Bank Dunia Prediksi Pertumbuhan Ekonomi Indonesia 4,9% pada 2025

Selasa, 24 Jun 2025, 01:00 WIB

Jakarta – Ekonomi Indonesia terus menunjukkan resiliensi di tengah ketidakpastian global yang membayangi. Berbagai tantangan, mulai dari fluktuasi harga komoditas, tekanan inflasi, hingga gejolak geopolitik, telah menjadi latar belakang yang kompleks bagi pertumbuhan ekonomi nasional. Meski demikian, sejumlah indikator menunjukkan bahwa Indonesia masih memiliki fondasi yang cukup kuat untuk menghadapi dinamika ini.

Direktur Divisi Bank Dunia untuk Indonesia dan Timor Leste Carolyn Turk menyatakan ekonomi Indonesia tumbuh sebesar 4,9 persen secara tahunan pada kuartal pertama 2025, meskipun kondisi global sedang tidak menentu. Upaya-upaya itu dinilai mampu mengelola penurunan belanja pemerintah dan memitigasi melambatnya investasi.

Ket. Foto: — Sumber: Sumber: BPS - Koran Jakarta /ones/and

"Performa ekonomi Indonesia saat ini mencerminkan fondasi yang kuat dan respons kebijakan yang baik," kata dia saat peluncuran Indonesia Economic Prospects di Jakarta, Senin (23/6).

Seperti dikutip dari Antara, Carolyn menyampaikan pertumbuhan ekonomi ini paling terasa manfaatnya bagi kelompok masyarakat berpenghasilan rendah, namun masih kurang terasa bagi kelompok kelas menengah sebagaimana tercermin dari pertumbuhan konsumsi yang lebih lambat bagi calon rumah tangga di kelompok tersebut.

Dalam laporan pihaknya, memperkirakan ekonomi Indonesia akan tumbuh rata-rata 4,8 persen per tahun selama periode 2025-2027.

Menanggapi hal itu, Anthony BudiawanManaging Director PEPS (Political Economy and Policy Studies) menilai angka 4,9 itu tidak sesuai dengan kenyataan di lapangan.

"Saya berpendapat pertumbuhan ekonomi versi BPS mencurigakan, ada markup,"tegas Anthony.

Anthony menilai memang ada dugaan fabrikasi data di BPS sejak lama khususnya rezim sebelumnya, tidak sesuai dengan kondisi riil

Manipulasi Statistik

Ketidakpercayaan terhadap data ekonomi Indonesia juga disampaikan oleh para ekonom luar negeri, antara lain Gareth Leather dari Capital Economics yang berbasis di London dan Trinh Nguyen dari lembaga keuangan yang berbasis di Hong Kong. Keduanya secara gamblang mengatakan tidak percaya dengan data ekonomi Indonesia. Karena, menurut pengamatan internal mereka, data ekonomi bulanan Indonesia sejak 2015 terus melemah.

‘Fabrikasi’ data ekonomi sebenarnya sangat mudah dilakukan. Ekonomi terdiri dari nilai nominal dan nilai riil. Nilai nominal berdasarkan nilai transaksi (atas harga yang berlaku saat transaksi). Nilai riil berdasarkan nilai transaksi atas harga konstan, yaitu bebas dari kenaikan harga (dalam ekonomi dikenal dengan nama deflator). Pertumbuhan ekonomi dihitung berdasarkan nilai riil. Konversi dari nilai nominal menjadi nilai riil dilakukan dengan menghilangkan faktor kenaikan harga, menggunakan angka deflator.

Dengan demikian, ‘fabrikasi’ pertumbuhan ekonomi cukup dilakukan dengan cara memanipulasi kedua hal tersebut: nilai nominal dan angka deflator untuk dapat memperoleh pertumbuhan ekonomi sesuai target yang diinginkan.

Lebih lanjut, Anthony menjelaskan, manipulasi data statistik ekonomi bukan hal baru. Banyak negara di dunia diperkirakan melakukan manipulasi terhadap data ekonominya, antara lain Argentina, Turki, Yunani, Itali, Tiongkok dan lainnya.

‘Fabrikasi’ data ekonomi yang terjadi selama ini akan pengaruhi data ekonomi dan pertumbuhan ekonomi ke depan. Mungkin saja, ‘fabrikasi pertumbuhan ekonomi Indonesia saat ini terlalu tinggi sekitar 2 persen, sehingga pertumbuhan ekonomi sebenarnya hanya sekitar 3 persen. "Kalau margin error 0,5 persen artinya pertumbuhan ekonomi saat ini hanya 2,5 persen sampai 3,5 persen saja. Dalam hal ini, angan-angan pertumbuhan ekonomi 8 persen, dari basis 3 persen, bisa-bisa hanya menjadi angan-angan saja,"sebut Anthony.

Redaktur: Andreas Tanjung

Penulis: Erik, Fredrikus Wolgabrink Sabini, Selocahyo Basoeki Utomo S

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.