- Home
-
- Luar Negeri
-
- AS Larang Pewarna Merah un...
AS Larang Pewarna Merah untuk Makanan karena Risiko Kanker
Kamis, 16 Jan 2025, 18:21 WIBWASHINGTON - Pemerintahan Presiden Amerika Serikat, Joe Biden, pada hari Rabu (15/1), mengumumkan larangan pewarna merah nomer 3, pewarna makanan dan obat kontroversial yang telah lama diketahui menyebabkan kanker pada hewan.
Dikutip dari The Straits Times, menurut kelompok kerja lingkungan nirlaba, puluhan tahun setelah bukti ilmiah pertama kali menimbulkan kekhawatiran, Red 3, demikian sebutan lainnya, saat ini digunakan dalam hampir 3.000 produk makanan di Amerika Serikat.
âFood and Drug Administration (FDA) mencabut izin penggunaan FD&C (Federal Food, Drug, and Cosmetic Act) Red No. 3 dalam regulasi zat aditif pewarna pada makanan dan obat-obatan yang ditelan," kata sebuah dokumen dari Departemen Kesehatan dan Layanan Kemanusiaan, yang dipublikasikan di Federal Register pada tanggal 15 Januari.
Keputusan ini menyusul petisi yang diajukan pada bulan November 2022 oleh Centre for Science in the Public Interest (CSPI) dan kelompok advokasi lainnya, yang mengutip âKlausul Delaneyâ - ketentuan yang mengamanatkan pelarangan bahan tambahan pewarna apa pun yang terbukti menyebabkan kanker pada manusia atau hewan.
Khususnya, FDA telah menetapkan sejak tahun 1990 bahwa Red 3 harus dilarang dalam kosmetik karena kaitannya dengan kanker tiroid pada tikus laboratorium.
Namun, bahan tambahan tersebut tetap digunakan dalam makanan, sebagian besar karena adanya penolakan dari industri makanan. Misalnya, produsen buah ceri maraschino mengandalkan Red 3 untuk mempertahankan warna merah khas produk mereka.
Zat ini juga terdapat dalam ribuan permen, makanan ringan, dan produk buah.
Amerika Serikat adalah salah satu negara ekonomi besar terakhir yang mengambil tindakan terhadap pewarna tersebut. Uni Eropa melarang penggunaannya pada tahun 1994, dan larangan serupa juga diterapkan di Jepang, Tiongkok, Inggris, Australia, dan Selandia Baru.
CSPI memuji keputusan itu sebagai sesuatu yang sudah seharusnya dan menyatakan harapan hal ini akan mengarah pada tindakan lebih lanjut terhadap bahan kimia lain yang berpotensi membahayakan dalam makanan.
âMereka tidak menambahkan nilai gizi apa pun, mereka tidak mengawetkan makanan - mereka hanya ada untuk membuat makanan tampak cantik,â kata Thomas Galligan, seorang ilmuwan di CSPI.
âTerdapat diskusi yang berkembang di seluruh spektrum politik mengenai bahan tambahan makanan dan bahan kimia, yang mencerminkan kegagalan FDA yang terus berlanjut," tambahnya.
Redaktur: Marcellus Widiarto
Penulis: Selocahyo Basoeki Utomo S
Berita Terkait:
-
Kenali Gejala Kanker Tiroid, Benjolan di Leher Bisa Jadi Tanda Awal
-
Pemkab Bogor Jadikan Sukamakmur Pusat Ekonomi Baru Dukung CDOB Bogor Timur
-
Polda Sumsel Sikat Komplotan "Pak Ogah" yang Resahkan Warga
-
Dorong Substitusi Impor, Kemenperin Pertemukan Industri Produsen dan Pengguna Pati Ubi Kayu
-
Kronologi Anggota Pasukan Bela Diri Jepang Masuk Tanpa Izin ke Kedubes China
-
Harga Emas Antam Kamis Pagi Ini Turun Kembali ke Rp2,850 Juta/Gr
-
Turun Tipis, Harga Emas Antam Hari Ini Rp2.340.000 per Gram
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.