Jepang Perkuat Pertahanan untuk Hadapi Tiongkok dan Meyakinkan AS

Minggu, 08 Jun 2025, 15:15 WIB

JAKARTA - Di tengah meningkatnya ancaman dari kekuatan militer Tiongkok  dan ketidakpastian dukungan dari Amerika Serikat, Jepang memperkuat kemampuan pertahanannya melalui pembentukan unit-unit militer baru dan modernisasi sistem persenjataan.

Salah satu langkah paling mencolok adalah penempatan rudal penghancur kapal oleh Resimen ke-7 Tentara Jepang di Okinawa, yang dipasang secara terbuka di atas truk untuk menunjukkan kekuatan. Komandan resimen, Kolonel Yohei Ito, menyatakan bahwa kehadiran rudal-rudal ini merupakan upaya untuk menghalangi potensi musuh yang datang.

Ket. Foto: Jepang tengah mengubah militernya yang selama ini dibatasi menjadi kekuatan yang tangguh untuk beroperasi bersama kapal-kapal dan tentara Amerika. — Sumber: Reuters

Dibentuk pada tahun 2024, Resimen ke-7 merupakan bagian dari penguatan militer Jepang di pulau-pulau barat daya yang strategis. Penempatan ini bukan hanya ditujukan kepada Tiongkok, tetapi juga menjadi sinyal tegas kepada Amerika Serikat, khususnya Presiden Donald Trump, yang kerap mengkritik Jepang karena terlalu bergantung pada perlindungan militer AS.

Melalui pembangunan kekuatan konvensional ini, Jepang berupaya menunjukkan bahwa mereka merupakan sekutu penting dan mandiri, tidak hanya dalam hal keamanan regional tetapi juga dalam peran strategis global.

Dalam konteks hubungan bilateral, Jepang saat ini sedang bernegosiasi dengan AS mengenai pencabutan tarif. Delegasi Jepang yang dipimpin oleh Ryosei Akazawa melakukan pertemuan di Washington dengan pejabat tinggi AS, termasuk Menteri Keuangan Scott Bessent dan Menteri Perdagangan Howard Lutnick.

Salah satu imbal balik dari kesepakatan tersebut adalah komitmen Jepang untuk membeli produk-produk Amerika seperti energi, chip komputer, dan senjata dalam jumlah besar. Ini sekaligus memperkuat posisi Jepang sebagai mitra ekonomi dan militer yang tak tergantikan bagi Washington.

Modernisasi militer Jepang mencakup pembelian sistem senjata canggih dari AS, seperti pesawat F-35B dan rudal jelajah Tomahawk, yang akan memberikan kemampuan serangan jarak jauh—kemampuan yang belum dimiliki Jepang sejak 1945. Di saat yang sama, industri pertahanan domestik Jepang juga sedang bangkit.

Dalam pameran pertahanan di Tokyo, perusahaan-perusahaan Jepang memamerkan rudal hipersonik, sistem laser anti-drone, dan pesawat tempur baru yang akan dikembangkan bersama Inggris dan Italia. Ini menunjukkan bahwa Jepang tidak hanya menjadi pembeli, tetapi juga produsen teknologi militer mutakhir.

Sebagai bagian dari kesiapannya untuk menghadapi krisis masa depan, Jepang dan AS juga merencanakan pembentukan markas perang bersama di Tokyo, yang akan mempererat koordinasi militer. Menteri Pertahanan Jepang, Jenderal Nakatani, menegaskan bahwa negaranya kini berada di tengah “lingkungan keamanan paling parah sejak Perang Dunia II.”

Kekhawatiran terbesar Jepang adalah jika Washington tiba-tiba menarik diri dari kawasan Asia, atau lebih buruk lagi, menjalin kesepakatan strategis dengan Tiongkok yang mengorbankan kepentingan Jepang.

Di sisi lain, Tokyo memperkuat aliansi dengan negara-negara lain. Jepang mempererat hubungan dengan Australia, mengirim kapal dan pasukan ke latihan militer bersama di Filipina, serta bekerja sama dengan Inggris dan Italia dalam pengembangan pesawat tempur generasi baru. Semua ini merupakan bagian dari strategi diversifikasi keamanan, jika sewaktu-waktu komitmen AS di kawasan Indo-Pasifik melemah.

Namun, Jepang juga menyimpan “rencana cadangan”. Dengan cadangan plutonium dari industri nuklir sipil, Jepang secara teknis mampu mengembangkan senjata nuklir, meskipun secara politik dan budaya masih sangat ditentang oleh masyarakat. “Kita perlu memikirkan Rencana B, jika AS benar-benar menarik diri dari Asia,” kata Kazuto Suzuki, direktur Institute of Geo-economics di Tokyo.

Langkah-langkah ini menunjukkan bahwa Jepang kini tengah bergerak menuju militerisasi terbatas dan menjauh dari semangat pasifisme pasca-Perang Dunia II. Di tengah bayang-bayang persaingan geopolitik dan ketidakpastian aliansi lama, Jepang tampaknya memilih untuk mengambil kendali atas masa depan pertahanannya sendiri, dengan tetap berupaya menjaga posisi sebagai sekutu strategis yang andal bagi Amerika Serikat.

Redaktur: Lili Lestari

Penulis: Paundra Zakirulloh

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.