Vietnam Kutuk Serangan Brutal Tiongkok di LTS

Jumat, 04 Okt 2024, 02:30 WIB

HANOI - Kementerian Luar Negeri Vietnam pada Rabu (2/10) mengecam perilaku brutal Tiongkok setelah terjadi serangan dengan kekerasan terhadap nelayan Vietnam di Laut Tiongkok Selatan (LTS) yang disengketakan.

10 nelayan Vietnam dilaporkan mengalami luka-luka setelah dipukuli dengan tongkat besi dan ikan serta peralatan penangkap ikan senilai ribuan dollar dirampas pada Minggu (29/9) lalu di lepas pantai Kepulauan Paracel, sebuah kepulauan di jalur perairan kaya sumber daya yang diklaim oleh Tiongkok, Vietnam, Filipina, Taiwan, Malaysia, dan Brunei.

Ket. Foto: Kapal Penjaga Pantai Tiongkok menggunakan kanon air ke kapal Vietnam pada Mei 2014 lalu. Pada Rabu (2/10), Vietnam memprotes perilaku brutal Tiongkok setelah terjadi serangan dengan kekerasan terhadap nelayan Vietnam di LTS. — Sumber: AFP/VIETNAMESE FOREIGN MINISTRY

"Vietnam sangat prihatin, geram, dan dengan tegas memprotes perilaku brutal oleh pasukan penegak hukum Tiongkok terhadap nelayan dan kapal penangkap ikan Vietnam yang beroperasi di Kepulauan Hoang Sa (Paracel) di Vietnam," kata juru bicara Kementerian Luar Negeri Vietnam, Pham Thu Hang, dalam sebuah pernyataan.

"Kami telah melayangkan protes keras kepada Kedutaan Besar Tiongkok di Hanoi dan menuntut agar Tiongkok menghormati kedaulatan Vietnam, menyelidiki insiden tersebut, dan menghentikan tindakan seperti itu lebih lanjut. Tindakan pasukan penegak hukum Tiongkok di atas secara serius melanggar kedaulatan Vietnam atas kepulauan tersebut," imbuh dia.

Surat kabar milik pemerintah Vietnam,Tien Phong, melaporkan pada Selasa (1/10) bahwa para nelayan mengatakan sekitar 40 orang dari kapal asing telah menyerang dan memukuli mereka dengan tongkat besi selama 3 jam.

"Empat nelayan Vietnam dari Kota Quang Ngai di Vietnam tengah dirawat di rumah sakit karena luka serius pada Senin (30/9)," laporVietnamNetpada Selasa.

Surat kabar tersebut mengutip pernyataan kapten kapalQNg 95739 TSbernama Nguyen Thanh Bien yang menggambarkan bahwa kedua kapal yang menyerangnya memiliki nomor lambung 101 dan 301.

"Pada pagi hari tanggal 29 September saat beroperasi di lautan, mereka melihat sebuah kapal asing yang diidentifikasi sebagai nomor 301 mengejar mereka. Merasakan adanya bahaya, Bien memerintahkan awak kapal untuk kembali ke Pelabuhan Sa Ky (di Kota Quang Ngai).

Namun, sebuah kapal asing tambahan dengan nomor 101 ikut mengejar, mengerahkan tiga kapal yang lebih kecil untuk mengepung mereka," laporVietnamNet.

Dalam insiden terpisah pada Minggu, surat kabarTien Phongmengatakan sebuah kapal nelayan Vietnam lainnya yang sedang berlayar di Paracel juga telah dirampok peralatan dan tangkapan ikannya yang senilai 12.200 dollar AS.

Berhasil Diidentifikasi

Seorang pakargeoint.asiadan Laut Tiongkok Selatan, Duan Dang, kemudian berhasil mengidentifikasi dua kapal yang menyerang nelayan Vietnam tersebut yaitu kapal milik pemerintah Tiongkok, Sansha Zhifa 101 dan Sansha Zhifa 301.

