Junta “Culik” Kaum Muda untuk Direkrut ke Militer

Sabtu, 04 Jan 2025, 02:50 WIB

YANGON – Kantor berita RFA pada Kamis (2/1) melaporkan bahwa pihak berwenang yang setia kepada junta Myanmar telah menangkap sekitar 250 pemuda di empat kota besar pada Desember lalu, dan penduduk mengatakan bahwa mereka sengaja menargetkan kaum muda untuk memaksa mereka bergabung dengan militer.

Jika dugaan itu benar, maka ini akan menjadi contoh terbaru dari junta yang menemukan cara-cara kreatif untuk mewajibkan warga negara saat mereka berjuang untuk mempertahankan kendali atas negara yang direbutnya dalam kudeta Februari 2021.

Ket. Foto: Dua pria sedang menaiki sepeda motor di Kota Mandalay pada akhir Oktober tahun lalu. Kantor berita RFA pada Kamis (2/1) melaporkan bahwa pihak polisi dan militer Myanmar menargetkan orang-orang terutama pemuda yang mengendarai sepeda motor, untuk direkrut — Sumber: AFP/Sai Aung Main

Penangkapan itu terjadi sekitar tujuh bulan setelah junta mulai melakukan wajib militer bagi kaum muda untuk menyokong barisan militernya yang semakin menipis di tengah kekalahan di medan perang. Sebuah undang-undang mewajibkan pria berusia 18-35 tahun dan perempuan berusia 18-27 tahun untuk menjalani wajib militer selama minimal dua tahun, dan sejak saat itu banyak anak muda yang meninggalkan negara itu.

Data yang dikumpulkan oleh RFA menunjukkan adanya lonjakan penangkapan pemuda di Yangon, Mandalay, Naypyitaw, dan Bago, pada Desember. Operasi-operasi tersebut digambarkan oleh penduduk sebagai “penculikan dan perekrutan paksa” secara terselubung, karena para petugas yang menangkap beroperasi pada malam hari, mengenakan pakaian preman dan mengendarai kendaraan pribadi.

Seorang penduduk Mandalay, yang seperti semua narasumber yang enggan disebutkan jati dirinya karena alasan keamanan, mengatakan bahwa polisi dan militer menargetkan orang-orang yang mengendarai sepeda motor, menyiratkan bahwa mereka berfokus pada orang-orang muda, yang lebih cenderung mengendarai kendaraan yang lebih murah.

“Karena orang-orang takut ditangkap, jalan-jalan tersebut sekarang bebas dari lalu lintas pejalan kaki di malam hari,” ungkap narasumber itu.

Sementara itu di kota terbesar di Myanmar, Yangon, ada sekitar 90 penangkapan, sebagian besar menyasar kaum pria, selama periode yang sama, kata seorang penduduk kota itu kepada RFA.

Warga itu pun mengatakan bahwa pihak berwenang tampaknya juga menyasar orang-orang berusia paruh baya untuk memenuhi kuota wajib militer. “Dulu mereka menargetkan orang-orang berusia antara 18 dan 35 tahun, tapi sekarang mereka menargetkan orang-orang berusia 45 tahun,” kata dia.

Sangkalan

Saat RFA mencoba menghubungi juru bicara junta, Mayor Jenderal Zaw Min Tun, untuk memberikan komentar mengenai peningkatan penangkapan anak muda, ia tidak memberikan tanggapan.

Seorang pejabat dari Badan Pusat Pemanggilan Pegawai Militer Rakyat mengatakan bahwa tidak ada perintah untuk merekrut wajib militer baru melalui cara-cara ilegal seperti penculikan. “Kami belum mengeluarkan perintah seperti itu,” kata pejabat itu. “Semua daerah dan negara bagian diwajibkan untuk melaksanakan panggilan wajib militer seperti yang diuraikan dalam Undang-Undang Wajib Militer Rakyat,” imbuh dia.

Menurut statistik perekrutan resmi, 40.000 orang telah dipanggil untuk wajib militer. Statistik ini tidak termasuk mereka yang telah menjalani wajib militer dengan cara ilegal.

Dilaporkan pula bahwa beberapa pemuda yang direkrut secara paksa oleh junta untuk wajib militer telah tewas dalam pertempuran dengan pasukan antijunta, sementara yang lain telah melarikan diri untuk bergabung dalam perlawanan terhadap militer. RFA/I-1

Redaktur: Ilham Sudrajat

Penulis: AFP

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.