Melestarikan Legomoro: Strategi Agar Kuliner Kotagede Tak Lekang Ditelan Zaman
Sabtu, 03 Mei 2025, 16:11 WIBYOGYAKARTA - Legomoro, kuliner tradisional khas Kotagede, Yogyakarta, memiliki akar sejarah yang kuat dan cita rasa unik. Dahulu, penganan berbahan dasar ketan berisi daging ini hanya hadir sebagai hantaran lamaran atau acara khusus.
Kini, berkat inisiatif seperti yang dilakukan Iwan Setiyawan, pemilik Legomoro Traditional Food, eksistensinya terjaga dan bahkan merambah pasar global. Namun, bagaimana cara memastikan Legomoro tetap menjadi bagian tak terpisahkan dari khazanah kuliner Jogja di tengah gempuran modernisasi?
Iwan Setiyawan, yang merintis usaha Legomoro sejak 2002, menceritakan bahwa awalnya ia meneruskan tradisi ibunya yang membuat legomoro hanya berdasarkan pesanan. Melihat potensi pasar, Iwan dan istrinya memberanikan diri menjualnya secara harian, hingga akhirnya permintaan melonjak drastis.
"Dulu orang penasaran karena Legomoro tidak dijual bebas. Sekarang, alhamdulillah, bisa dinikmati siapa saja, bahkan jadi oleh-oleh ke luar negeri," ungkapnya saat ditemui di rumah produksinya di Purbayan, Kotagede (1/5/2025). Inovasi Legomoro frozen menjadi kunci ekspansi pasarnya hingga ke Australia, Jepang, Malaysia, Hongkong, Singapura, dan Amerika.
Dr. Murdijati Gardjito, seorang pakar kuliner tradisional dari Universitas Gadjah Mada (UGM), memaparkan pentingnya mempertahankan keaslian rasa dan bahan baku Legomoro sebagai kunci utama pelestarian.
"Cita rasa otentik adalah daya tarik utama makanan tradisional. Upaya seperti yang dilakukan Pak Iwan dengan menjaga kualitas dan bahkan berinovasi dengan produk beku patut diapresiasi. Namun, perlu juga ada upaya kolektif untuk menjaga ketersediaan bahan baku lokal yang berkualitas," ujarnya.
Dr. Murdijati menyarankan adanya dukungan dari pemerintah daerah untuk petani dan produsen bahan baku tradisional agar keberlangsungan Legomoro tetap terjamin.
Maryono, seorang penggiat wisata kuliner Jogja, pun menambahkan bahwa promosi dan edukasi kepada generasi muda juga memegang peranan krusial.
"Kita perlu mengenalkan Legomoro kepada anak-anak muda melalui berbagai cara, misalnya melalui festival kuliner, media sosial, atau bahkan memasukkannya dalam kurikulum pendidikan lokal. Kisah di balik Legomoro sebagai bagian dari tradisi lamaran Kotagede juga bisa menjadi daya tarik tersendiri," katanya.
Maryono juga menyarankan kolaborasi antara produsen Legomoro dengan pelaku pariwisata untuk menjadikannya sebagai salah satu ikon kuliner yang wajib dicicipi wisatawan.
Untuk mempertahankan Legomoro sebagai kuliner khas Jogja, kombinasi antara menjaga kualitas dan keaslian, inovasi produk untuk menjangkau pasar yang lebih luas, dukungan terhadap rantai pasok bahan baku lokal, serta promosi dan edukasi yang efektif kepada generasi muda menjadi sangat penting.
Dengan upaya-upaya tersebut, Legomoro diharapkan tidak hanya terus eksis, tetapi juga semakin dicintai dan menjadi kebanggaan kuliner Yogyakarta.
Redaktur: Lili Lestari
Penulis: Yuniar Dwi Setiawati
Berita Terkait:
-
Make Over Luncurkan Mini Series, Perkenalkan Powerstay Matte Powder Foundation Special Edition
-
Siap Layani Wisatawan, Becak Kayuh di Yogyakarta Kini Sudah Bertenaga Listrik
-
Hanya 2 Hari, Cara 'Gila' John Herdman Ramu Taktik Timnas Indonesia Demi Hancurkan St Kitts & Nevis
-
Tenang! MBG Tak Ganggu Dana Infrastruktur Sekolah, Kata Misbakhun
-
Pemprov Sulbar Terapkan WFH ASN Setiap Jumat, Strategi Hemat BBM di Tengah Dampak Krisis Global
-
IHSG Berisiko Tertekan, 2 Maret 2026
-
Dinkes DIY Pastikan Belum Ada Kasus Hantavirus Hingga Awal Mei 2026
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.