Pemilik Pabrik Generasi ke-2 Tiongkok Beralih ke Sistem Digital untuk Atasi Tantangan

Sabtu, 02 Nov 2024, 02:35 WIB

Mengenakan atasan rajutan putih bersih, Robyn Qiu tampak tak serasi di pabrik perangkat keras milik orang tuanya yang berdebu dan berbentuk seperti hanggar di Tiongkok timur. Ia berada di sana hilir mudik seraya memberi arahan dengan penuh semangat sementara seorang asisten memfilmkannya secara streaming lewat telepon pintar.

Perempuan berusia 29 tahun ini adalah satu dari banyak pemilik pabrik generasi kedua yang berjuang untuk mengangkat sektor manufaktur negara tersebut dengan hanya mengandalkan keterampilan digital lokal untuk melawan melonjaknya beban biaya dan ketegangan geopolitik yang mendorong kliennya beralih ke pasar luar negeri.

Ket. Foto: Keterampilan Digital l Robyn Qiu sedang memfilmkan secara streaming kesibukan di pabrik perangkat keras milik orang tuanya yang berada di Kota Nantong, Provinsi Jiangsu, Tiongkok timur, pada 27 September lalu. Untuk mengangkat sektor manufaktur di negaranya, Qiu mengandalkan keterampilan digital demi bisa bersaing secara global. — Sumber: AFP/Hector RETAMAL

Qiu mengatakan bahwa ia tumbuh dengan suara bising mesin yang bekerja siang dan malam dan bekerja di bidang manufaktur bukanlah pilihan utamanya. Saat Qiu masih kecil, orang tuanya mendorongnya untuk bisa bekerja kantoran yang jauh dari debu dan kebisingan pabrik. "Bahkan ketika mereka baru saja mendirikan pabrik, tujuan dan harapan mereka adalah agar saya benar-benar memperoleh pendidikan yang baik dan keluar dari siklus petani," kata Qiu yang membeberkan riwayat orang tuanya yang berasal dari masyarakat agraris.

Namun setelah bertahun-tahun bekerja di bidang konsultasi, Qiu yang berpendidikan di Yale kini merasa bahwa ia memiliki tanggung jawab yang sangat kuat untuk berkontribusi kembali pada sektor manufaktur.

Qiu telah mendirikan bisnis pemasaran yang secara langsung menghubungkan pabrik dengan audiens asing, melalui video yang diunggah di Instagram dan TikTok, yang di Tiongkok hanya dapat diakses menggunakan VPN. Hal ini sangat kontras dengan cara berbisnis generasi sebelumnya yang sering kali melibatkan banyak perantara dan bergantung pada pembeli besar.

Dalam videonya, Qiu yang ceria berbicara dalam bahasa Inggris yang fasih, bercerita sambil membeli makanan ringan di Shanghai atau mendaftar zona manufaktur utama di Tiongkok sambil berjalan di sepanjang jalur perakitan pabrik.

Masalah yang dihadapi manufaktur milik orang tua Qiu, yang mendirikan pabrik tersebut pada era '90-an, merupakan bagian dari gelombang besar kewirausahaan yang menandai dekade pertama reformasi dan keterbukaan Tiongkok ketika bertransformasi menjadi negara manufaktur dan akhirnya menjadi ekonomi terbesar kedua dunia.

Namun, kenaikan upah di Tiongkok dan ketegangan geopolitik dengan mitra dagang termasuk dengan Amerika Serikat (AS), telah membuat lokasi alternatif seperti Kamboja dan Bangladesh semakin menarik bagi klien. Keluarga Qiu pun kehilangan pelanggan utama pada tahun 2010-an setelah menolak tawaran untuk memindahkan produksi mereka ke Kamboja.

Menurunnya permintaan domestik dalam beberapa tahun terakhir semakin membebani sektor ini, dengan indeks aktivitas pabrik resmi di Tiongkok yang mengalami kontraksi selama lima bulan berturut-turut sejak Mei.

Namun keluarga Qiu telah beradaptasi dan mereka baru-baru ini membeli peralatan yang lebih canggih untuk mengotomatisasi lebih banyak proses manufaktur. Mereka juga bereksperimen dengan membuat produk mereka sendiri, seperti membuat alat garis batas laser untuk penggunaan konstruksi, daripada hanya membuat komponen untuk klien.

