Kalap Saat Buka Puasa Tak Hanya Menguras Dompet, Tapi Juga Memicu Bencana Lingkungan

Kamis, 13 Mar 2025, 15:35 WIB

Rian Mantasa Salve Prastica, The University of Queensland

Fenomena sampah makanan saat Ramadan menjadi masalah tahunan di Indonesia, terutama akibat kebiasaan kalap makan dan hungry buying setelah seharian berpuasa. Rasa lapar yang menumpuk selama puasa sering kali membuat kita membeli atau mengambil makanan secara berlebihan tanpa mempertimbangkan kapasitas perut.

Ket. Foto: — Sumber: The Conversation/Shutterstock

Kebiasaan ini tidak hanya berdampak pada pemborosan uang dan gangguan kesehatan, tetapi juga meningkatkan beban sampah yang dapat merusak lingkungan.

Saat Ramadan, jumlah sampah organik yang berasal dari sisa makanan di Indonesia naik rata-rata 20%. Hal ini tentu menimbulkan beban bagi lingkungan, mengingat Indonesia merupakan salah satu penghasil sampah makanan terbesar di dunia.

Ke mana sampah pergi?

Setelah makanan terbuang dan menjadi food waste, pertanyaannya adalah, “Ke mana akhirnya sampah ini berlabuh?”

Dari rumah tangga, restoran, atau tempat berbuka puasa, sampah organik biasanya dikumpulkan di tempat sampah, lalu diangkut oleh petugas kebersihan ke tempat pembuangan sementara (TPS) sebelum akhirnya dibawa ke landfill alias tempat pembuangan akhir (TPA).

Sayangnya, di Indonesia, sistem pengolahan sampah masih menghadapi berbagai tantangan. Sebagian besar sampah makanan langsung dibuang begitu saja ke TPA, tanpa proses pemilahan atau pengolahan lebih lanjut, sehingga menambah beban pada landfill yang sudah hampir penuh.

Ledakan gas sampah makanan dan longsor

Sampah makanan menimbulkan dampak lingkungan yang luas, terutama dalam pengelolaan sampah di tempat pembuangan akhir, di antaranya:

1. Cemari sumber air sekitar

Sampah organik yang tidak terkelola dengan baik akan menghasilkan leachate (lindi), yaitu limbah cair yang meresap ke dalam tanah dan mencemari sumber air di sekitarnya.

Lindi dapat memperburuk kualitas air tanah, merusak tanah di kawasan pertanian, serta berpotensi menyebarkan bibit penyakit pada manusia.


          

2. Perburuk kondisi iklim

Selain itu, sampah makanan yang membusuk di tempat pembuangan juga menghasilkan gas metana (CH?). Gas ini memiliki efek pemanasan global 28 kali lebih kuat dari karbon dioksida (CO?), sehingga berkontribusi terhadap perubahan iklim.

3. Picu ledakan, kebakaran, dan longsor

Gas metana yang terperangkap di tumpukan sampah juga dapat terkumpul dan menciptakan tekanan tinggi. Jika tidak dikelola dengan baik, gas tersebut berisiko meledak sehingga dapat memicu kebakaran besar.

Ketika ledakan terjadi, api yang menyala akan sulit dipadamkan karena sampah organik terus menghasilkan gas metana baru. Kebakaran di landfill sering berlangsung selama berhari-hari hingga berpekan-pekan, mengeluarkan asap beracun yang mencemari udara dan membahayakan kesehatan warga sekitar.

Akumulasi sampah yang terus bertambah juga menyebabkan overload di TPA, yang dapat meningkatkan tekanan pada struktur landfill.

Apabila kelebihan beban, bencana bisa terjadi, seperti Tragedi Ledakan Leuwigajah 2005 di Jawa Barat yang menyebabkan banyak korban jiwa, hingga longsor di TPA Cipeucang.

Menekan food waste: bijak berbuka puasa

Saat Ramadan, kita perlu lebih bijak saat berbuka puasa untuk mengurangi sampah makanan langsung dari sumbernya (manusia).

Dengan mengambil makanan secukupnya, merencanakan konsumsi dengan baik, serta menghindari pembelian impulsif hanya karena promo atau porsi besar, kita bisa mengurangi limbah makanan yang tidak perlu.

