Warga Temukan Kuburan Massal Etnis Rohingya yang Diduga Dibantai Pemberontak Myanmar

Jumat, 15 Agu 2025, 05:59 WIB
DHAKA - Kelompok hak asasi manusia dan penyintas baru-baru ini menuduh kelompok pemberontak, Tentara Arakan Myanmar melakukan pembunuhan massal dan penyiksaan terhadap etnis Rohingya di negara bagian Rakhine, mirip dengan apa yang pernah dilakukan oleh penguasa militer negara tersebut.
Dalam keasaksian dari seorang etnis minoritas tersebut, Shamsul Alam, 43 tahun, mengatakan, ia menemukan kuburan massal di sebuah lokasi di negara bagian Rakhine, Myanmar. 
"Saya membahayakan diri saya dengan mendokumentasikan kematian ini," ujarnya sambil menunjukkan video di ponselnya, dalam tayangan di Al Jazeera baru-baru ini. 
Shamsul menceritakan, kuburan massal yang diduga merupakan hasil kekejaman Tentara Arakan Myanmar tersebut ia temukan saat mencari sisa-sisa anggota keluarganya yang terpisah di negara sarat konflik itu. 
"Di antaranya (korban pembantaian) terdapat 30 anggota keluarga saya. Saya sangat merindukan mereka dan saya harap video ini suatu saat dapat menjadi bukti bagi komunitas kami yang mencari keadilan," ujarnya. 
Kelompok HAM menuduh Tentara Arakan Myanmar telah terlibat dalam ratusan pembunuhan. Namun kelompok itu membantah, juru bicaranya, Khaing Thukha, menyebut bahwa dari ciri pakaian dan helm yang terdapat pada para korban merupakan identitas pasukan dewan militer teroris. 
Penyintas Rohingya lainnya, Nur Saleema, mensaksikan, ia menyaksikan kedua orang tuanya dibunuh saat Tentara Arakan Myanmar menyerang desanya. 
"Mereka memerintahkan penduduk meningalkan desa pada pukul sembilan. Tepat setelah pengumuman itu mereka datang dan membunuh orang-orang."
"Banyak yang melarikan diri tapi juga banyak yang tidak selamat. Saya melihat orang tua saya dan lainnya dibunuh di depan saya," kisahnya. 
Aktivis HAM dari Fortify Rights, John Quinley mengatakan, kelompok pemberontak tersebut terlibat dalam penahanan, penyiksaan, dan pembunuhan kaum Rohingya di negara bagian Rakhine. 
"Kami dari Fortify Rights bahkan mendokumentasikan kasus-kasus pemenggalan kepala. Kami menyerukan pengadilan International Criminal Court (ICC) untuk menyelidiki Tentara Arakan dan menahan pimpinan yang bertanggung jawab," ujarnya. 

Redaktur: Selocahyo Basoeki Utomo S

Penulis: Selocahyo Basoeki Utomo S

Berita Terbaru

Gempa M 5,2 Guncang Manggarai NTT, Ada Potensi Tsunami? Ini Penjelasan BMKG

Menang Dramatis! Lando Norris Rebut Juara GP Belanda 2026, Verstappen Tersingkir Usai Kecelakaan

Karya Kreatif Indonesia dan Karya Kreatif Benuanta 2026, Dorong kebangkitan UMKM dan Pertumbuhan Ekonomi Berkelanjutan

Karhutla di Tengah El Nino Ancam Ekonomi, Dampaknya Bisa Lebih Besar dari Nilai Hutan yang Terbakar

Pameran Arsip Asrul Sani Telusuri Jejak Kreatif Maestro Sastra dan Film

Kabut Asap Karhutla Selimuti Palembang, Jarak Pandang Kurang dari 50 Meter dan Kualitas Udara Berbahaya

QRIS Menjangkau 65,77 Juta Pengguna, Mayoritas Merchant Merupakan UMKM

Penyerapan Gabah Petani Capai 3,67 Juta Ton, Bulog Dekati Target 4 Juta Ton

Mendadak Gelar Ratas pada Malam Hari di Waktu Libur! Presiden Bahas Karhutla dan Bencana di NTT

Daun Pandan Tak Sekadar Aroma Khas, Ada Ikatan antara Hainan dan Indonesia yang Terjalin Semakin Erat

Kegiatan Gratis di HBKB Kenalkan Bahasa Isyarat kepada Masyarakat

Banten Siapkan Fasilitas Hoki Baru 2027, Target Cetak Atlet untuk PON 2032 hingga

Karhutla di Kalbar Capai 38 Ribu Hektare, BNPB Waspadai Ancaman Bencana Asap

Status Bandara IKN Bakal Diubah Jadi Bandara Umum

TNI Siagakan 73.766 Personel Tangani Karhutla di Berbagai Wilayah.

TNI Salurkan 695,17 Ton Bantuan untuk Korban Gempa NTT.

Perlu Audit Nasional PMB Jalur Mandiri PTN Buntut Kasus Unsoed

Kelas Menengah Menyusut Pertanda Kemajuan Pembangunan Indonesia Melambat

Pramono Siapkan 10.000 Bus Listrik untuk Atasi Polusi dan Kemacetan Jakarta

Komandan Lanud Sjamsudin Noor Turun Langsung Padamkan Karhutla di Kalsel

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.