- Home
-
- Luar Negeri
-
- Perubahan Iklim Tingkatkan...
Perubahan Iklim Tingkatkan Risiko Masalah Kehamilan
Kamis, 15 Mei 2025, 01:00 WIBPARIS - Sebuah laporan yang dirilis pada Rabu (14/5) memperingatkan bahwa gelombang panas ekstrem yang dipicu oleh pemanasan global meningkatkan risiko komplikasi berbahaya selama kehamilan di seluruh dunia.
Dikutip dari Barron, paparan suhu panas ekstrem saat kehamilan sebelumnya telah dikaitkan dengan berbagai masalah kesehatan, termasuk peningkatan risiko kelahiran prematur, lahir mati, cacat lahir, dan diabetes gestasional.
Laporan terbaru dari kelompok riset berbasis di AS, Climate Central, berupaya mengukur sejauh mana ibu hamil terpapar suhu panas berlebihan sejak tahun 2020 dan seberapa besar kontribusi perubahan iklim terhadap kondisi tersebut.
Di 222 dari 247 negara dan wilayah yang diteliti, "perubahan iklim sedikitnya menggandakan jumlah rata-rata hari risiko panas kehamilan tahunan yang dialami selama lima tahun terakhir", kata laporan itu.
Peningkatan terbesar terjadi di negara berkembang di mana akses ke perawatan kesehatan terbatas, seperti di Karibia, Amerika Tengah dan Selatan, kepulauan Pasifik, Asia Tenggara, dan Afrika sub-Sahara.
Para peneliti hanya mengamati peningkatan hari-hari panas yang berpotensi berbahaya dan tidak meneliti sejauh mana wanita hamil benar-benar terpengaruh oleh panas di negara-negara tersebut.
Ana Bonell, seorang peneliti kesehatan ibu dan suhu panas ekstrem di London School of Hygiene and Tropical Medicine yang tidak terlibat dalam laporan tersebut, mengatakan bahwa laporan tersebut "memberikan bukti nyata tentang meningkatnya risiko paparan suhu panas ekstrem".
Temuan itu juga dapat berlaku pada orang lanjut usia, kelompok lain yang lebih berisiko selama periode yang sangat panas, katanya kepada AFP.
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) juga menyatakan bahwa wanita hamil yang tinggal di daerah dengan suhu tinggi dan kelembapan tinggi lebih rentan terhadap infeksi yang dapat mempengaruhi kesehatan mereka dan janin. Penyakit yang ditularkan melalui air, seperti diare, juga lebih sering muncul dalam situasi perubahan iklim yang ekstrem, yang dapat berbahaya bagi ibu hamil.
Bahan Bakar Fosil
Sebuah studi besar tahun 2024 di Nature Medicine memperkirakan bahwa gelombang panas meningkatkan kemungkinan terjadinya komplikasi selama kehamilan hingga 1,25 kali.
Di luar upaya yang lebih luas untuk melawan perubahan iklim yang sebagian besar disebabkan oleh manusia yang membakar bahan bakar fosil, para ahli menyarankan kebijakan lokal untuk membantu masyarakat mengatasi panas.
Ini termasuk "menghijaukan lingkungan sekitar, membatasi polusi, menciptakan daerah sejuk dan memberi tahu warga tentang risikonya," kata ahli epidemiologi Prancis, Lucie Adelaide.
- hasil studi
Redaktur: Andreas Tanjung
Penulis: Selocahyo Basoeki Utomo S
Berita Terkait:
-
Bulog Sebut Program SPHP Tekan Harga Beras di Gorontalo
-
Studi IBM: Adopsi AI di Indonesia Terbentur Keamanan Data, Infrastruktur TI, Etika, dan Talenta
-
Gubernur DKI Jakarta pimpin apel siaga banjir di Rawajati
-
Maluku Tenggara Diguncang Gempa Kuat 5,5 Magnitudo
-
Lindungan Generasi Muda dari Bahaya Rokok, Pemprov Kaltim Akan Serius Lakukan Hal Ini
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.