'Ekonomi Fransiskus' Warisan Tak Ternilai Pope Francis

Sabtu, 26 Apr 2025, 09:50 WIB

JAKARTA-Paus Fransiskus yang meninggal dunia pada 21 April lalu mewariskan paradigma ekonomi baru yang umat Katolik biasa sebut sebagai "Ekonomi Fransiskus" atau The Economy of Francis.

Ekonomi Fransiskus ini kembali diulas oleh Licentiat Ekologi Integral Universitas Antonianum, Roma, romo Alsis Goa, OFM. Ini terkait dengan surat edaran Paus "Laudato Si", ensiklik Apostolik Paus Fransiskus yang membicarakan Ibu Bumi sebagai rumah bersama. 

Ket. Foto: Paus Fransiskus saat menyapa kaum marginal — Sumber: istimewa

Romo Alsis menjelaskan, The Economy of Francis adalah sebuah gerakan global yang diinisiasi oleh Paus Fransiskus untuk mendorong kaum muda, para ekonom, pengusaha, dan pembuat perubahan sosial di seluruh dunia, agar membentuk sistem ekonomi baru. "Sebuah sistem ekonomi yang diinspirasi oleh spiritualitas santo Fransiskus Assisi dan berorietasi pada bonum commune, berkeadilan, inklusif, dan berkelanjutan,"urai romo Alsis dari Roma pada Koran Jakarta, Sabtu (26/4).

Paus Fransiskus dalam konferensi pers pertamanya di aula Paulus VI pada 16 Maret 2013 mengungkapkan bahwa saat terpilih menjadi Paus, pikirannya langsung tertuju pada Santo Fransiskus dari Assisi “dan itulah bagaimana nama itu muncul di dalam hatiku: Fransiskus dari Assisi. Bagiku, dia adalah manusia kemiskinan, manusia perdamaian, manusia yang mencintai dan peduli terhadap ciptaan….ah, betapa saya menginginkan Gereja yang miskin dan untuk orang miskin!,"tulis romo Alsis meniru ucapan Paus Fransiskus.

Dia menerangkan, perhatian dan pilihan bagi orang miskin, adalah visi pelayanan Paus Fransiskus. Hal ini terungkap dalam banyak dokumennya terutama dalam ensiklik Evangelii Gaudium yang berbicara tentang komitmen nyata kepada kaum miskin: kritik terhadap struktur yang menindas, dan keterlibatan dalam membangun keadilan sosial (bdk. paragraf 186 – 216), dan ensiklik Laudato Si yang berbicara tentang tuntutan bagi perawatan bumi rumah bersama yang harus selalu memprioritaskan orang miskin, karena merupakan kelompok yang paling merasakan dampak dari kerusakan bumi – the cry of the earth and the cry of the poor (paragraf 2, 49). 

 Selain seruan profetis bagi orang miskin yang termaktub dalam dua ensikliknya ini, Paus Fransiskus juga mendorong dan mengembangkan visi ekonominya yang dikenal dengan Ekonomi Fransiskus (The Economy of Francis).

Beberapa prinsip the Economy of Francis yakni pertama, manusia dan martabatnya di pusat Ekonomi. Paus Fransiskus menentang apa yang ia sebut sebagai ekonomi eksklusi dan ketidakpedulian, yang melihat manusia sebagai angka. Ekonomi harus melayani manusia, bukan sebaliknya. "Karena itu setiap kebijakan dan sistem ekonomi harus menghormati dan melindungi martabat manusia, terutama yang paling rentan,"ucap romo Alsis

 Kedua, ekonomi yang berpihak pada orang miskin. Paus Fransiskus menyerukan agar ekonomi (dengan semua sistemnya) harus adil dan tidak melupakan mereka yang paling kecil dan lemah. 

Ketiga, ekonomi ekologis dan berkelanjutan (ekologi integral). Paus Fransiskus menekankan bahwa ekonomi tidak bisa dilepaskan dari lingkungan. Prinsip ini terinspirasi dari ensiklik Laudato Si’ — bahwa keadilan ekologis dan keadilan sosial saling terhubung. "Karena itu perlu model pembangunan yang tidak merusak lingkungan, tetapi menempatkan rumah bersama, bumi, sebagai subjek moral dan bukan sekadar objek eksploitasi,"tegasnya

Keempat, model ekonomi alternatif. Paus Fransiskus mendorong munculnya sistem ekonomi yang berdasarkan pada koperasi, kewirausahaan sosial, ekonomi berbagi, dan inisiatif lokal yang etis dan inklusif, serta berorientasi pada bonum commune (kesejahteraan umum).

Jika dikaitkan lebih luas lahi, Ekonomi Fransiskus ini ada kaitannya dengan Sustainable Development Goals (SDGs) atau tujuan pembangunan berkelanjutan yang merupakan kesepakatan global dan nasional yang bertujuan meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Di dalamnya memuat pertumbuhan ekonomi yang tidak merusak lingkungan (cinta ekologi) dan bagaimana pertumbuhan ekonomi harus mendorong kesejahteraan dan memperbaiki ekonomi orang miskin.

Masalah Industri Ekstratif 

Dosen Teologi Moral Sekolah Tinggi Filsafat (STF) Driyarkara Jakarta, Frumensius Gions OFM, mengaitkan masalah industri pertambangan ini dengan "Ekonomi Fransiskus" ini.

Romo Frumens mengatakan, salah satu makna bensiklik Laudato Si’ adalah peduli terhadap lingkungan, yakni bagaimana manusia itu melihat lingkungan sebagai bagian yang integral dengan dirinya.

"Mencintai lingkungan itu bukanlah pilihan, tetapi sesuatu yang melekat dalam diri manusia. Karena itu, mestinya negara mengurangi atau menghentikan aktivitas industri ekstratif," tegas romo Frumen.

Kunjungan Paus Fransiskus ke Indonesia tahun lalu ujar romo Frumens mau memberi pesan kepada kita bahwa bahwa bumi ini ialah rumah bersama. "Oleh karena itu, marilah kita merawatnya secara bersama-sama,"ucap romo Frumens.

Paus Fransiskus akan dimakamkan pada Sabtu (26/4). Melalui surat wasiatnya ia menuliskan bahwa dirinya dimakamkan di Basilika Santa Maria Maggiore di Roma, Italia, bukan di Basilika St. Petrus yang terletak di Vatikan seperti kebanyakan pendahulunya. 

Selain kerena kerap berdevosi di Basilika ini, alasan lainnya menurut Licentiat Sejarah Gereja Universitas Gregoriana Roma, Italia, romo Faris Jebada OFM, dalam sejarahnya dari keempat basilika besar ini, hanya basilika Santa Maria Maggiore yang dibangun oleh gereja dan orang orang roma (rakyat biasa). Sementara tiga basilika lainnya dibangun oleh kaisar konstantinus (kaisar Romawi) yang memerintah pada tahun 306-337 Masehi.

"Nah, ini adalah simbol dari beliau bahwa dia ingin memisahkan antara Gereja Imperial ala konstantinus menuju Gereja Rakyat yang disimbolkan oleh Gereja Santa Maria Maggiore. Ini konsisten dengan sikapnya yang melihat bahwa gereja lebih sebagai gereja bagi orang miskin dan sederhana,"pungkasnya.

Redaktur: Muchamad Ismail

Penulis: Erik, Fredrikus Wolgabrink Sabini

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.