Alarm Ekonomi! Penjualan Ritel April 2025 Turun Dibanding Maret

Rabu, 14 Mei 2025, 17:46 WIB

JAKARTA - Penurunan penjualan eceran dapat mengisyaratkan bahwa daya beli masyarakat sedang melemah, baik karena penurunan pendapatan, kenaikan harga, atau faktor lainnya. 

Penjualan eceran yang melemah dapat menjadi sinyal perlambatan ekonomi domestik. Ini karena penjualan eceran adalah indikator penting konsumsi rumah tangga dalam Produk Domestik Bruto (PDB). 

Ket. Foto: Sejumlah warga berada di kawasan los pakaian Pasar Johar, Semarang, Jawa Tengah, Kamis (17/4/2025). — Sumber: ANTARA FOTO/Aprillio Akbar

Penjualan eceran pada April 2025 diperkirakan turun dibandingkan bulan sebelumnya. Indeks Penjualan Riil (IPR) April 2025 dalam Survei Penjualan Eceran (SPE) oleh Bank Indonesia (BI) diprakirakan mencapai 231,1 atau turun dari Maret 2025 sebesar 248,3.

Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI Ramdan Denny Prakoso dalam keterangan resminya di Jakarta, Rabu (14/5), menyampaikan bahwa IPR April 2025 didukung tetap tumbuhnya kelompok suku cadang dan aksesori, bahan bakar kendaraan bermotor, dan subkelompok sandang.

Sementara itu, penjualan kelompok lainnya diprakirakan menurun, terutama kelompok peralatan informasi dan komunikasi, perlengkapan rumah tangga lainnya, serta makanan, minuman, dan tembakau.

Secara bulanan, penjualan eceran pada April 2025 diprakirakan terkontraksi sebesar 6,9 persen month to month (mtm), dipengaruhi oleh normalisasi permintaan masyarakat seiring berakhirnya periode Ramadhan dan Idul Fitri.

Sebelumnya, pada Maret 2025, IPR tercatat sebesar 248,3 atau tumbuh 5,5 persen year on year (yoy), lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan pada Februari 2025 sebesar 2,0 persen (yoy).

Peningkatan IPR tersebut terutama didorong oleh kelompok makanan, minuman, dan tembakau; barang budaya dan rekreasi; serta subkelompok sandang.

Secara bulanan, penjualan eceran pada Maret 2025 juga tumbuh sebesar 13,6 persen (mtm), meningkat dibandingkan bulan sebelumnya yang tercatat sebesar 3,3 persen (mtm).

Peningkatan tersebut bersumber dari mayoritas kelompok barang, terutama kelompok makanan, minuman dan tembakau; barang budaya dan rekreasi; serta subkelompok sandang, sejalan dengan permintaan masyarakat saat Ramadan dan HBKN Idulfitri, serta strategi retailer yang memberikan potongan harga.

Dari sisi harga, tekanan inflasi tiga dan enam bulan yang akan datang, yaitu pada Juni 2025 dan September 2025 diprakirakan menurun.

Hal ini tecermin dari Indeks Ekspektasi Harga Umum (IEH) Juni dan September 2025 yang masing-masing tercatat sebesar 146,4 dan 153,1, lebih rendah dibandingkan dengan periode sebelumnya yang masing-masing tercatat sebesar 148,3 dan 155,5.

Redaktur: Muchamad Ismail

Penulis: Antara

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.