Generasi Muda Diajak Jaga Keberlanjutan Wayang Kulit
📅 Rabu, 18 Des 2024, 14:03 WIB | Oleh: Tim PenulisAjakan Ferry ini mendapat tanggapan positif dari masyarakat dan pelajar.
Mereka berharap dukungan pemerintah dan pihak terkait terus berlanjut agar seni budaya tradisional Indonesia semakin dikenal dan dicintai, baik di dalam maupun luar negeri.
Dengan semangat ini, harapan akan kebangkitan kesenian wayang kulit sebagai jati diri bangsa semakin menguat, terutama di tangan generasi muda yang penuh kreativitas dan inovasi.
Kearifan Lokal Pentingnya perhatian khusus terhadap pelestarian budaya wayang sebagai simbol kebangsaan.
Sebaiknya Anda baca juga:
Wayang bukan sekadar warisan budaya lokal, tetapi juga menjadi cerminan kearifan lokal yang memperkaya identitas bangsa.
“Pelestarian budaya wayangan tidak hanya tentang mempertahankan seni pertunjukan tradisional, tetapi juga menjaga nilainilai filosofis yang terkandung di dalamnya,” ujarnya.
Ia juga menambahkan melalui upaya pelestarian ini, generasi muda dapat memahami dan mengapresiasi warisan budaya yang kaya ini sebagai bagian tak terpisahkan dari identitas bangsa Indonesia.
Sebaiknya Anda baca juga:
“Komitmen terhadap pelestarian budaya wayangan harus didukung dengan berbagai langkah nyata, seperti pengembangan pendidikan seni, revitalisasi tempat pertunjukan, dan edukasi kepada masyarakat,” tambahnya.
Diharapkan, langkah-langkah konkret dari pemerintah dan masyarakat dapat memastikan kekayaan budaya wayangan tetap lestari dan terus memberi inspirasi bagi generasi mendatang.
Dengan penekanan ini, Ferry memastikan pelestarian budaya wayangan bukan hanya tanggung jawab pemerintah, tetapi juga merupakan komitmen bersama untuk melestarikan warisan budaya yang begitu berharga bagi bangsa Indonesia.
Lalu bagaimana sebenarnya sejarah wayang kulit dan apa saja ragamnya? Sebutan wayang berasal dari kata ‘Ma Hyang’ yang artinya menuju kepada roh spiritual, para dewa, atau sang kuasa.
Wayang sudah dimainkan sejak zaman dahulu sejak kerajaan Hindu-Buddha di mana sebagian besar masyarakat masih memiliki kepercayaan terhadap dewa-dewa.
Bahkan setelah pengaruh Islam masuk ke Tanah Air, wayang kulit juga digunakan oleh para wali sebagai media penyebaran agama di Pulau Jawa melalui bidang kesenian.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!