Tiongkok Resmikan Teleskop Radio Baru di Antarktika

Rabu, 09 Apr 2025, 01:00 WIB

Wuhan - Tiongkok meluncurkan "Three Gorges Antarctic Eye", yakni teleskop radio/gelombang milimeter dengan apertur 3,2 meter, di sebuah stasiun penelitian ilmiah di Antarktika.

Diluncurkan secara resmi di Stasiun Zhongshan milik Tiongkok di Antarktika pada Kamis (3/4), teleskop yang dikembangkan bersama oleh Tiongkok Three Gorges University (CTGU) dan Shanghai Normal University (SHNU) tersebut semakin memperkuat kemajuan Tiongkok dalam bidang astronomi Antarktika.

Ket. Foto: Teleskop Three Gorges Antarctic Eye terlihat di Antartika Diluncurkan secara resmi di Stasiun Zhongshan di Antartika, Kamis (3/4). — Sumber: Foto: China Three Gorges University (CTGU)


"Three Gorges Antarctic Eye" secara resmi memulai observasi ilmiah terhadap garis spektrum molekul hidrogen netral dan amonia di Galaksi Bimasakti, yang memberikan data penting untuk membantu mengungkap dinamika gas antarbintang serta proses pembentukan bintang, kata CTGU kepada Xinhua pada Senin (7/4).


Seperti dikutip dari Antara, perangkat itu akan memperluas pengamatan lintas radio ke pita gelombang milimeter frekuensi rendah, mendorong kemajuan teknologi untuk alat astronomi Antarktika generasi berikutnya, ujar Yi.

"Teleskop ini telah menembus hambatan-hambatan teknis utama dalam konstruksi observatorium Antarktika, dan membangun landasan bagi teleskop gelombang submilimeter masa depan di Antarktika," kata Zhang Yi, lektor kepala di SHNU sekaligus anggota tim ekspedisi Tiongkok di Antarktika yang saat ini bekerja di benua tersebut.

Zeng Xiangyun, lektor kepala di CTGU, mengungkapkan Antarktika merupakan benua terdingin di Bumi, dan suhu dingin ekstrem serta angin kencang menimbulkan tantangan signifikan bagi pengembangan dan pemasangan teleskop radio.

Selain itu, Tiongkok berencana memasang susunan teleskop baru di sekitar Kutub Selatan, yang prototipenya telah menyelesaikan operasi uji coba di benua tersebut. Dinamakan Susunan Pengamatan Astronomi Domain Waktu TianMu Antartika, proyek ini diharapkan terdiri dari 100 teleskop berdiameter kecil dengan bidang pandang luas, masing-masing mencakup area langit seluas 10.000 derajat persegi.

Sejak 2023, CTGU aktif berkolaborasi dengan SHNU untuk mengatasi berbagai tantangan dalam observasi astronomi di lingkungan ekstrem.

Pengamatan Kosmik

Selama dua tahun terakhir, para ilmuwan telah mengatasi rintangan teknis utama, seperti mengadaptasi peralatan untuk bertahan dalam suhu di bawah nol derajat dan angin berkekuatan badai di Antarktika, kata Zeng.

He Weijun, ketua Partai di CTGU, menekankan pentingnya proyek tersebut.

"Keberhasilan pengoperasian 'Three Gorges Antarctic Eye' menunjukkan pencapaian universitas kami terkait peralatan penelitian kutub," tutur He.

Pembangunan "Three Gorges Antarctic Eye" menegaskan komitmen Tiongkok dalam penelitian astronomi di Antarktika, memanfaatkan kondisi unik benua tersebut untuk pengamatan kosmik. Inisiatif ini juga memperkuat infrastruktur ilmiah Tiongkok di wilayah tersebut


"Hal itu mencerminkan semangat ilmuwan Tiongkok untuk mencapai level baru dalam ilmu pengetahuan dan teknologi, serta peran vital universitas dalam inovasi nasional," imbuhnya.

Setelah teleskop tersebut beroperasi secara stabil, CTGU berencana mengirim para ilmuwan ke Stasiun Zhongshan untuk melakukan ekspedisi ilmiah di lapangan (on-site).


Tiongkok terus memperluas kemampuannya dalam bidang astronomi di Antarktika, memanfaatkan kondisi atmosfer murni di sana untuk pengamatan inframerah dan gelombang milimeter.

Sebelumnya, para astronom Tiongkok telah mengidentifikasi sebuah bintang berkecepatan sangat tinggi (runaway star) yang terlontar dari klaster berbentuk bola M15, memberikan bukti kuat tentang keberadaan lubang hitam bermassa menengah (intermediate-mass black hole/IMBH), sebuah mata rantai yang telah lama hilang dalam pemahaman kita tentang evolusi lubang hitam.

Penemuan itu dipimpin oleh para peneliti dari Observatorium Astronomi Nasional China (National Astronomical Observatories of China/NAOC) di bawah naungan Akademi Ilmu Pengetahuan China (Chinese Academy of Sciences/CAS) yang berkolaborasi dengan berbagai institusi dan diterbitkan sebagai artikel utama di jurnal National Science Review.

Redaktur: Andreas Chaniago

Penulis: Selocahyo Basoeki Utomo S

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.