Mengungkap Sejarah Tersembunyi: Diperkirakan 5.000 Anak Indonesia Diadopsi ke Luar Negeri Era 1973-1984
Sabtu, 31 Mei 2025, 22:40 WIBJakarta â Sebuah babak sejarah yang selama ini banyak tersembunyi terkait praktik adopsi anak dari Indonesia ke luar negeri pada rentang tahun 1973 hingga 1984 mulai diungkap ke publik. Topik penting ini menjadi pembahasan utama dalam Forum PRAKSIS Seri ke-9 yang diselenggarakan oleh PRAKSIS (Pusat Riset dan Advokasi Serikat Jesus) di Jakarta pada Jumat, 30 Mei 2025 lalu.
Mengangkat tajuk âAdopsi Lintas-Negara, 1973-1984: Sebuah Sejarah Yang Tersembunyiâ, forum ini menghadirkan dua narasumber utama yang memiliki pengalaman langsung: Anna Grundström, seorang adoptee (anak angkat) yang lahir di Jakarta namun dibesarkan di Swedia, dan Ana Maria Van Valen, adoptee asal Bogor, Jawa Barat, yang tumbuh besar di Belanda. Keduanya memaparkan materi menggunakan bahasa Inggris.
Menurut Anna dan Ana Maria, edukasi publik mengenai adopsi anak lintas-negara sangatlah krusial. Mereka menekankan bahwa masalah ini adalah masalah mendasar dalam sejarah kemanusiaan dan dampaknya bersifat sangat panjang. Hingga kini, banyak individu dan keluarga yang terlibat dalam praktik ini masih merasakan akibatnya. Oleh karena itu, adopsi lintas-negara bukan isu sederhana, melainkan erat kaitannya dengan hak asasi manusia, identitas, dan keadilan sejarah.
Anna Grundström menjelaskan, perubahan besar dalam praktik adopsi internasional terjadi setelah Perang Korea di awal tahun 1950-an. Yang semula dipandang sebagai tindakan penyelamatan, adopsi kemudian bergeser menjadi lebih transaksional. Kondisi ekonomi yang sulit pasca-perang di Korea Selatan dimanfaatkan oleh pihak-pihak di Amerika Serikat sebagai 'peluang' untuk mengadopsi anak-anak yang dianggap 'tanpa orang tua' atau 'diabaikan', meskipun istilah ini seringkali dimaknai sepihak oleh pihak yang berkuasa saat itu. Praktik serupa kemudian meluas ke negara-negara lain yang mengalami konflik dan ketidakstabilan, seperti Vietnam dan Sri Lanka, membuka celah bagi unsur eksploitasi dalam adopsi internasional.
Dalam konteks Indonesia, Ana Maria Van Valen menyoroti bahwa sejarah penjajahan Belanda yang panjang memfasilitasi pencarian jaringan pendukung untuk adopsi lintas-negara ke Belanda. Faktor ini, ditambah dengan meluasnya kemiskinan dan dinamika politik nasional yang tidak menentu di Indonesia pada periode 1973-1984, secara signifikan mendorong peningkatan praktik adopsi bayi dari Indonesia oleh negara-negara Barat.
Sumber menyebutkan, ada tiga pelaku utama dalam praktik adopsi era itu: para pembeli (umumnya dari negara Barat, berpendidikan tinggi), para makelar bayi (pelaku dari Indonesia dengan jaringan kuat), dan para ibu kandung (kebanyakan perempuan buta huruf dan hidup dalam kemiskinan).
Dampak dari praktik ini sangat mendalam dan berkepanjangan. Para anak yang diadopsi tumbuh dengan identitas yang tercerabut dari akar negara dan budaya asalnya. Banyak dari mereka, seperti Anna dan Ana Maria, kini berjuang keras mencari asal-usul dan orang tua kandung mereka di Indonesia setelah dibesarkan di Eropa. Upaya pencarian ini menghadapi tantangan finansial yang besar (untuk mengklaim kembali identitas Indonesia) serta biaya psikologis dan emosional yang tinggi akibat hilangnya identitas kultural. Di sisi lain, banyak keluarga kandung harus menanggung rasa malu, trauma, dan menghadapi hambatan untuk bersatu kembali. Ironisnya, seringkali ketika anak-anak ini menemukan orang tua kandung, kondisinya sudah "terlambat" karena orang tua mereka sudah sakit-sakitan atau bahkan meninggal dunia.
Mengakhiri paparannya, Anna Grundström dan Ana Maria Van Valen menekankan pentingnya membangun kesadaran kolektif terhadap sejarah adopsi lintas-negara yang terlupakan ini. Mereka mengajak semua pihak untuk berkolaborasi secara sistemik dan penuh empati guna mendorong pengakuan negara atas hak-hak para mantan anak angkat yang ingin kembali dan tinggal di Indonesia, memberikan dukungan bagi keluarga biologis mereka, serta menyusun mekanisme untuk pemulihan identitas dan peluang reunifikasi keluarga.
Redaktur: Eko S
Penulis: Eko S
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.