Wamen Investasi Sebut Perusahaan Migas RI Punya Potensi Investasi di AS
Senin, 14 Apr 2025, 18:00 WIBJakarta - Wakil Menteri Investasi dan Hilirisasi/Wakil Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Todotua Pasaribu menyebut bahwa sektor minyak dan gas (migas) menjadi salah satu komoditas strategis yang berpotensi menjadi pintu masuk investasi perusahaan Indonesia ke Amerika Serikat (AS).
Hal itu ia sampaikan menanggapi rencana pemerintah yang mendorong perusahaan Indonesia untuk berinvestasi di AS sebagai bagian dari bahan negosiasi penurunan tarif resiprokal AS terhadap Indonesia sebesar 32 persen.
âSalah satu yang strategis kan oil and gas (migas). Kita lihat line up bisnisnya, kan sebenarnya beberapa investasi kita yang di luar kan sudah pernah terjadi, salah satunya itu industri nya di oil and gas melalui anak perusahaan Pertamina, tapi kita lihat lah strategisnya seperti apa,â kata Todotua usai menghadiri Rapat Koordinasi Terbatas Persiapan Pertemuan dengan Pemerintah AS terkait Tarif Perdagangan di Kantor Kemenko Perekonomian, Senin (14/4).
Sejumlah perusahaan BUMN telah memiliki pengalaman investasi di luar negeri. Hal ini dapat menjadi dasar strategis untuk melanjutkan atau memperluas ekspansi ke AS.
Todotua menjelaskan, bentuk investasi bisa beragam, mulai dari akuisisi sumur migas, kegiatan di sektor hulu (upstream), maupun menengah (midstream) seperti pembangunan kilang lepas pantai (offshore).
Dirinya juga menekankan bahwa strategi investasi luar negeri Indonesia, termasuk ke AS, akan semakin fleksibel dengan kehadiran lembaga Badan Pengelola Investasi (BPI) Danantara.
âArtinya dengan adanya Danantara kan sebenarnya strategik, baik kita berinvestasi dalam negeri maupun di luar negeri kan bisa jauh lebih fleksibel daripada sebelum (ada) Danantara,â jelasnya.
Ia berharap, strategi investasi di AS yang dijalankan nantinya tetap melibatkan perusahaan-perusahaan milik negara.
Selain migas, sektor teknologi informasi juga masuk dalam radar potensi investasi.
Menurut Todotua, berinvestasi di perusahaan berbasis teknologi (IT) seperti kecerdasan artifisial (AI) di AS dapat memberikan keuntungan strategis bagi pengembangan riset dan inovasi nasional.
âBisa juga kalau IT kan mungkin kita juga bisa untuk mendevelop R&D (riset dan pengembangan) kita ke depan. Kenapa enggak kita berinvestasi misalnya di perusahaan AI yang ada di luar? Itu kan strategik, karena kan dengan kita masuk berinvestasi sebenarnya kita bisa dapat kembaliannya nya Itu dalam bentuk strategik R&D kita ke depan,â terangnya.
Meski belum merinci perusahaan mana yang akan terlibat dalam rencana investasi itu, Todotua menyebut model investasi yang akan diadopsi bisa berbentuk kombinasi atau kolaborasi.
Redaktur: Andreas Tanjung
Penulis: Antara
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.