Trump Tak Akan Turunkan Tarif Sebagai Syarat Buka Negosiasi dengan Tiongkok

Jumat, 09 Mei 2025, 01:35 WIB

WASHINGTON - Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump, pada Rabu (7/5), mengatakan tidak akan menurunkan tarif terlebih dahulu terhadap Tiongkok untuk membuka negosiasi yang lebih substantif mengenai perdagangan dengan Beijing.

“Tidak,” tegas Trump ketika ditanya seorang reporter soal apakah dia terbuka untuk mencabut bea masuk sebesar 145 persen atas impor dari Tiongkok untuk membawa ekonomi terbesar kedua di dunia itu ke meja perundingan, saat Trump melantik pelantikan Duta Besar AS untuk Tiongkok, David Perdue, di Washington, Rabu 7/5).

Ket. Foto: Presiden AS, Donald Trump — Sumber: Jim WATSON/AFP

Dikutip dari The Straits Times, komentar Trump itu disampaikan sebelum Menteri Keuangan Scott Bessent dan Perwakilan Dagang AS Jamieson Greer bertemu minggu ini di Swiss dengan Wakil Perdana Menteri Tiongkok He Lifeng.

Sikap Trump menggarisbawahi kesenjangan besar antara AS dan Tiongkok dalam perdagangan dan jalan sulit yang mereka hadapi menuju kemungkinan kesepakatan mengenai tingkat tarif yang lebih rendah.

Ini merupakan dosis realitas setelah pengumuman perundingan formal antara kedua belah pihak pada tanggal 6 Mei yang menimbulkan optimisme bahwa bentrokan mengenai pajak impor dapat diselesaikan sebelum menyebabkan kerusakan ekonomi yang berkepanjangan.

Presiden membantah bahwa AS telah memulai perundingan dagang dengan Tiongkok, dan mengatakan bahwa mereka yang mengklaim bahwa perundingan tersebut dilakukan atas desakan Washington “harus kembali dan mempelajari berkas-berkas mereka”.

Dalam sebuah pernyataan minggu lalu, Kementerian Perdagangan Tiongkok mengatakan pejabat senior AS telah menghubungi untuk menyatakan kesediaan mereka membahas tarif.

“AS baru-baru ini mengirim pesan ke Tiongkok melalui pihak-pihak terkait, dengan harapan dapat memulai perundingan dengan Tiongkok,” kata kementerian tersebut.

Trump pada tanggal 7 Mei juga menegaskan bahwa sebelumnya, AS “kehilangan satu triliun dollar AS setahun” terhadap Tiongkok dalam perdagangan dan “sekarang mereka tidak kehilangan apa pun, yang tampaknya merujuk pada defisit perdagangan dengan Beijing.

Dalam beberapa hari terakhir, ia mengatakan bersedia menurunkan tarif terhadap Tiongkok pada titik tertentu, tetapi juga menegaskan bahwa konsumen AS bersedia menerima harga yang lebih tinggi dan pilihan yang lebih sedikit agar upayanya untuk mendatangkan lebih banyak pekerjaan manufaktur ke negara itu berhasil.

Jajak pendapat menunjukkan sebagian besar orang dewasa AS tidak menyetujui penanganan tarif dan ekonomi oleh Trump. Pembahasan yang akan datang ini menandai pembicaraan dagang pertama yang terkonfirmasi antara AS dan Tiongkok sejak Trump mengumumkan pungutan pajak yang menghukum.

Tindakan Balasan

Tiongkok juga telah membalas tindakan perdagangan Trump dengan mengenakan tarif sebesar 125 persen pada impor Amerika. Tindakan balasan tersebut telah mengguncang pasar dan mengancam akan menaikkan harga peralatan manufaktur serta barang-barang terjangkau yang diandalkan banyak warga Amerika, termasuk pakaian dan mainan.

Bessent, dalam wawancara pada tanggal 6 Mei dengan Fox News, mengatakan bahwa tarif saat ini tidak berkelanjutan, dan bahwa pembicaraan akan berpusat pada de-eskalasi daripada kesepakatan perdagangan besar.

“Kita harus meredakan ketegangan sebelum melangkah maju,” kata Bessent.

  • perang tarif

Redaktur: Vitto Budi

Penulis: Selocahyo Basoeki Utomo S

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.