sebut “Tidak Masuk Akal”
-
Asik, Kini Ratusan Pramuwisata Kalbar Terima Tip via QRIS GoPay Merchant
-
Badan Pegal-pegal dan Otot Tak Seimbang? Ini 4 Kebiasaan yang Harus Anda Perbaiki
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.