- Home
-
- Luar Negeri
-
- AS Mulai Evakuasi Sebagian...
AS Mulai Evakuasi Sebagian Personel dari Timur Tengah, Trump Tegaskan Iran Tak Boleh Miliki Senjata Nuklir
Kamis, 12 Jun 2025, 18:50 WIBJAKARTA - Presiden Amerika Serikat Donald Trump pada hari Rabu menyatakan bahwa personel AS mulai dipindahkan dari kawasan Timur Tengah karena alasan keamanan, seraya menegaskan kembali sikap kerasnya terhadap Iran.
âMereka tidak bisa memiliki senjata nuklir. Sederhana saja.â ungkap Trump
Langkah ini terjadi di tengah ketegangan yang meningkat antara AS, Iran, dan sekutu-sekutu regional, terutama menyusul informasi intelijen yang menyebut Israel tengah bersiap menyerang fasilitas nuklir Iran. Upaya diplomasi antara Washington dan Teheran pun tampak menemui jalan buntu, sementara ancaman militer justru terus mencuat.
Menurut laporan Reuters dan pernyataan resmi Departemen Luar Negeri AS, pemerintahan Trump mengizinkan keberangkatan sukarela bagi personel non-darurat dan keluarga militer dari beberapa lokasi di Timur Tengah, seperti Bahrain dan Kuwait. Sementara itu, keberangkatan sebagian staf dari Kedutaan Besar AS di Irak juga tengah dijadwalkan, meskipun belum ada indikasi langsung adanya ancaman spesifik.
Pejabat AS menyebutkan bahwa evakuasi ini sejauh mungkin dilakukan melalui jalur komersial, namun militer siap membantu jika diperlukan. Beberapa pangkalan penting, seperti Pangkalan Udara Al Udeid di Qatar, tetap beroperasi seperti biasa tanpa perubahan personel.
Namun, laporan tentang evakuasi ini langsung berdampak pada pasar global, dengan harga minyak dunia melonjak lebih dari 4% menjadi $69,18 per barel, mencerminkan kekhawatiran akan potensi konflik yang lebih luas di wilayah kaya energi tersebut.
Menteri Pertahanan Iran, Aziz Nasirzadeh, mengeluarkan peringatan keras bahwa Iran akan membalas jika menjadi sasaran serangan, terutama dengan menargetkan pangkalan-pangkalan militer AS di kawasan. Misi Iran di PBB juga menegaskan bahwa Iran tidak berusaha membuat senjata nuklir dan menyalahkan AS atas ketidakstabilan regional akibat pendekatan militeristiknya.
Sementara itu, Irak, negara yang menjadi medan diplomasi dan ketegangan antara AS dan Iran, menyatakan tidak melihat adanya indikasi keamanan yang memerlukan evakuasi. Namun, fakta bahwa sekitar 2.500 tentara AS masih berada di sana, bersebelahan dengan faksi-faksi bersenjata pro-Iran, membuat situasi tetap rentan.
Langkah-langkah militer AS di kawasan termasuk pengerahan pesawat pengebom dan kapal induk menunjukkan keseriusan Washington dalam menekan Teheran. Jenderal Michael âErikâ Kurilla dari Komando Pusat AS bahkan dikabarkan telah memberi Trump sejumlah opsi militer sebagai pencegah terhadap ambisi nuklir Iran.
Kurilla membatalkan jadwal kesaksiannya di hadapan Kongres AS untuk menangani krisis yang sedang berlangsung, mempertegas bahwa pemerintahan Trump menganggap situasi ini prioritas tinggi.
Putaran baru perundingan nuklir antara AS dan Iran dijadwalkan dalam beberapa hari mendatang, namun para analis pesimis mengingat pernyataan Trump yang mengisyaratkan kian tipisnya harapan untuk mencapai kesepakatan damai.
Redaktur: Redaksi Koran Jakarta
Penulis: Paundra Zakirulloh
Berita Terkait:
-
Presiden Prabowo Tegaskan Peran Strategis NU dalam Menjaga Stabilitas dan Masa Depan Bangsa
-
Lada Putih Muntok Bangka Siap Mendunia, Kementerian UMKM Bidik 1.200 Restoran di 63 Negara
-
Wamenkomdigi Ungkap Tantangan “AI” dalam Peradilan
-
Film "Oasis: Don't Look Back In Anger" Jadwal Tayang di Bioskop Indonesia, Catat Tanggalnya!
-
Komnas Perempuan Minta Pemerintah Libatkan Perempuan dalam Penanganan Karhutla
-
Produksi Kakao Indonesia Menurun, Pemerintah Siapkan Peremajaan 247 Ribu Hektare
-
Syrian Airlines Terbang Lagi Aktifkan Rute Damaskus-Moskow
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.