SIPRI: Risiko Perang Nuklir Meningkat

Selasa, 17 Jun 2025, 02:30 WIB

STOCKHOLM - Sebuah lembaga penelitian Swedia mengatakan risiko perang nuklir meningkat seiring dengan munculnya perlombaan senjata baru.

Lembaga itu mengatakan penggunaan kecerdasan buatan (AI) dalam sistem pertahanan juga dapat meningkatkan kemungkinan terjadinya konflik nuklir.

Ket. Foto: Misil balistik antarbenua Tiongkok diluncurkan dalam sebuah latihan pada September tahun lalu. Laporan SIPRI menyatakan bahwa Tiongkok secara cepat menginovasikan kekuatan nuklir sampai memproduksi lebih dari 100 unit hulu ledak setiap tahun sejak 2003. — Sumber: AFP

Kesimpulan tersebut merupakan bagian dari penilaian tahunan Institut Penelitian Perdamaian Internasional Stockholm (SIPRI) yang dirilis pada Senin (16/6). Laporan tersebut membahas kondisi persenjataan, pelucutan senjata, dan keamanan internasional.

Dikatakan negara-negara bersenjata nuklir diperkirakan memiliki 12.241 hulu ledak pada Januari 2025, turun 164 dari tahun sebelumnya.

Laporan itu juga menyebutkan bahwa lebih dari 30 persen hulu ledak itu dikerahkan bersama pasukan operasional. Sekitar 2.100 ditempatkan dalam keadaan siaga operasional tinggi terhadap misil balistik. Sedangkan jumlah hulu ledak yang digunakan secara nyata mencapai 9.614 unit, termasuk 3.912 unit yang berada dalam posisi terpasang pada misil ataupun pesawat, serta 5.702 unit yang disimpan.

“Era pengurangan jumlah senjata nuklir di dunia, yang berlangsung sejak berakhirnya perang dingin, akan segera berakhir,” ungkap SIPRI.

Laporan itu juga menyebutkan bahwa seiring AI dan teknologi lain mempercepat pengambilan keputusan dalam krisis, terdapat risiko lebih tinggi terjadinya konflik nuklir akibat miskomunikasi, kesalahpahaman, atau kecelakaan teknis.

Prediksi Peningkatan

Dalam laporannya, SIPRI juga menyatakan bahwa Korea Utara (Korut) diprediksi mampu meningkatkan jumlah hulu ledak nuklir sampai 90 unit. Hal ini merupakan analisis SIPRI yang mengestimasi jumlah cadangan hulu ledak nuklir.

Amerika Serikat dan Russia memiliki 90 persen dari total seluruh hulu ledak di dunia, AS memiliki 5.177 unit dan Russia memiliki 5.459 unit, disusul Tiongkok, Prancis, Inggris, India, Pakistan, Israel dan lainnya. Sedangkan Korut memiliki 50 unit hulu ledak.

Menurut SIPRI, sembilan negara yang mempunyai kekuatan nuklir memodernisasi senjata nuklir yang sudah ada tahun 2024, serta menambah jumlah hulu ledak dunia secara drastis.

“Salah satunya Tiongkok, yang dengan cepat menginovasikan kekuatan nuklir sampai memproduksi lebih dari 100 unit hulu ledak setiap tahun sejak 2003 lalu,” ungkap SIPRI.

Sementara, Korut yang mengutamakan program nuklir telah membuat 50 unit hulu ledak dan masih memiliki bahan pembuat nuklir yang mampu memproduksi 40 unit hulu ledak. NHK/KBS/I-1

  • perang nuklir

Redaktur: Ilham Sudrajat

Penulis: AFP

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.