Kutu Bisa Picu Sejumlah Penyakit, Kenali Cara Mencegahnya
📅 Minggu, 29 Jun 2025, 19:34 WIB | Oleh: Opik
Doc: ANTARA/Shutterstock-Lightspring
JAKARTA - Hewan kecil seperti kutu melalui gigitannya bisa menjadi pemicu sejumlah penyakit. Kutu menularkan penyakit kepada manusia dengan cara menghisap darah hewan yang terinfeksi dan membawa bakteri, virus, atau parasit penyebab penyakit, saat mereka menghisap darah korban berikutnya, mereka dapat menyuntikkan patogen ke inang baru.
Sebagaimana melansir laporan Health pada Sabtu (28/6), di Amerika Serikat, setidaknya ada 17 jenis penyakit yang ditularkan kepada manusia oleh berbagai spesies kutu. Penyakit yang paling umum akibat gigitan kutu—yang mencakup hampir 80 persen dari semua kasus—adalah penyakit Lyme, infeksi bakteri yang dapat menyebabkan kelelahan, sakit kepala, dan ruam kulit.
Tak hanya itu, gigitan kutu juga bisa menyebabkan penyakit lain yang kurang dikenal antara lain babesiosis merupakan penyakit parasit yang menginfeksi sel darah merah dan tularemia berupa penyakit bakteri yang berpotensi serius, tetapi dapat diobati dengan antibiotik.
Kemudian, anaplasmosis berupa infeksi bakteri yang menyebabkan gejala seperti flu dan sindrom Apha-gal yaitu alergi langka terhadap daging merah yang berkembang setelah digigit kutu.
Persentase kutu yang membawa patogen berkisar antara 0 hingga 50 persen dan sangat bergantung pada lokasi geografis. Sebagai contoh, kutu kaki hitam (black-legged tick) yang banyak ditemukan di wilayah tenggara AS jarang membawa infeksi.
Sebaiknya Anda baca juga:
Beberapa patogen, seperti virus Powassan, dapat ditularkan hanya dalam waktu 15 menit setelah kutu menempel. Sebaliknya, untuk menularkan penyakit Lyme, kutu perlu menempel selama beberapa jam—bahkan dalam beberapa kasus, lebih dari 24 jam.
Dokter penyakit menular pediatrik dan anggota Dewan Penasihat Ilmiah untuk Bay Area Lyme Foundation, Charlotte Mao, MD mengatakan kutu tidak terbang atau melompat, namun mereka menempel di vegetasi dengan kaki belakang dan menjulurkan kaki depannya, menunggu inangnya (seperti manusia atau hewan) lewat untuk menghampiri.
"Ketika hal itu terjadi, mereka berpindah ke inang-misalnya, Anda atau anjing Anda. Kemudian kutu merangkak dan memanjat ke lokasi yang berbeda pada tubuh untuk akhirnya menempel dan menggigit," kata Mao.
Sebaiknya Anda baca juga:
Kutu dapat bersembunyi di seluruh tubuh, seperti di dada, bahu, pergelangan kaki, pergelangan tangan, dan kaki. Namun, kutu sering kali lebih menyukai area tubuh yang hangat, di mana terdapat lipatan kulit atau tempat pakaian menempel pada kulit.
Menurut sebuah survei dari tahun 2020, dari 722 kutu rusa yang menempel pada manusia, sebagian besar dari mereka, sekitar 16 persen ditemukan di paha, diikuti oleh sekitar pinggang, perut, dan selangkangan.
Kemudian delapan titik lainnya adalah sepanjang punggung atas, kulit kepala, betis dan tulang kering, sepanjang lengan atas, belakang lutut, ketiak, sepanjang leher hingga sekitar punggung bawah.
Pada anak-anak, kutu cenderung menggigit di sekitar kepala dan leher. Hal ini lantaran, kata Mao, anak-anak lebih cenderung bermain dan berguling-guling di atas rumput dan kepala mereka lebih dekat dengan ketinggian vegetasi tempat kutu menunggu.
Kutu lone star, yang berada di bagian timur, tenggara, dan selatan-tengah AS dan dapat menularkan kuman seperti ehrlichiosis dan penyakit virus Heartland (tetapi bukan penyakit Lyme), bersifat agresif dan cenderung menggigit dengan cepat di bagian bawah tubuh, seperti kaki, paha, atau area selangkangan.
Kutu anjing, lanjut Mao, yang dapat menularkan penyakit seperti anaplasmosis dan babesiosis dan biasanya ditemukan di sebelah timur Pegunungan Rocky, cenderung memanjat ke atas dan menggigit bagian kepala atau leher.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!