Ciptakan Loyalitas

Apa yang dipikirkan dan dialami Robyn Qiu juga dirasakan oleh Rose Law, putri seorang pemilik pabrik kosmetik di Provinsi Guangdong bagian selatan. Law mengatakan kepada AFP bahwa tujuan pribadinya untuk meningkatkan manufaktur di negaranya termasuk mampu memberi dampak yang lebih positif pada sektor industri.

Law kini bertugas mengawasi pengembangan merek produk untuk bisnis keluarga yang merupakan sebuah langkah maju dalam rantai pasokan dari yang awalnya hanya membuat barang-barang merek lain.

Pabrik Law membuat sampo merek sendiri dengan kemasan dan formula yang terinspirasi oleh pengobatan herbal tradisional Tiongkok. Sekarang, Law melihat penciptaan loyalitas merek daripada tetap menjadi pemasok anonim sebagai cara menjaga pesanan tetap stabil dan menguntungkan.

"Di pasar yang kelebihan pasokan, sangat penting untuk dilihat dan dipercaya, dan media sosial adalah cara penting untuk mendapatkan visibilitas krusial itu," paparnya. Sukses secara daring, Qiu mengatakan reaksi terhadap postingan videonya amat luar biasa, dengan lebih dari 500 pembeli menghubunginya sejak Mei tahun ini, dan lebih dari 150.000 pengguna mengikuti halaman Instagram-nya.

Kesuksesannya di dunia maya juga diikuti oleh changerdai lainnya, sebutan dalam bahasa Mandarin untuk pemilik pabrik generasi kedua. Konten changerdai telah menjadi viral baik di dalam maupun luar negeri, walau terkadang secara tidak sengaja berubah menjadi meme.

Di platform domestik, drama video pendek enam episode berjudul The Empire of Towel yang dibuat oleh pabrik handuk changerdai, bahkan telah ditonton miliaran kali.

"Saat ini, jika Anda ingin melakukan pemasaran, Anda ingin menarik perhatian orang, Anda harus berinvestasi dalam video pendek," ucap Qiu. AFP/I-1

Redaktur: Ilham Sudrajat

Penulis: AFP

Berita Terbaru

UMKM Tegal Punya Harapan Baru, OJK Perkuat Akses Pembiayaan

Awal yang Baik bagi Madrid Bersama Mourinho Usai Tundukkan Espanyol

Program-program Unggulan Gorontalo akan Menuju Laut

Banjarmasin 5 Abad, Festival Tari Jadi Cara Rawat Tradisi Banjar

NU Menegaskan akan Menolak Penggunaan Uang dalam Muktamar. Politik Uang Itu Moral Bobrok

Jangan Tertipu! BP3MI Sulsel Ingatkan Warga Pilih Jalur Resmi Kerja di Luar Negeri

Awal yang Cantik di Periode Kedua, Mourinho bawa Madrid Kalahkan Espanyol 2-1

Lima Mahasiswa UI Bikin Gebrakan di AS, Jadi Satu-satunya Tim S-1 di Program Geosains Dunia

Mandi di Pantai Tuturuga Berujung Petaka, 4 Orang Terseret Ombak

Niat Awal Ingin Inspeksi, GM Pelindo Maumere Justru Berjibaku Selamatkan Korban Gempa Jatuh ke Laut

Hebat Prestasi Mendunia! Lima Mahasiswa UI Tembus Program Geosains di Houston

Jalan layang Bomang Buka Akses Warga Bojonggede dan Parung Langsung ke Cibinong

Pemkot Pariaman dan KKP Koordinasi Realisasikan Pembangunan Kampung Nelayan Merah Putih

Beras Indonesia Surplus 3,67 Juta Ton, Kok Harga di Daerah Masih Bisa Rp30 Ribu?

Inter Milan Rekrut Curtis Jones dari Liverpool, Kontrak hingga 2031

Kirab Ancak Agung Jember Kembali Bikin Sejarah, Rekor MURI Berhasil Dipecahkan!

Pemprov Gorontalo Perkuat Sektor Agro Maritim

Sungai Musi Bersih, Kota Palembang Asri! Wali Kota Dorong Aksi Peduli Lingkungan

Pemkot Palu Sasar 31.316 Penerima Manfaat Bantuan Pangan

Hasil Liga Spanyol: Mourinho Awali Periode Kedua di Madrid dengan Kemenangan 2-1 Atas Espanyol

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.