• Home
  • navigasi panah1
  • Rona
  • panah2
  • Studi Terbaru Ungkap Penur...

Studi Terbaru Ungkap Penurunan Berat Badan Dapat Terjadi pada Fase Awal Demensia

Minggu, 02 Mar 2025, 20:05 WIB

JAKARTA - Studi baru menunjukkan bahwa penurunan berat badan dan perubahan metabolisme dapat terjadi pada fase awal demensia, penurunan fungsi kognitif yang berpengaruh pada ingatan, pemikiran, dan kemampuan melakukan aktivitas sehari-hari yang sering terjadi pada orang berusia lanjut.

"Demensia berkembang selama bertahun-tahun sebelum gejalanya terlihat," kata Zimu Wu, PhD, peneliti penyakit kronis dan penuaan di Universitas Monash di Australia, selaku salah satu penulis hasil studi.

Ket. Foto: — Sumber: ANTARA/Baznas RI

"Studi ini menunjukkan bahwa penurunan berat badan dan perubahan metabolisme dapat terjadi selama fase awal," katanya sebagaimana dikutip dalam siaran Health pada 28 Februari 2025.

Dalam studi tersebut, para peneliti mengamati lansia sehat yang mengalami dan tidak mengalami demensia selama 11 tahun untuk menilai bagaimana faktor risiko kardiometabolik seperti obesitas, kolesterol tinggi, diabetes, dan tekanan darah tinggi bisa menjadi penanda awal demensia di kemudian hari.

Studi yang dilaksanakan tahun 2010 sampai 2022 dan melibatkan hampir 5.400 peserta itu memeriksa ukuran kesehatan kardiometabolik seperti indeks masa tubuh, lingkar pinggang, tekanan darah, serta kadar glukosa, trigliserida, LDL (kolesterol jahat), HDL (kolesterol baik), dan kolesterol total.

Pada akhirnya, ada 1.078 orang yang mengalami demensia dan 4.312 orang yang tidak mengalami demensia dalam studi tersebut.

Mereka yang mengalami demensia memiliki indeks masa tubuh dasar lebih rendah dan mengalami penurunan indeks lebih tajam mulai setidaknya 11 tahun sebelum didiagnosis demensia.

Di samping itu, studi yang diterbitkan di JAMA Network Open edisi Februari 2025 itu menunjukkan bahwa mereka yang mengalami demensia memiliki lingkar pinggang jauh lebih rendah 10 tahun sebelum diagnosis.

Orang dengan demensia juga mengalami peningkatan kadar kolesterol HDL yang lebih besar, khususnya antara 11 dan empat tahun sebelum diagnosis.

Meskipun hasil studi mungkin menunjukkan bahwa penurunan berat badan dapat meningkatkan risiko demensia, namun yang terjadi justru sebaliknya menurut Willa Brenowitz, PhD, MPH, ahli epidemiologi dan peneliti di Kaiser Permanente Center for Health Research.

"Penurunan berat badan dikaitkan dengan demensia karena demensia menyebabkan penurunan berat badan," katanya merujuk pada "hubungan sebab akibat terbalik" antara penurunan berat badan dan demensia.

Menurut Wu, ada beberapa alasan yang dapat menyebabkan hal itu terjadi.

"Penurunan berat badan mungkin merupakan tanda awal perubahan otak terkait demensia yang memengaruhi nafsu makan, metabolisme, dan fungsi harian," kata Wu.

"Perubahan gaya hidup yang terkait dengan perubahan otak ini, seperti lupa makan, kesulitan menyiapkan makanan, berkurangnya aktivitas fisik dan keterlibatan sosial, juga dapat menjadi penyebabnya," ia menambahkan.

Peningkatan kadar HDL di antara penderita demensia bisa jadi muncul karena tubuh merespons perubahan fungsi otak yang sangat dini, kata Wu.

