Mengenal Demam Kelinci, Penyakit yang Kasusnya Melonjak di AS
Jumat, 03 Jan 2025, 20:19 WIBJAKARTA - Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika Serikat (CDC) melaporkan bahwa selama satu dekade terakhir, kasus dari penyakit Tularemia atau demam kelinci mengalami peningkatan sebesar 56 persen.
Dilansir dari Medical Daily, Jumat (3/1), demam kelinci adalah penyakit zoonosis yang langka tetapi serius yang menimbulkan risiko signifikan terhadap kesehatan manusia.
Infeksi bakteri yang disebabkan oleh Francisella tularensis ini ditularkan melalui gigitan serangga atau penanganan hewan yang terinfeksi secara tidak tepat, menghirup aerosol yang terkontaminasi, atau mengonsumsi air yang tercemar.
Meski demikian, penyakit itu tidak menular dari manusia ke manusia lain.
Tularemia dapat mempengaruhi berbagai bagian tubuh, termasuk kelenjar getah bening, kulit, mata, tenggorokan, paru-paru, dan usus.
Gejalanya bergantung pada rute masuknya bakteri ke dalam tubuh. Tanda-tandanya meliputi demam, pembengkakan kelenjar getah bening, tukak kulit, sakit tenggorokan, dan infeksi mata.
Dalam kasus yang parah, infeksi dapat menyebabkan peradangan di otak dan jantung, serta pneumonia.
Tidak ada vaksin untuk mencegah infeksi ini, tetapi dapat diobati dengan antibiotik. Namun, jika tidak diobati, infeksi ini berpotensi menyebabkan kematian pada lebih dari dua persen kasus, tergantung pada jenis bakteri yang menyebabkan infeksi.
"Selama tahun 2011â2022, 47 negara bagian melaporkan 2.462 kasus tularemia (0,064 per 100.000 penduduk), yang menunjukkan peningkatan insiden sebesar 56 persen dibandingkan dengan tahun 2001â2010,â kata CDC.
âInsiden tertinggi terjadi pada anak-anak berusia 5â9 tahun, pria yang lebih tua, dan penduduk Indian Amerika atau Penduduk Asli Alaska, yang insidennya sekitar lima kali lipat dari orang kulit putih," imbuh mereka.
Dalam laporan CDC, disebutkan apabila setengah dari semua kasus tularemia berasal dari hanya empat negara bagian, dengan Arkansas memimpin dengan 18 persen diikuti oleh Kansas dan Missouri masing-masing 11 persen dan Oklahoma sebesar 10 persen.
Ketika membandingkan insiden tularemia di antara ras yang berbeda, orang kulit putih mewakili mayoritas kasus sebesar 84 persen, diikuti oleh Indian Amerika/Penduduk Asli Alaska (AI/AN) sebesar sembilan persen, Hispanik atau Latino sebesar lima persen, Kulit Hitam atau Afrika-Amerika sebesar dua persen, dan Asia atau Penduduk Kepulauan Pasifik sebesar satu persen.
Peningkatan kasus baru-baru ini dapat terjadi karena lebih banyak orang yang terinfeksi atau sistem layanan kesehatan lebih baik dalam mengidentifikasi dan mendiagnosis penyakit tersebut.
Untuk mengurangi kejadian, CDC mendesak perlunya peningkatan kesadaran di antara penyedia layanan kesehatan, khususnya mereka yang bekerja dengan masyarakat suku untuk memastikan diagnosis dan pengobatan tularemia yang cepat dan akurat. Ant/I-1
Redaktur: Ilham Sudrajat
Penulis: Antara
Berita Terkait:
-
OIKN: AIIB Melihat IKN Sebagai Proyek Strategis dengan Potensi Besar
-
Bappenas Sebut Tak Mustahil Pertumbuhan Ekonomi Indonesia 8% Bisa Diraih
-
Belum Sebulan Menjabat, Direktur CDC Tiba-tiba Mundur
-
Bromo Panen Wisatawan Selama Libur Idul Adha
-
Tegas, Gubernur Sumsel Larangan Truk Batubara Lalui Jalan Umum
-
Minggu Pagi, Kualitas Udara Jakarta termasuk Kategori Sedang
-
Sambut Libur Sekolah, Ini Daftar Destinasi Wisata yang Menarik di Jakarta
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.