- Home
-
- Luar Negeri
-
- Iran Siap Melanjutkan Pemb...
Iran Siap Melanjutkan Pembicaraan Nuklir Meski Kritik Presiden AS Masih Menggantung
Minggu, 29 Jun 2025, 19:25 WIBJAKARTA - Iran menyatakan kesiapannya untuk kembali ke meja perundingan nuklir dengan Amerika Serikat, namun menuntut perubahan sikap dan retorika dari Presiden AS Donald Trump. Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, menekankan bahwa Trump perlu meninggalkan nada tidak hormat terhadap Pemimpin Tertinggi Iran, Ali Khamenei, dan berhenti menyakiti jutaan pengikut setianya.
âIa harus mengesampingkan nada tidak sopan dan tidak bisa diterima terhadap Pemimpin Tertinggi dan berhenti menyakiti jutaan pengikut setianya,â tegas Araghchi.
Pernyataan keras Araghchi muncul setelah Trump mengklaim bahwa pembicaraan nuklir baru akan dimulai dalam waktu dekat, namun tanpa menyebutkan waktu atau tempat pasti. Menanggapi itu, Araghchi membantah keras bahwa telah ada kesepakatan atau rencana resmi terkait negosiasi baru.
âSaya katakan secara eksplisit bahwa tidak ada kesepakatan, pengaturan, atau pembahasan yang terjadi terkait dimulainya negosiasi baru,â ujarnya.
Situasi ini dipicu oleh pembatalan putaran keenam negosiasi yang seharusnya berlangsung di Amman pada pertengahan Juni. Penundaan itu terjadi setelah fasilitas nuklir Iran mengalami serangan udara yang diduga dilakukan oleh Israel dan Amerika Serikat. Araghchi menyebut serangan tersebut menimbulkan kerusakan signifikan, tetapi tidak menghentikan niat Iran untuk tetap membuka jalur diplomatik di masa depan.
Sementara itu, negara-negara Eropa secara kolektif mendesak Iran untuk kembali ke meja perundingan tanpa prasyarat. Namun, Iran menyatakan bahwa prioritas saat ini adalah menangani agresi Israel, sehingga negosiasi belum memungkinkan untuk dimulai selama situasi konflik masih berlangsung. Menurut Iran, dialog hanya dapat berjalan jika kekerasan dihentikan dan AS menunjukkan itikad baik.
Kepala Badan Energi Atom Internasional (IAEA), Rafael Grossi, turut angkat bicara dan memperingatkan bahwa Iran memiliki kapasitas untuk melanjutkan pengayaan uranium hanya dalam hitungan bulan, meski program sempat terganggu akibat serangan.
âPengetahuan dan teknologi yang telah mereka capai tidak bisa dihapus begitu saja,â kata Grossi, menegaskan bahwa ancaman nuklir tetap nyata meski ada gangguan eksternal.
Di sisi lain, eskalasi militer terus membayangi. Setelah serangan yang dilakukan oleh AS dan Israel, Iran membalas dengan meluncurkan rudal dan drone ke wilayah Israel, meningkatkan kekhawatiran akan meluasnya konflik. Seruan dari PBB dan Uni Eropa pun menggema, mendesak semua pihak untuk menahan diri dan kembali menempuh jalur diplomatik demi menghindari perang besar.
Dengan latar ketegangan militer dan retorika politik yang masih tinggi, peluang pembicaraan formal tetap ada namun belum menemui kepastian. Iran menunjukkan keterbukaan untuk berdialog, tetapi hanya jika prasyarat mereka, terutama penghentian agresi dan perubahan sikap dari AS dipenuhi. Ruang diplomasi masih terbuka, namun jalan menuju kesepakatan jelas penuh rintangan.
- Donald Trump
- Amerika Serikat
- Perang Iran-Israel
Redaktur: Redaksi Koran Jakarta
Penulis: Paundra Zakirulloh
Berita Terkait:
-
Harga Bawang Putih di 248 Daerah Naik, Bapanas Minta Pemda Bereskan Akurasi Pengawasan
-
Bencana Longsor Memutus Akses Jalan di Nagano, Jepang. Ratusan Orang Terisolasi
-
Jutaan Orang Ramai-ramai Ingin Pindak ke Amerika, Ada Apa?
-
Pendaftaran Beasiswa JAPFA Untuk Anak Negeri Cohort 2026 Resmi Dibuka.
-
Trump Izinkan Perusahaan Swasta AS Jalankan Serangan Siber terhadap Organisasi Kriminal Asing
-
Pemerintah Kota Tangerang Ajak Masyarakat Edukasi Kesehatan lewat Lomba Video
-
KP2MI Targetkan 500 Ribu Talenta Lewat Program SMK Go Global hingga 2029
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.