Kendati demikian, masih diperlukan penelitian lebih lanjut untuk mengetahui hubungan pasti penurunan berat badan dengan demensia serta alasan yang mendasarinya.

Dalam banyak kasus, penurunan berat badan merupakan bagian umum dari penuaan, dan tidak selalu berarti bahwa seseorang akan mengalami masalah kognitif.

"Meskipun pola ini diamati, cara membedakan perubahan (berat badan) ini dari penuaan normal dalam situasi praktis berada di luar cakupan penelitian ini," kata Wu, menekankan perlunya penelitian lebih lanjut untuk mengetahuinya.

Penurunan berat badan yang tidak disengaja harus dipertimbangkan bersama dengan pengukuran lain seperti tes kognitif, neuro-imaging, dan biomarker untuk melihat apakah hal itu terkait dengan demensia atau hal lain.

Jika seseorang mengalami penurunan berat badan serta tanda-tanda demensia seperti perubahan dalam rentang perhatian, penilaian, pemecahan masalah, atau kemampuan komunikasi maka pemeriksaan lebih lanjut perlu dilakukan.

"Kesehatan kognitif sebaiknya diperiksa jika ada alasan potensial lain yang perlu dikhawatirkan, seperti seseorang menyadari bahwa dirinya atau anggota keluarganya mengalami lebih banyak masalah memori daripada sebelumnya, atau perubahan kognitif lainnya," kata Brenowitz. Ant/I-1

  • Demensia

Redaktur: Ilham Sudrajat

Penulis: Antara

Berita Terbaru

Jatim Hari Ini Cerah-Berawan, Gelombang hingga 3,7 Meter Mengintai Perairan Selatan

Gubernur Emanuel Melkiades Bawa Bantuan ke Tiga Titik Terdampak Gempa M7,7 di Riung

Real Madrid di Bawah Pelatih Mourinho Kalahkan Espanyol 2-1

Putus Akibat Gempa, Akses Jembatan Wae Dampek di Manggarai Timur Pulih

Kapal Kargo Muatan Bijih Besi Tujuan Singapura Tenggelam di Lepas Pantai India, Dua ABK Selamat

Kucuran Beras Capai 1,65 Juta Ton, Pemerintah Optimistis Rem Harga Beras di Puncak El Nino

BPBD Cilacap Tingkatkan Kesiapsiagaan Hadapi Ancaman Kekeringan Meteorologis

Menlu Tiongkok Wang Yi Temui Ketua DEN RI Luhut Panjaitan Bahas Investasi di Indonesia

Ratusan Rumah Adat Sade Ludes Terbakar, Pemkab Lombok Tengah Fokus Pulihkan Korban

Korea Utara Tuding Rencana Perluasan Anggaran Pertahanan Jepang Sebagai 'Persiapan Perang'

Brentford Kalahkan Tottenham Hotspur dengan Skor Telak 3-0

Pemprov NTT Percepat Perbaikan Infrastruktur Terdampak Gempa M7,7

Pemerintah Kota Batam Siapkan Subpenyalur BBM Nelayan di Pulau Rempang

Permudah Akses BBM Subsidi, Pemkot Batam Siap Bangun SPBU untuk Nelayan di Pulau Rempang

Harga Daging Ayam Ras di Dua Kabupaten di Riau di Atas Rp40.000/Kg

Film "The Odyssey" Laris di Korea Selatan, Lampaui 6 Juta Penonton

Balas Trump, Iran Peringatkan Negara yang Gabung dengan Sanksi AS Dianggap 'Musuh'

BMKG Prakirakan Sebagian Besar Wilayah RI Diprakirakan Cerah Berawan pada Minggu

Shopee Gandakan Donasi, Perkuat Gotong Royong Digital untuk Pemulihan Paska Gempa NTT

PT KAI Menilai Sejumlah Kegiatan di Purwokerto Tingkatkan Mobilitas Masyarakat

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.