Menanggapi insiden tersebut, Kementerian Luar Negeri Tiongkok pada Selasa mengatakan bahwa kapal-kapal nelayan Vietnam telah menangkap ikan tanpa izin Beijing, sehingga otoritas Tiongkok mengambil tindakan untuk menghentikan mereka. "Operasi di lokasi berlangsung profesional dan terkendali, dan tidak ditemukan adanya korban luka," kata kementerian itu.

Saat ini Beijing mengklaim hampir seluruh LTS, jalur perairan yang sangat penting secara strategis, yang dilalui oleh perdagangan senilai triliunan dollar setiap tahunnya. Walau ada klaim tandingan terhadap sebagian laut tersebut dari negara-negara tetangga, termasuk Vietnam, akan tetapi Tiongkok ternyata semakin agresif dalam menegaskan klaimnya di wilayah tersebut.

"Penegasan klaim maritim Tiongkok kian semakin keras. Kapal-kapal penegak hukumnya telah berubah menjadi pasukan paramiliter dengan wewenang untuk menggunakan semua cara yang tersedia untuk memaksa negara-negara tetangganya agar tunduk," ungkap Raymond Powell, pendiri dan direktur SeaLight, sebuah proyek yang memantau aktivitas di LTS.

Pertikaian kapal Tiongkok dengan nelayan Vietnam ini terjadi ketika Beijing juga terlibat dalam sengketa teritorial lainnya di LTS dengan Filipina.AFP/I-1

Redaktur: Ilham Sudrajat

Penulis: AFP

Berita Terbaru

Durian Melimpah di Lebak, Pedagang Raup Omzet hingga Rp50 Juta Sehari

Kampung Adat Sade Terbakar, Kemenpar Siapkan Dapur Umum dan Pemulihan Wisata

Karhutla Kalimantan Makin Mengkhawatirkan, BNPB Perkuat Operasi Modifikasi Cuaca dan Armada Pemadaman

Karhutla Makin Mengancam, Kemenhub Fasilitasi Pesawat Asing untuk Perkuat Penanganan

Aturan Baru Florida Bikin Geger! Ngebut Ditilang, Berkendara Lambat Juga Kena

Potensi Karhutla pada Musim Kemarau, BMKG Minta Masyarakat DIY Waspada

Karyawan Hyundai-Kia Mogok Besar-besaran, 40.000 Pekerja Khawatir Robot AI Gantikan Manusia

Kebakaran di Taman Nasional Way Kambas Berhasil Dipadamkan, Polda Lampung: Tim Pastikan Tak Ada Titik Api Lain

Fitur Canggih Mobil Ternyata Jarang Dipakai, Ada yang Tak Tahu Cara Menggunakannya

Krisis Air Bersih di Natuna! Pemkab Salurkan Bantuan untuk Warga Terdampak

Kekeringan Meteorologis, BMKG Ingatkan Seluruh Wilayah Jateng untuk Siaga

Curanmor Merajalela! Polda Banten Bongkar Sindikat yang Beraksi di 14 Lokasi

Status Siaga Kekeringan Meteorologis untuk Seluruh Wilayah Jateng

Rumah Adat Wisata Sade Terbakar, Pemkab Lombok Tengah Fokus pada Pemulihan Korban

Cincinnati Open, Area Sial bagi Swiatek Dikalahkan Pegula

Prawirotaman Adakan Festival Guna Menunjang Kunjungan Wisata

Warga Semarang yang Akan Menikah, Lihat Pameran 50 Vendor Wedding

Jatim Hari Ini Cerah-Berawan, Gelombang hingga 3,7 Meter Mengintai Perairan Selatan

Gubernur Emanuel Melkiades Bawa Bantuan ke Tiga Titik Terdampak Gempa M7,7 di Riung

Real Madrid di Bawah Pelatih Mourinho Kalahkan Espanyol 2-1

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.