Pangan Aman Bukan Lagi Tebakan: Indonesia Tawarkan Solusi Digital di Forum Global
Minggu, 15 Jun 2025, 23:55 WIBJAKARTA â Sistem pengawasan keamanan pangan adalah investasi penting untuk melindungi kesehatan masyarakat, meningkatkan kualitas hidup, serta mendukung pertumbuhan industri pangan yang berkelanjutan.
Pengawasan yang efektif tidak hanya mencegah penyakit dan keracunan makanan, tetapi juga membangun kepercayaan konsumen dan mendukung pertumbuhan ekonomi. Dengan demikian, sistem pengawasan keamanan pangan merupakan fondasi penting bagi masyarakat yang sehat dan sejahtera.
Kementerian Pertanian (Kementan) Republik Indonesia menggaungkan pentingnya mendorong transformasi sistem pengawasan keamanan pangan berbasis digital dalam Vienna Food Safety Forum 2025 (VFSF 2025), yang digelar di Vienna International Centre, Wina, Austria.
Direktur Kesehatan Masyarakat Veteriner Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan (PKH) Kementan Nuryani Zainuddin mengatakan Kementan menjadi salah satu delegasi yang menyampaikan pengalaman konkret penerapan audit dan inspeksi jarak jauh di Indonesia terhadap sektor pangan selama pandemi COVID-19.
Dalam paparannya di sesi bertema Praktik Audit dan Inspeksi Jarak Jauh dalam Pengawasan Keamanan Pangan di Wena, Rabu (11/6), Nuryani menjelaskan bahwa Indonesia menjadi salah satu negara yang lebih awal menerapkan metode pengawasan virtual saat pandemi, meski saat itu belum tersedia pedoman teknis internasional.
âKami memanfaatkan teknologi seadanya untuk memastikan pengawasan tetap berjalan, termasuk inspeksi pabrik produk hewan secara daring,â kata Nuryani sebagaimana keterangan di Jakarta, Minggu (15/6).
Ia juga menyampaikan setelah pandemi dinyatakan berakhir melalui Keputusan Presiden Nomor 17 Tahun 2023, praktik audit jarak jauh belum kembali diterapkan di Indonesia, namun pengalaman selama pandemi menjadi dasar penguatan sistem ke depan.
Forum internasional itu diselenggarakan United Nations Industrial Development Organization (UNIDO) bekerja sama dengan Standards and Trade Development Facility (STDF) serta Kementerian Pertanian, Perikanan, dan Kehutanan Australia.
Kegiatan itu dibuka Direktur Jenderal UNIDO Gerd Müller, Ketua Komisi Codex Alimentarius Commission Allan Azegele, dan Deputi Direktur Jenderal Organisasi Perdagangan Dunia (WTO) Jean-Marie Paugam.
Forum tersebut menyoroti pentingnya digitalisasi sebagai upaya global dalam memperkuat sistem pengawasan pangan, memperlancar perdagangan, serta meningkatkan perlindungan kesehatan masyarakat.
Berbagai solusi teknologi dibahas, mulai dari pelacakan digital, sertifikasi elektronik, audit jarak jauh, hingga pemanfaatan kecerdasan buatan.
Kehadiran aktif Indonesia melalui Kementan dalam forum tersebut menunjukkan komitmen pemerintah untuk memperkuat tata kelola keamanan pangan nasional.
Selain berbagi pengalaman, Kementan juga mendorong kolaborasi global, transfer teknologi, dan pengembangan kapasitas sumber daya manusia sebagai bagian dari strategi nasional.
"Indonesia siap memperkuat sistem pengawasan pangan berbasis digital melalui kerja sama lintas sektor, integrasi teknologi, dan adopsi standar internasional," ujar Nuryani.
Forum itu merekomendasikan agar seluruh negara mengembangkan kebijakan pengawasan pangan yang adaptif terhadap perkembangan teknologi dan mampu menjawab tantangan sistem pangan global yang semakin kompleks.
"Forum ini dihadiri para pemangku kepentingan dari berbagai negara, termasuk kementerian, lembaga, dan pelaku usaha di sektor pangan dan pertanian. Ini berlangsung pada 10â12 Juni 2025," kata Nuryani.
Redaktur: Muchamad Ismail
Penulis: Antara
Berita Terkait:
-
Cuaca Ekstrem, BMKG Ingatkan Warga Kaltim Waspada Bencana Hidrometeorologi
-
Pengawasan pangan saat Ramadhan di Serang
-
Kebakaran Hari Ini: Gubernur Pramono Respons Cepat Insiden Terra Drone di Kemayoran, Para Korban Ditanggung Pemprov
-
Pemprov DKI Jakarta Tanggung Biaya Perawatan 38 Korban Unjuk Rasa dan Pemakaman Ojol yang Tewas
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.