- Home
-
- Luar Negeri
-
- Gelombang Panas Laut Menye...
Gelombang Panas Laut Menyebar Global
Rabu, 18 Jun 2025, 01:00 WIBSILVER SPRING â Para ahli baru-baru ini melaporkan bahwa dalam beberapa dekade terakhir, lautan telah menghangat secara signifikan. Gelombang panas laut, yang dulunya langka, kini menjadi lebih sering terjadi.
Salah satu peristiwa paling intens dikenal sebagai "The Blob," yang berlangsung selama bertahun-tahun dan merusak populasi plankton. Dampaknya sangat parah, menyebabkan jutaan ikan dan burung laut kelaparan, serta mengganggu penangkapan ikan komersial.
Tren peningkatan suhu ini terus berlanjut. Pada Januari 2024, 40 persen permukaan laut mengalami gelombang panas. Beberapa tahun terakhir, gelombang panas laut yang tidak biasa telah melanda semua cekungan laut utama di seluruh dunia.
Beberapa dari peristiwa ini bahkan mencapai intensitas yang begitu ekstrem sehingga para ilmuwan menciptakan istilah baru: gelombang panas super laut.
"Ekosistem laut yang mengalami gelombang panas super laut belum pernah menghadapi suhu permukaan laut setinggi ini sebelumnya," jelas Boyin Huang, seorang ahli kelautan di Administrasi Kelautan dan Atmosfer Nasional AS (NOAA), melalui email.
Gelombang panas laut yang luar biasa intens melanda perairan Inggris dan Irlandia sejak April, menjadi salah satu yang terpanjang dalam catatan dan terjadi jauh lebih awal dari biasanya. Tak hanya di sana, Australia dan terumbu karangnya yang ikonik juga baru-baru ini mengalami gelombang panas di dua pantainya.
Meskipun para ilmuwan memiliki definisi yang berbeda tentang gelombang panas laut, jelas bahwa perubahan iklim secara fundamental mengubah lautan. Ini terjadi karena lautan menyerap kelebihan panas yang terperangkap di atmosfer akibat gas rumah kaca dari pembakaran bahan bakar fosil.
Lautan yang menghangat memicu perubahan drastis pada kehidupan laut, permukaan air laut, dan pola cuaca. Terumbu karang menjadi salah satu korban paling nyata dari pemanasan laut.Kenaikan suhu laut yang ekstrem dapat menyebabkan pemutihan dan kematian karang. Menurut laporan terbaru, sekitar 84% terumbu karang di seluruh dunia mengalami tekanan panas yang memicu pemutihan antara Januari 2023 dan Maret 2025.
Pada tahun 2024, yang tercatat sebagai tahun terpanas, permukaan air laut naik lebih cepat dari perkiraan para ilmuwan.
Penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar kenaikan permukaan laut berasal dari ekspansi termalair laut yang mengembang saat menghangatâbukan dari pencairan gletser dan lapisan es, yang justru menjadi kontributor utama dalam beberapa tahun terakhir.
Kelebihan panas di lautan juga memengaruhi pola cuaca, meningkatkan potensi badai untuk berkembang lebih cepat dan menjadi lebih merusak. Contohnya, panas laut di Pasifik Barat Daya pada tahun 2024 berkontribusi pada rekor siklon tropis yang melanda Filipina.
"Memahami bagaimana pemanasan global memengaruhi peristiwa ekstrem adalah informasi krusial untuk mengantisipasi apa yang sedang dan akan terjadi," kata Marta Marcos, seorang fisikawan di Universitas Kepulauan Balearic di Spanyol.
Marcos adalah penulis utama penelitian terbaru yang diterbitkan dalam Proceedings of the National Academy of Sciences. Penelitian tersebut menemukan bahwa perubahan iklim bertanggung jawab atas sebagian besar gelombang panas laut dalam beberapa dekade terakhir.
Kerugian Massal
Penelitian awal mengenai kematian massal akibat gelombang panas laut, bahkan sebelum fenomena ini diberi nama, banyak berasal dari Mediterania. Wilayah laut ini memanas tiga hingga lima kali lebih cepat dari lautan pada umumnya.
Joaquim Garrabou, seorang ahli ekologi konservasi laut di Institut de Ciencies del Mar di Barcelona, Spanyol, mulai mendalami peristiwa ini setelah menyaksikan kematian spons dan karang secara massal pada tahun 1999.
Ia dan para ilmuwan lain meyakini bahwa dengan adanya perubahan iklim, kematian massal semacam ini akan terulang kembali. "Kenyataannya bergerak lebih cepat dari yang kita duga," ujarnya. "Memiliki peristiwa kematian massal ini adalah hal normal yang baru, bukan sesuatu yang jarang terjadi, yang seharusnya terjadi."
Pada tahun 2012, gelombang panas laut di Teluk Maine menyoroti risiko yang ditimbulkan oleh peristiwa ini terhadap perikanan.
Populasi udang Utara menurun dari sekitar 27,25 miliar pada tahun 2010 menjadi 2,8 miliar dua tahun kemudian, menurut pemodelan yang dilakukan oleh Komisi Perikanan Laut Negara Bagian Atlantik ASâ.
Redaktur: Andreas Tanjung
Penulis: Selocahyo Basoeki Utomo S
Berita Terkait:
-
Pertamina Tambah Pasokan 710.160 Tabung Elpiji 3 kg untuk Jateng
-
Old Trafford Tamat? Bos Proyek MU Buka Suara Soal Kapan Stadion Baru Resmi Dibuka
-
Pabrik MVP, Rahasia Belanda dan Amerika Serikat 'Cetak' Noortje Driessen & Caden Pierce Jadi Raja 3x3 Dunia
-
Asik, Kini Ratusan Pramuwisata Kalbar Terima Tip via QRIS GoPay Merchant
-
Komisi Pemberantasan Korupsi Buka Peluang Periksa Istri Budi Karya Sumadi dalam Kasus DJKA Kemenhub
-
Mendorong Ball Boy, Pedro Neto Terancam Sanksi UEFA
-
Pemerintah Didesak Legislator Segera Salurkan Banpang untuk Jutaan KPM pada Ramadan atau Jelang Idul Fitri
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.