Masih Andalkan Energi Kotor? RI Rawan Tersandera Konflik Global!
Jumat, 20 Jun 2025, 00:00 WIBJAKARTA â Indonesia harus meninggalkan energi fosil dan secepatnya beralih ke energi hijau demi menghindari kerentanan akibat gejolak geopolitik. Saat ini misalnya akibat perang Israel-Iran harga minyak di pasar internasional melonjak.
Pengamat Energi Institute for Essential Services Reform (IESR), Fabby Tumiwa mengatakan salah satu dampak perang Israel - Iran adalah kemungkinan terdampaknya produksi dan transportasi minyak dan gas di Timur Tengah. Dia menambahkan ada tiga faktor yang bisa mendorong harga minyak melejit, pertama serangan ke infrastruktur minyak dan gas bumi (Migas), misalnya pemurnian, kilang dan fasilitas produksi migas.
Kedua, keputusan Iran untuk menghentikan produksi minyak sementara waktu akan mengganggu keseimbangan demand-supply minyak. Saat ini, Iran menjadi produsen terbesar ke-4 minyak mentah di organisasi negara eksportir minyak (OPEC) dengan produksi 3,3 juta barrel per day (bpd) atau 3-4 persen dari total produksi minyak dunia dan mengekspor 1,6-2 juta bpd.
Ketiga, Iran menutup selat Hormuz, yang merupakan jalur 20-30 persen pasokan minyak dan 20 persen gas dunia. Kalau Iran menutup Selat Hormuz, harga minyak diperkirakan bisa melonjak hingga 150 dollar AS per barrel.
"Risiko-risiko ini harus diwaspadai pemerintah karena kenaikan harga minyak akan meningkatkan subsidi dan risiko inflasi yang akan menekan daya beli masyarakat dan menurunkan pertumbuhan ekonomi," tegas Fabby
Karenanya, menurut Fabby, pemerintah harus berusaha keras, menurunkan kebergantungan pada minyak dengan cara mengakselerasi elektrifikasi kendaraan penumpang dan motor. "Walaupun dampaknya tidak langsung terasa tapi dalam jangka menengah kita bisa mengendalikan laju permintaan BBM (bahan bakar minyak) dan risiko fluktuasi harga BBM terhadap daya beli masyarakat,"ucapnya
Industri Hijau
Merespons perang Iran-Israel, Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita mendorong industri dalam negeri tak hanya menggunakan energi secara efisien, tetapi juga mendiversifikasi sumber energi yang digunakan dalam produksi. "Hal ini menjadi krusial mengingat ketergantungan pada energi fosil impor, terutama yang berasal dari kawasan Timur Tengah, semakin berisiko di tengah konflik geopolitik yang berkepanjangan,"ucap Menperin.
Menteri Agus menegaskan, industri nasional harus mulai mengandalkan sumber energi domestik, termasuk energi baru dan terbarukan seperti bioenergi, panas bumi, serta memanfaatkan limbah industri sebagai bahan bakar alternatif.
Bahkan, Kemenperin terus mendorong agar sektor manufaktur dapat menghasilkan produk-produk yang mendukung program ketahanan energi nasional, seperti mesin pembangkit, infrastruktur energi, dan komponen pendukung energi terbarukan.
Diketahui, dampak langsung konflik Iran-Israel paling terlihat di pasar energi, di mana peran Timur Tengah sebagai penghasil minyak utama yang menyumbang hampir 30 persen produksi global membuat pasar waspada. Gangguan pada produksi energi Iran yang produksinya mencapai 3,2 juta barel per hari akan memicu gangguan pasokan sekaligus memicu fluktuasi harga energi dipasar internasional.
Tercatat, harga minyak mentah jenis Brent North Sea terfluktuasi antara 73-92 dollar AS per barel pasca perang Iran-Israel, dengan analis memperingatkan potensi kenaikan 15-20 persen pada 2025. Volatillitas harga energi dunia ini juga semakin tinggi seiring dengan munculnya ancaman penutupan selat Hormuz yang telah menjadi urat nadi jalur pasokan energi dunia.
Redaktur: Muchamad Ismail
Penulis: Erik, Fredrikus Wolgabrink Sabini
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.