Kepastian Investasi Jadi Kunci Percepat Pengembangan Gas Tangkulo di Aceh.
Selasa, 11 Agu 2026, 11:59 WIBKepastian investasi jadi kunci percepatan pengembangan gas South Andaman.Kepastian investasi dinilai menjadi faktor penting dalam mempercepat pengembangan Lapangan Gas Tangkulo di Wilayah Kerja South Andaman, Aceh, agar temuan sumber daya tersebut segera memberikan nilai tambah bagi perekonomian daerah sekaligus memperkuat pasokan energi nasional.
Ketua Indonesia Centre for Renewable Energy Studies (ICRES) Surya Darma mengatakan pengembangan lapangan gas membutuhkan investasi besar dan berjangka panjang sehingga kepastian kebijakan menjadi salah satu pertimbangan utama investor dalam merealisasikan proyek.
"Investor yang sudah mengeluarkan investasi sangat besar harus diberikan kepastian agar kepercayaan terhadap Indonesia tetap terjaga," kata Surya Darma di Banda Aceh, Senin.
Pernyataan tersebut disampaikan dalam seminar bertajuk "Membangun Kesempatan di Tengah Polemik Pengembangan Blok South Andaman" yang diselenggarakan Dewan Energi Mahasiswa (DEM) Aceh.
Menurut Surya, kepastian pengembangan South Andaman tidak hanya berkaitan dengan kepentingan investor, tetapi juga menentukan seberapa cepat cadangan gas dapat dimonetisasi dan memberikan dampak ekonomi melalui pasokan energi, kegiatan industri, investasi lanjutan, serta penciptaan aktivitas ekonomi di Aceh.
Oleh karena itu, ia berharap pembahasan mengenai skema pengembangan Lapangan Tangkulo dapat segera menemukan titik temu dengan tetap mempertimbangkan kepentingan daerah, kelayakan proyek, serta kepastian berusaha.
"Kalau proyek ini terus diperdebatkan tanpa kepastian, daya tarik investasi Aceh justru akan semakin berkurang," ujarnya.
Lapangan Tangkulo menjadi salah satu temuan gas penting di lepas pantai Aceh yang dikembangkan Mubadala Energy. Pada tahap awal, lapangan tersebut diproyeksikan mampu menghasilkan sekitar 300 juta standar kaki kubik gas per hari (MMSCFD).
Besarnya potensi tersebut membuat pengembangan South Andaman tidak hanya memiliki dimensi energi, tetapi juga nilai strategis bagi perekonomian Aceh. Gas yang dihasilkan berpotensi menopang kebutuhan energi sekaligus membuka ruang pengembangan industri berbasis gas di daerah.
Pemerintah Aceh sebelumnya menyampaikan aspirasi agar pengembangan gas Tangkulo memberikan manfaat ekonomi sebesar-besarnya bagi daerah.
Gubernur Aceh Muzakir Manaf telah menyurati Presiden Prabowo Subianto dan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) terkait pengembangan Lapangan Tangkulo.
Pemerintah Aceh antara lain mengusulkan agar pengolahan gas dilakukan melalui fasilitas di darat atau onshore receiving facility (ORF) di Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Arun, Lhokseumawe, serta meminta sebagian alokasi gas dapat dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan industri di Aceh.
Pemerintah Aceh juga sempat meminta penundaan sementara Plan of Development (PoD) untuk memberikan ruang pembahasan terhadap skema pengembangan tersebut.
Ketua Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) Djoko Siswanto mengatakan pembahasan mengenai South Andaman perlu mengedepankan kajian teknis, ekonomi, dan hukum secara komprehensif.
Menurut dia, setiap alternatif pengembangan harus dibandingkan berdasarkan kebutuhan investasi, biaya operasional, kelayakan teknis, serta keekonomian proyek sehingga keputusan yang diambil dapat menjaga keberlanjutan investasi sekaligus memberikan manfaat optimal.
"Pilihan antara offshore dan onshore harus dilihat dari kajian teknis dan keekonomiannya, bukan berdasarkan asumsi," kata Djoko.
Djoko menjelaskan Lapangan Tangkulo tetap akan terhubung dengan fasilitas darat di KEK Arun, Lhokseumawe. Dalam rencana pengembangannya, gas akan diproses melalui fasilitas Floating Production, Storage, and Offloading (FPSO) sebelum disalurkan menuju Onshore Receiving Facilities (ORF) di KEK Arun.
Skema tersebut membuka peluang bagi fasilitas energi dan kawasan industri di Lhokseumawe untuk menjadi bagian dari rantai nilai pengembangan gas South Andaman.
Pemerintah sebelumnya telah memberikan kepastian awal terhadap pengembangan proyek tersebut setelah Menteri ESDM Bahlil Lahadalia menyetujui Plan of Development (PoD) I Lapangan Tangkulo di Wilayah Kerja South Andaman pada 9 Maret 2026.
Produksi gas Tangkulo ditargetkan mulai dapat didistribusikan pada akhir 2028 dengan kapasitas sekitar 300 MMSCFD.
Dari proyeksi produksi tersebut, komitmen awal penjualan sebesar 160 MMSCFD telah dialokasikan untuk memenuhi kebutuhan PT PLN Energi Primer Indonesia (PLN EPI). Alokasi itu menjadi bagian dari upaya memperkuat keandalan pasokan energi nasional.
- Lapangan Gas Tangkulo
Redaktur: Yebdi Trismar
Penulis: Yebdi Trismar
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.