Apakah mengurangi konsumsi cukup untuk mencegah bencana? Sayangnya tidak. Pengelolaan sampah organik yang sudah terlanjur ada juga harus diperhatikan.

Sebelum sampai ke tempat pembuangan akhir, sampah makanan bisa kita manfaatkan kembali, misalnya sebagai kompos untuk pertanian atau pakan ternak. Ada juga teknologi biodigester untuk mengelola sampah menjadi energi.

Pemerintah juga harus memerbaiki pengelolaan sampah di tempat pembuangan akhir. Harus ada pemantauan kualitas lindi untuk mencegah pencemaran air tanah dan penyebaran penyakit di sekitar TPA.

Gas metana yang dihasilkan dari sampah organik juga sebaiknya tidak dibiarkan begitu saja, melainkan dimanfaatkan sebagai energi alternatif untuk menyalakan kompor ataupun pembangkit listrik.

Terakhir, pemerintah juga perlu mendesain area penumpukan sampah yang lebih aman dan stabil untuk mencegah bencana longsor seperti yang pernah terjadi di berbagai TPA.

Dengan kombinasi konsumsi bijak saat berbuka dan pengelolaan sampah yang lebih baik, kita dampak meredam dampak negatif sampah makanan, baik dari segi lingkungan maupun kesehatan masyarakat.The Conversation

Rian Mantasa Salve Prastica, PhD student studying urban stormwater management, Environmental Engineering research group, School of Civil Engineering, The University of Queensland

Artikel ini terbit pertama kali di The Conversation. Baca artikel sumber.

Redaktur: Redaksi Koran Jakarta

Penulis: Tim Koran Jakarta

Berita Terbaru

Ganjil Genap Jakarta Ditiadakan Selasa 25 Agustus 2026, Ini Daftar 25 Ruas Jalan

Beroperasi 26 Agustus 2026, Ini Daftar 5 Stasiun Baru LRT Jakarta Kelapa Gading-Manggarai

TPOS Gedebage Ditargetkan Rampung 2027, Bandung Siapkan Teknologi Baru Olah 300 Ton Sampah per Hari

Desainer Masa Depan Wajib Kuasai AI hingga Bisnis, Kampus Diminta Jadi Ruang Eksperimen Kreatif

Bapemperda DKI Minta Naskah Akademik 16 Ranperda Prioritas 2027 Disiapkan Sejak Awal

Kemenhut Kerahkan 1.000 Polisi Hutan untuk Padamkan Karhutla di Kalimantan

67 Ribu Ton Beras Digerakkan ke NTT! BULOG Kirim Bantuan dari 4 Provinsi untuk Korban Bencana

Kurangi Kesenjangan, DPRD Jabar: Pembangunan di Jabar Harus Merata baik Perkotaan dan Pedesaan

Manggala Agni Sumatra Berjibaku Padamkan Karhutla di 17 Desa

Polda Banten Ungkap Sindikat Curanmor Spesialis Pick-up di 14 Lokasi

Tetap Tunjukkan Dedikasi dan Keberanian, Perwira polisi Terluka Kena Pecahan Kaca saat Gerebek Gudang Uang Palsu di Tangsel

93.782 Ton Beras Siaga! BULOG Antisipasi Bencana NTT Hingga 10x Masa Darurat

Gubernur Bali Minta Peradi Siapkan Pendampingan Hukum Perkuat Desa Adat

Wagub Rano Buka Jakarta Beat Society 2026: Komitmen Perluas Ruang Kreatif Musisi Lokal

Pemkab Lebak Bantu Pasarkan Produk UMKM Lewat Bazar

Dukung Penanganan Karhutla, Kemenhub Fasilitasi Penggunaan Pesawat Registrasi Asing

Kemenag Targetkan Keterlibatan 1.781.945 Peserta dalam Gema Selawat Sambut Maulid Nabi

Coba Lerai Perkelahian, Dua Polisi Dikeroyok Masa saat Karnaval di Blora

Gubernur Pramono Sebut Keluarga Kuat dan Masyarakat Peduli Jadi Kunci Kerukunan Jakarta

Dua Anggota Polisi Jadi Korban Pengeroyokan saat Karnaval HUT RI di Blora

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.