Kanada dan Uni Eropa Teken Pakta Pertahanan Baru di Tengah Kekhawatiran atas Komitmen AS

Selasa, 24 Jun 2025, 15:45 WIB

JAKARTA - Kanada dan Uni Eropa menandatangani perjanjian kerja sama pertahanan dan keamanan baru pada 23 Juni 2025, di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik global dan keraguan atas keandalan Amerika Serikat di bawah kepemimpinan Presiden Donald Trump. Kesepakatan ini diumumkan usai pertemuan antara Perdana Menteri Kanada Mark Carney, Presiden Komisi Eropa Ursula von der Leyen, dan Presiden Dewan Eropa Antonio Costa di Brussels.

Meski NATO tetap menjadi pilar utama pertahanan kolektif negara-negara Barat, pakta ini bertujuan untuk memperkuat kesiapan militer kedua pihak serta membuka jalur investasi strategis lintas Atlantik. "Kemitraan ini akan memungkinkan kita untuk berinvestasi lebih banyak dan lebih cerdas," ujar Costa dalam konferensi pers, seraya menyebut bahwa kesepakatan tersebut juga menciptakan peluang baru bagi industri pertahanan di kedua wilayah.

Ket. Foto: Perdana Menteri Kanada Mark Carney (kiri), Presiden Dewan Eropa Antonio Costa (tengah), dan Presiden Komisi Eropa Ursula von der Leyen (kanan). — Sumber: Brussels Signal

Pakta ini mencerminkan upaya Eropa dan Kanada untuk mengurangi ketergantungan terhadap Amerika Serikat dalam urusan keamanan. Ketegangan dengan Washington meningkat sejak Trump kembali menjabat, terutama setelah pernyataannya yang kontroversial bahwa Kanada sebaiknya menjadi negara bagian ke-51 AS, serta kebijakannya yang memberlakukan tarif dagang atas produk Kanada.

Sejalan dengan itu, pada KTT NATO yang berlangsung di Den Haag mulai 24 Juni, Kanada dan 23 dari 27 negara Uni Eropa akan menandatangani komitmen peningkatan belanja pertahanan hingga 5% dari Produk Domestik Bruto (PDB). Langkah ini dinilai penting untuk memuaskan tuntutan Trump dan membuktikan keseriusan sekutu NATO dalam menghadapi ancaman Rusia.

Untuk saat ini, Kanada belum memenuhi target belanja pertahanan NATO sebesar 2%, dengan hanya mengalokasikan 1,4% dari PDB pada 2024. Sebagian besar peralatan militernya masih diimpor dari Amerika Serikat. Namun, melalui kesepakatan dengan Uni Eropa, Ottawa berpeluang masuk dalam program pengadaan umum Eropa senilai €150 miliar yang bertujuan memperkuat industri pertahanan internal.

Pakta baru ini juga memungkinkan perusahaan Kanada untuk ikut serta dalam proyek pertahanan Eropa, meskipun diperlukan perjanjian tambahan. Uni Eropa menyatakan bahwa kerja sama akan meliputi manajemen krisis, industri pertahanan, ancaman hibrida, dan mobilitas militer.

Menanggapi kesepakatan ini, Carney menyebutnya sebagai langkah penting untuk mempercepat pengembangan kapasitas militer Kanada.

"Kami mengandalkan sekutu yang paling bisa dipercaya, yang memiliki nilai-nilai demokrasi dan kebebasan yang sama," ujarnya.

Selain Uni Eropa, Inggris dan Australia juga telah atau sedang merundingkan kemitraan pertahanan serupa. Uni Eropa tampaknya ingin memperluas jejaring strategisnya di luar NATO, khususnya saat ketidakpastian menyelimuti kebijakan luar negeri AS.

Di sisi ekonomi, UE merupakan mitra dagang terbesar kedua bagi Kanada. Nilai perdagangan barang kedua pihak mencapai €75,6 miliar pada 2024, meningkat 64% sejak penerapan sementara perjanjian perdagangan bebas pada 2017.

Pada hari yang sama, Carney juga mengatakan bahwa Kanada dan AS sedang menjajaki kesepakatan ekonomi dan pertahanan baru, tetapi menegaskan belum ada hasil yang pasti. Ia menyebut bahwa kedua negara sepakat untuk menyelesaikan pembicaraan dalam waktu 30 hari, namun hanya akan menyepakati perjanjian yang benar-benar menguntungkan Kanada.

Sementara itu, Kanselir Jerman Friedrich Merz mendesak agar Brussels mempercepat pembicaraan perdagangan dengan Washington. Ia mengkritik pendekatan Uni Eropa yang dinilai terlalu rumit, dan mendorong keputusan cepat dalam sektor-sektor industri strategis.

Kesepakatan antara Kanada dan Uni Eropa ini menjadi sinyal kuat bahwa negara-negara sekutu Barat tengah menyusun ulang arsitektur keamanan dan ekonominya, dengan mengantisipasi perubahan besar dalam kepemimpinan global dan meningkatnya konflik internasional.

Redaktur: Lili Lestari

Penulis: Paundra Zakirulloh

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.