Kasus Virus Lidah Biru Meningkat di Peternakan Eropa

Kamis, 15 Agu 2024, 00:50 WIB

PARIS - Data yang dikumpulkan pada hari Selasa (13/8) menunjukkan kasus virus lidah biru telah melonjak di beberapa negara Eropa, dengan para petani mengkhawatirkan konsekuensinya bagi domba dan sapi.

Dikutip dari The Straits Times, lidah biru adalah penyakit yang disebabkan virus yang tidak menular dan ditularkan melalui serangga yang menyerang hewan pemamah biak seperti domba dan sapi, tetapi tidak menyerang babi atau kuda. Lidah biru sulit dikendalikan setelah menyerang.

Ket. Foto: Seekor domba yang menderita virus Bluetongue (serotipe 8) disuntik dengan obat anti inflamasi di sebuah peternakan, di Saint-Felix-de-Rieutord, Toulouse, pekan lalu. — Sumber: AFP/ED JONES

Wabah pertama BTV-3 tercatat di Belanda pada September 2023, sebelum menyebar ke Belgia, Jerman, dan Inggris. Namun, jumlah wabah penyakit, yang ditularkan oleh pengusir hama, telah meledak di antara ternak Eropa dalam beberapa minggu terakhir.

Menurut Otoritas Keamanan Pangan dan Produk Konsumen Belanda, pada 12 Agustus tercatat 2.909 wilayah yang terinfeksi. Jumlah tersebut 650 lebih banyak dari minggu sebelumnya.

Sementara itu, Jerman mengonfirmasi adanya 1.885 klaster pada 8 Agustus, menurut Friedrich Loeffler Institute (FLI), pusat penelitian penyakit hewan terkemuka. Sepanjang tahun 2023, negara itu hanya mengalami 23 wabah.

Platform pemantauan epidemi hewan Prancis ESA dalam sebuah laporan yang diterbitkan pada 13 Agustus mengatakan 515 kasus telah terdeteksi di Belgia antara 1 Juni dan 11 Agustus, dengan 436 kasus hanya dalam seminggu.

Demam Tinggi

Virus ini tidak berbahaya bagi manusia, tetapi pada hewan menyebabkan demam tinggi, sariawan, dan kepala bengkak. Prancis, Luksemburg, dan Denmark mendeteksi kasus pertama mereka pada bulan Agustus, Organisasi Kesehatan Hewan Dunia mencatat dalam sebuah laporan pada 12 Agustus.

BTV-3 sangat mematikan bagi domba, tetapi juga dapat menyebabkan penurunan signifikan dalam produksi susu pada sapi. Meskipun tidak seperti influenza burung, hewan yang terinfeksi tidak perlu disembelih.

Gejalanya juga mencakup air liur berlebihan, pembengkakan bibir, lidah, dan rahang, serta kehilangan keturunan pada hewan bunting, yang proporsinya bervariasi dari satu peternakan ke peternakan lainnya.

Sementara jenis penyakit lainnya seperti 4 dan 8, telah ada di Eropa selama bertahun-tahun, dan vaksinnya telah ditemukan, vaksin tersebut tidak tersedia dalam jumlah yang cukup untuk mengatasi epidemi itu.

Redaktur: Marcellus Widiarto

Penulis: Selocahyo Basoeki Utomo S

Berita Terbaru

Hebat Prestasi Mendunia! Lima Mahasiswa UI Tembus Program Geosains di Houston

Jalan layang Bomang Buka Akses Warga Bojonggede dan Parung Langsung ke Cibinong

Pemkot Pariaman dan KKP Koordinasi Realisasikan Pembangunan Kampung Nelayan Merah Putih

Beras Indonesia Surplus 3,67 Juta Ton, Kok Harga di Daerah Masih Bisa Rp30 Ribu?

Inter Milan Rekrut Curtis Jones dari Liverpool, Kontrak hingga 2031

Kirab Ancak Agung Jember Kembali Bikin Sejarah, Rekor MURI Berhasil Dipecahkan!

Pemprov Gorontalo Perkuat Sektor Agro Maritim

Sungai Musi Bersih, Kota Palembang Asri! Wali Kota Dorong Aksi Peduli Lingkungan

Pemkot Palu Sasar 31.316 Penerima Manfaat Bantuan Pangan

Hasil Liga Spanyol: Mourinho Awali Periode Kedua di Madrid dengan Kemenangan 2-1 Atas Espanyol

Dari yang Paling Horor Hingga yang Mengecewakan: Ranking Enam Film Insidious

Kabut Asap Makin Pekat, Dinkes Palembang Imbau Warga Gunakan Masker

Karang Taruna Nasional Kerahkan Personel Turut Tangani karhutla di Kalbar

Pemain Timnas Indonesia Ole Romeny Kena Kartu Merah, Fortuna Sittard Harus Akui Keunggulan AZ Alkmaar

Pemprov Sumut Dorong Generasi Muda Jadi Penggerak Transformasi Digital

Gelar Bazar Harkop Harnas, Pemkab Lebak Bantu Pasarkan Produk UMKM ‎

Produk UMKM Lebak Makin Laris! Pemkab Bantu Pasarkan Lewat Bazar

Pacu Daya Saing sebagai Kota Global, Pemprov DKI Dorong Penguatan Ekosistem Musik

12 Film Horor dengan Penggambaran Dunia Paling Mengerikan dan Memikat

Kapal Korea Selatan Tembus Jalur Arktik, Rute Baru Asia-Eropa Pangkas 7.000 Km

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.