Peringati Hari Tari Sedunia, Temanggung Gelar “Njoget Bareng Njo” dengan 500 Penari untuk Dorong Pengakuan Unesco pada Seni Jaran Kepang
📅 Senin, 28 Apr 2025, 16:05 WIB | Oleh: Henri pelupessy
Doc: istimewa
TEMANGGUNG - Memperingati Hari Tari Sedunia, Kabupaten Temanggung akan menggelar sebuah acara spektakuler bertajuk “Njoget Bareng Njo”.
Ribuan mata akan tertuju pada flashmob massal yang melibatkan sekitar 500 penari, yang akan menampilkan tarian tradisional Jaran Kepang di depan gedung BCA Temanggung, tepatnya di area Citywalk, Kabupaten Temanggung,Jawa Tengah, Selasa (29/4).
Acara ini bukan sekadar hiburan, tetapi juga menjadi wadah untuk memperkenalkan serta memperjuangkan seni budaya lokal Temanggung agar mendapatkan pengakuan internasional.
Ketua Dewan Kesenian dan Kebudayaan Daerah (DKKD) Kabupaten Temanggung, Lukman Sutopo, mengatkan, tarian Jaran Kepang dipilih karena kesenian ini telah lama menjadi simbol budaya yang melekat erat di masyarakat Temanggung.
“Seni Jaran Kepang adalah salah satu warisan budaya yang tak hanya dikenal di Temanggung, tetapi juga memiliki nilai historis yang penting dalam perkembangan kesenian di Indonesia. Melalui acara ini, kami berharap dapat menarik perhatian UNESCO untuk mengakui Jaran Kepang sebagai Intangible Cultural Heritage,” jelas Lukman.
Sebaiknya Anda baca juga:
Selain penampilan flashmob Jaran Kepang, acara “Njoget Bareng Njo” juga akan menampilkan berbagai kesenian lokal lainnya, seperti Topeng Ireng, serta pementasan lagu tradisional Binarung Jaran Manggung.
Kegiatan ini terbuka untuk umum, dengan undangan khusus bagi para seniman, penari, dan masyarakat luas untuk bergabung merayakan kekayaan budaya Temanggung.
Lebih lanjut, Lukman menuturkan bahwa Jaran Kepang Temanggung, melalui Jaranan Mergowati Temanggung, sedang diusulkan bersama seni sejenis dari daerah lain sebagai warisan budaya tak benda Indonesia untuk UNESCO.
Sebaiknya Anda baca juga:
Proses pengajuan ini melibatkan Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia, serta Badan Pelestari Kebudayaan Wilayah X Yogyakarta dan Jawa Tengah. “Seni Jaranan termasuk dalam usulan Indonesia, bersama Suriname, untuk kategori Seni Pertunjukan dan Ritual. Kami berharap proses ini dapat berjalan lancar dan segera diakui secara internasional,” tambahnya.
Menurut penelitian budayawan dari Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta, Slamet mengataka, Jaran Kepang memiliki nilai sejarah yang mendalam, berakar dari wilayah Desa Mergowati, Kecamatan Kedu, yang pada masa Kerajaan Mataram dikenal sebagai pusat pengembangan kuda-kuda ksatria.
Oleh karena itu, tarian ini bukan hanya seni pertunjukan, tetapi juga memiliki makna ritual dan sosial yang mendalam.
Dengan lebih dari 900 kelompok seni Jaran Kepang yang tersebar di berbagai kecamatan di Temanggung, Lukman berharap bahwa upaya ini dapat membantu melestarikan dan memperkenalkan seni ini ke generasi mendatang.
"Jaran Kepang telah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Temanggung, dari kalangan anak-anak hingga orang dewasa. Ini adalah simbol dari kekuatan budaya yang terus berkembang," ujar Lukman.
Melalui acara “Njoget Bareng Njo”, diharapkan masyarakat semakin bangga dan peduli untuk menjaga serta melestarikan Jaran Kepang sebagai bagian dari identitas budaya Indonesia yang patut diperkenalkan ke dunia internasional.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!