Kota Jambi Kembangkan Urban Farming Terintegrasi Lewat Semai Agrobiopori.
Selasa, 08 Sep 2026, 05:00 WIBDinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kota Jambi menginisiasi program urban farming terintegrasi melalui semai agrobiopori atau pemanfaatan Lubang Resapan Biopori (LRB) sebagai strategi untuk memperkuat ketahanan pangan, sekaligus meningkatkan kualitas lingkungan perkotaan.
Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kota Jambi Evridal Asri di Jambi, Senin, mengatakan program itu hadir sebagai respons terhadap peningkatan kebutuhan pangan dan sebagai tantangan pengelolaan lingkungan di wilayah perkotaan setempat.
Hal itu disampaikan pada Rakor PM ASS dan Sosialisasi Pengembangan Pertanian Perkotaan (Urban Farming) Semai Agrobiopori, sekaligus  penyerahan alsintan kepada kelompok tani serta penandatanganan perjanjian implementasi Agrobiopori antar Dinas Pertanian itu dengan Fakultas Pertanian Universitas Jambi.
Evridal mengatakan, Kota Jambi memiliki jumlah penduduk sekitar 654.194 jiwa dengan kebutuhan pangan yang terus meningkat.
Daerah tersebut memiliki sekitar 1.332,60 hektare lahan yang terdiri atas 376,5 hektare ruang terbuka hijau dan 956,10 hektare lahan pertanian perkotaan.
"Potensi lahan perkotaan, pekarangan, dan ruang terbuka yang ada perlu dioptimalkan untuk mendukung ketahanan pangan masyarakat," katanya.
Kemudian Kota Jambi juga menghadapi tantangan pengelolaan sampah dengan produksi sekitar 445,78 ton per hari, katanya.
Kondisi tersebut sekaligus menjadi peluang untuk mengolah sampah organik menjadi kompos yang dapat dimanfaatkan dalam kegiatan pertanian.
"Pengelolaan sampah organik diintegrasikan dengan peningkatan kualitas tanah, konservasi lingkungan, dan pengembangan urban farming melalui semai Agrobiopori," kata Elvridal.
Menurut dia, program tersebut juga mendorong pemberdayaan masyarakat serta kolaborasi lintas sektor sehingga pengembangan pertanian perkotaan dapat berjalan lebih lebih efektif, adaptif, dan berkelanjutan.
Pihaknya berharap program itu dapat meningkatkan ketahanan pangan masyarakat, memperbaiki kualitas lingkungan, serta meningkatkan partisipasi masyarakat dalam pengelolaan sumber daya lokal.
"Kami ingin ke depan membangun model urban farming berbasis teknologi agrobiopori yang inovatif dan dapat direplikasi," kata dia.
Sementara Wali Kota Jambi Maulana mengatakan Pemerintah Kota Jambi mengembangkan urban farming berbasis agrobiopori dengan mengoptimalkan lahan terbatas, pekarangan, dan lahan tidur untuk budidaya sayuran, cabai, serta tanaman pangan melalui teknologi polybag dan hidroponik.
Kemudian mengolah sampah organik menjadi kompos dan memanfaatkan lubang biopori untuk konservasi air.
Program tersebut, kata dia, diharapkan mampu memperkuat ketahanan pangan, meningkatkan kualitas lingkungan, memberdayakan masyarakat, serta menjawab isu persampahan, lingkungan, dan perubahan iklim melalui kolaborasi lintas sektor menuju Kota Jambi yang lebih tangguh dan berkelanjutan.
- Urban Farming
Redaktur: Yebdi Trismar
Penulis: Yebdi Trismar
Berita Terkait:
-
Pertamina EP Catat Produksi Sumur Pengembangan Salawati di Papua 623 BOPD
-
Buka Puluhan Ribu Lowongan Luar Negeri, Program SMK Go Global 2026 Siap Diserbu Pendaftar!
-
Pemkab Pamekasan Terjunkan Tim Pemantau, Cegah Penyalahgunaan BBM Bersubsidi bagi Nelayan
-
Urban Farming Hapus Citra Bertani Itu Kotor
-
Bazar urban farming Jakarta Selatan
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.