Gebrakan Baru! Kementrans Ingin Area Transmigrasi Jadi Kampus Kehidupan Nyata

Rabu, 14 Mei 2025, 23:16 WIB

JAKARTA – Dukungan universitas sangat penting untuk program transmigrasi karena perguruan tinggi memiliki sumber daya yang dapat mempercepat pembangunan di kawasan transmigrasi.

Universitas dapat memberikan dukungan melalui ilmu pengetahuan, teknologi, inovasi, dan sumber daya manusia, sehingga kawasan transmigrasi tidak hanya menjadi tempat relokasi penduduk, tetapi juga pusat pertumbuhan ekonomi baru.

Ket. Foto: Ilustrasi-Lokasi permukiman Transmigrasi Sugulai, Kab. Simeulue, Aceh. — Sumber: Istimewa.

Kementerian Transmigrasi (Kementrans) mengajak universitas dan mempersilakan mahasiswa untuk menjadikan kawasan transmigrasi sebagai sekolah kehidupan (school of life) agar dapat lebih memahami permasalahan yang perlu diselesaikan di lapangan melalui Program Transmigrasi Patriot.

Menteri Transmigrasi (Mentrans) Iftitah Sulaiman Suryanegara menyampaikan bahwa mahasiswa tidak hanya harus mengenal teknologi, tetapi juga perlu memahami kondisi serta realitas sosial di lapangan dan menjadi agen perubahan yang membawa manfaat nyata.

“Inilah hakikat school of life bagi generasi muda. Ini memberikan warna khusus dan mengenalkan bahwa transmigrasi sekarang diisi (didukung) oleh (lembaga) pendidikan tinggi,” katanya di Jakarta, Rabu (14/5).

Ia menuturkan bahwa salah satu tantangan nyata di tengah masyarakat adalah pertumbuhan ekonomi yang terus naik, tapi tingkat kemiskinan juga meningkat di beberapa daerah.

Untuk memperkuat keterlibatan universitas dan civitas akademika dalam program transmigrasi, Kementrans kini tengah mempersiapkan Program Transmigrasi Patriot yang terdiri dari Ekspedisi Patriot dan Beasiswa Patriot.

Tim Ekspedisi Patriot tersebut terdiri dari para akademisi dan sarjana yang fokus meneliti berbagai potensi yang dapat dikembangkan di kawasan transmigrasi serta menjadi mentor dan pendamping bagi para peserta Beasiswa Patriot.

Sementara Beasiswa Patriot akan memberikan kesempatan bagi anak-anak muda untuk berpartisipasi dalam pengembangan kawasan transmigrasi dengan mengikuti pendidikan, penelitian, dan pengabdian masyarakat melalui program beasiswa double degree pada jenjang D4, S1, S2, dan S3, baik di universitas lokal, nasional, maupun luar negeri.

Kementrans akan mengirimkan 2.000 Tim Ekspedisi Patriot pada tahun ini untuk melakukan penelitian di lapangan selama satu tahun mendatang. Pembekalan bagi para peserta rencananya akan langsung dihadiri oleh Presiden Prabowo Subianto pada November 2025.

Iftitah mengatakan bahwa program tersebut dijalankan karena transmigrasi kini tak lagi sekadar relokasi penduduk, tapi menjadi strategi pembangunan nasional yang inklusif, modern, dan berbasis ilmu pengetahuan.

Pihaknya pun berkolaborasi dengan Universitas Gadjah Mada (UGM) untuk memperkuat pengembangan kawasan transmigrasi melalui jejaring pendidikan, riset, dan pemberdayaan masyarakat.

Kerja sama tersebut mencakup pendataan produk unggulan, penguatan kapasitas SDM lewat Beasiswa Patriot, hingga dukungan terhadap hilirisasi pertanian, mengingat UGM memiliki pengalaman dalam pengembangan agroteknologi yang hasilnya sudah diekspor.

“Kami mengajak para kampus di Indonesia untuk aktif dan progresif mendukung transformasi paradigma baru transmigrasi, karena pendidikan tinggi dinilai mampu dan paham mendukung konsep baru transmigrasi berbasis pendidikan,” ujar Iftitah Sulaiman Suryanegara.

Rektor UGM Ova Emilia menyatakan kesiapan pihaknya untuk berkontribusi lebih banyak dalam konsep baru transmigrasi melalui penguatan program-program pengabdian masyarakat dan riset.

“Semangat kerja sama ini sangat sejalan dengan nilai-nilai UGM yang menekankan keberpihakan pada rakyat, kemandirian, dan keberlanjutan. Kami berharap kemitraan strategis ini saling melengkapi untuk pembangunan transmigrasi yang lebih baik,” ucap Ova Emilia.

  • transmigrasi patriot

Redaktur: Muchamad Ismail

Penulis: Antara

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.