- Home
-
- Luar Negeri
-
- Kelompok Pemberontak Siap ...
Kelompok Pemberontak Siap Berunding dengan Junta
Kamis, 05 Des 2024, 02:10 WIBBANGKOK - Kelompok pemberontak etnis terbesar kedua di Myanmar mengatakan siap untuk melakukan perundingan yang dimediasi Beijing dengan junta militer guna mengakhiri pertempuran yang telah berlangsung lebih dari setahun yang telah merusak wilayah di sepanjang perbatasan dengan Tiongkok.
Tentara Aliansi Demokratik Nasional Myanmar (MNDAA) yang memiliki sekitar 8.000 anggota pejuang, telah bertempur melawan militer Myanmar selama lebih dari satu dekade untuk memperjuangkan otonomi bagi etnis minoritas Kokang di Negara Bagian Shan utara.
Tahun lalu, kelompok pemberontak ini dan dua kelompok pemberontak sekutu lainnya melancarkan serangan terhadap militer dan merebut sebagian besar Negara Bagian Shan, termasuk tambang giok dan jalan raya perdagangan ke Tiongkok yang menguntungkan.
Pekan lalu, sekutu MNDAA, Tentara Pembebasan Nasional Ta'ang (TNLA), mengatakan pihaknya pun siap untuk berunding dengan militer.
"Mulai hari ini dan seterusnya, kami akan segera menghentikan tembakan, dan tidak akan secara aktif menyerang tentara Myanmar," kata MNDAA dalam sebuah pernyataan yang dirilis pada Selasa (3/12) malam.
"Di bawah mediasi Tiongkok, kami bersedia terlibat dalam perundingan damai dengan tentara Myanmar terkait isu-isu seperti Lashio," kata kelompok itu, merujuk pada kota yang direbut para pejuangnya pada bulan Agustus dalam pukulan telak bagi junta.
Kelompok itu pun mengatakan bahwa MNDAA bersedia mengirim delegasi tingkat tinggi untuk terlibat dalam dialog dan berkonsultasi dengan militer Myanmar dan menyelesaikan konflik dan perbedaan melalui cara politik.
Belum Ditanggapi
Sementara itu media lokal masih melaporkan serangan udara terus berlanjut di wilayah yang dikuasai TNLA dan pihak junta pun belum menanggapi tawaran TNLA secara terbuka.
Sedangkan Tentara Arakan (AA), kelompok ketiga dalam aliansi pemberontak, masih memerangi militer di negara bagian pesisir Rakhine di wilayah barat Myanmar, yang menjadi lokasi proyek pelabuhan yang didukung Tiongkok dan India.
Tiongkok adalah sekutu utama dan pemasok senjata junta tetapi juga memelihara hubungan dengan kelompok pemberontak etnis yang menguasai wilayah dekat perbatasannya. Tiongkok sebelumnya telah berulang kali menyerukan agar pertempuran dihentikan di Negara Bagian Shan yang merupakan mata rantai utama dalam inisiatif Jalur Sutra Baru.
Awal bulan ini, Beijing mengatakan kepala MNDAA datang ke Tiongkok untuk menjalani perawatan medis setelah laporan berita di Myanmar mengatakan ia telah ditangkap atas perintah Tiongkok.
Myanmar adalah rumah bagi sekitar selusin kelompok pemberontak etnis yang telah berperang melawan militer selama beberapa dekade untuk mendapatkan otonomi dan kendali atas sumber daya yang menguntungkan termasuk batu giok, kayu, dan opium.
Beberapa pihak, termasuk TNLA, telah memberikan perlindungan dan pelatihan kepada Pasukan Pertahanan Rakyat yang baru muncul untuk memerangi militer setelah militer merebut kekuasaan dalam kudeta tahun 2021. AFP/I-1
Redaktur: Ilham Sudrajat
Penulis: AFP
Berita Terkait:
-
Persiapan Pemilu, Junta Myanmar Cabut Status Keadaan Darurat
-
BMW Bakal Luncurkan Empat Model Baru di GIIAS 2025, Apa Kelebihan dan Daya Tariknya?
-
Warga Temukan Kuburan Massal Etnis Rohingya yang Diduga Dibantai Pemberontak Myanmar
-
John Herdman Selangkah Lagi Tangani Timnas Indonesia, PSSI Tinggal Tunggu Kesepakatan Akhir
-
Pengolahan sampah berbasis komunitas kampus
-
Realisasi Nilai Investasi Lebak 2024 Melebihi Target
-
Lolos dari Sanksi, RI Incar Pasar Baja di Australia
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.