- Home
-
- Luar Negeri
-
- Bank Dunia: Jika Perang di...
Bank Dunia: Jika Perang di Timur Tengah Meluas Akan Berdampak pada Ekonomi Global
Kamis, 17 Okt 2024, 00:02 WIBWASHINGTON - Presiden Bank Dunia, Ajay Banga, pada hari Selasa (15/10), memperingatkan pelebaran signifikan perang Israel-Gaza dapat mengakibatkan dampak besar pada ekonomi global, dan menyebut hilangnya banyak nyawa warga sipil di wilayah tersebut sebagai "tidak dapat dibenarkan."
Berbicara dalam wawancara Reuters NEXT Newsmaker, Banga mengatakan perang sejauh ini hanya berdampak relatif kecil terhadap ekonomi global, tetapi pelebaran konflik yang signifikan akan menarik negara lain yang merupakan kontributor lebih besar terhadap pertumbuhan global, termasuk eksportir komoditas.
"Pertama-tama, saya pikir hilangnya nyawa yang tak terbayangkan ini - wanita, anak-anak, orang lain, warga sipil, sungguh tidak dapat diterima oleh semua pihak. Dampak ekonomi dari perang ini, di sisi lain, sangat bergantung pada seberapa luas penyebarannya," kata Banga.
"Jika hal ini menyebar secara regional, maka ini akan menjadi masalah yang sama sekali berbeda karena sekarang Anda mulai masuk ke tempat-tempat yang merupakan penyumbang yang jauh lebih besar bagi ekonomi dunia, baik dalam bentuk dolar, tetapi juga dalam bentuk mineral, logam, minyak, dan sejenisnya," katanya.
Dikutip dari The Straits Times, beberapa negara Barat mendorong gencatan senjata antara Israel dan Lebanon, serta di Gaza, meskipun Amerika Serikat, sekutu terkuat Israel, telah menyatakan dukungan berkelanjutannya dan mengirimkan sistem antirudal dan pasukan.
Banga mengatakan kerusakan akibat perang dari serangan Israel terhadap Gaza kini mungkin mencapai kisaran 14-20 miliar dollar AS, dan kerusakan akibat pemboman Israel di Lebanon selatan akan menambah total kerusakan regional tersebut.
Banga mengatakan Bank Dunia telah memberikan 300 juta dollar AS, enam kali lipat dari jumlah yang biasanya diberikan, kepada Otoritas Palestina untuk membantu mengelola krisis di lapangan, tetapi jumlah tersebut kecil dibandingkan dengan "jumlah besar" yang pada akhirnya dibutuhkan.
Ia mengatakan, bank pembangunan multilateral itu juga telah mengumpulkan sekelompok pakar dari Yordania, Israel, Palestina, Eropa, AS, dan Mesir untuk mempelajari tindakan jangka pendek dan jangka panjang apa yang dapat diambil jika kesepakatan damai dapat dicapai.
"Kita harus mencari cara agar hal itu bisa didiskusikan dan diperdebatkan secara publik, lalu mencari sumber daya untuk itu," katanya, seraya menambahkan bahwa upaya itu akan membutuhkan sumber daya swasta dan publik.
Redaktur: Marcellus Widiarto
Penulis: Selocahyo Basoeki Utomo S
Berita Terkait:
-
Kemenperin Bangun Ekosistem Industri Fesyen Nasional Berbasis Potensi Daerah
-
Italia Bersikeras Sanksi Minyak Russia Tetap Dipertahankan
-
AS Roma Kalahkan Cagliari 2-0, Donyell Malen Jadi Pahlawan
-
Indonesia Bakal Punya Kapal Induk Pertama, Hibah dari Italia
-
Bapanas: Cabai Rawit Merah Rp50.115 Per Kg, Daging Ayam Rp38.458 Rabu Ini
-
Pertamina Pastikan Distribusi BBM untuk Arus Balik Lebaran di Sumut Aman
-
Gubernur Pramono: Dana ZIS Rp450 Miliar Akan Fokus untuk Pemberdayaan Ekonomi
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.