Atletico Madrid Harus Merenungi Kegagalan di Piala Dunia Antarklub

Rabu, 25 Jun 2025, 09:10 WIB

PASADENA, AMERIKA SERIKAT – Tak lagi bisa bersembunyi di balik alasan. Satu kalimat dari Antoine Griezmann merangkum kekecewaan Atletico Madrid usai tersingkir dari Piala Dunia Antarklub.

“Kami harus melihat ke dalam diri sendiri dan menyadari bahwa ada saat-saat di mana kami belum berada di level yang seharusnya. Itu yang harus kami perbaiki,” tegas penyerang Prancis itu.

Ket. Foto: Antoine Griezmann — Sumber: AFP

Gol tunggal Griezmann membawa Atletico menang 1-0 atas Botafogo pada laga terakhir fase grup. Namun, kemenangan itu tak cukup. Wakil Brasil itu tetap melaju ke babak 16 besar berkat keunggulan selisih gol. Atletico pulang dengan enam poin dari tiga pertandingan—dan rasa frustrasi yang membekas.

Musim tanpa gelar kembali menjadi kenyataan. Kekalahan kontroversial dari Real Madrid di Liga Champions—akibat penalti dua sentuhan Julian Alvarez—masih membekas. Atletico juga gagal mempertahankan posisi puncak di La Liga setelah libur Natal dan tersingkir di semifinal Copa del Rey oleh Barcelona.

“Kami terus berusaha memperbaiki diri agar bisa bersaing dengan tim-tim terbaik, dan kami juga harus menerima kenyataan di mana posisi kami sekarang,” ujar Diego Simeone.

Namun faktanya, Atletico yang pernah menjuarai La Liga pada tahun 2014 dan 2021, serta dua kali menjadi finalis Liga Champions (2014 dan 2016), kini terlihat semakin jauh dari panggung elite.

Beberapa pemain menyadari hal itu. Griezmann dan kiper Jan Oblak, misalnya. Tapi tidak semua memiliki kesadaran yang sama. “Kami akan terus mengganggu para raksasa,” ujar Marcos Llorente dengan nada optimistis usai tersingkir di Pasadena.

Kekecewaan juga diarahkan ke wasit. Atletico merasa dirugikan karena dua peluang penalti yang tak digubris. “Saya belum pernah melihat yang seperti ini. Seharusnya kami dapat dua penalti,” keluh Giuliano Simeone, putra sang pelatih.

Tetapi kekalahan telak 0-4 dari PSG pada laga pembuka fase grup menjadi titik balik. Selain menggagalkan peluang lolos, hasil itu menelanjangi seberapa jauh jarak Atletico dari level tertinggi sepak bola dunia.

Simeone, pelatih legendaris yang sudah menangani tim sejak 2011, mulai mendapat sorotan. Trofi terakhir mereka datang empat tahun lalu, dan sejumlah suara mulai mempertanyakan apakah ia masih sosok yang tepat untuk memimpin regenerasi skuad.

“Saya kecewa kami tersingkir. Enam poin dari tiga laga, dua kemenangan, tapi tetap tak cukup,” ucap Simeone.

Di media Spanyol, nama mantan bek Atletico, Filipe Luis—kini melatih Flamengo yang lolos ke babak 16 besar—mulai dikaitkan sebagai calon pengganti.

“Mereka menjalani musim yang panjang. Semoga musim depan lebih baik,” kata Sergio Aguero, mantan bintang Atletico. Tapi sebagian fans mulai kehilangan harapan.

Griezmann, yang baru memperpanjang kontrak musim panas lalu dan mengakhiri paceklik gol 18 pertandingan saat lawan Botafogo, mengakui masalah utama ada di internal.

“Butuh kerja keras. Masalah ini lebih dalam dan berasal dari dalam tim sendiri, bukan karena wasit,” katanya.

“Kami harus fokus pada apa yang perlu diperbaiki, dan mencari tahu apa yang harus dilakukan agar bisa memenangkan pertandingan-pertandingan seperti ini.”

Redaktur: Aloysius Widiyatmaka

Penulis: AFP, Benny Mudesta Putra

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.