Perang Dagang AS-Tiongkok Bisa Ganggu Rantai Pasok Global

Jumat, 02 Agu 2024, 08:47 WIB

JAKARTA - Perdagangan global bakal kembali terganggu seiring dengan rencana Amerika Serikat (AS) yang akan menaikkan tarif baru impor pada sejumlah barang dari Tiongkok. Namun, Kantor Perwakilan Dagang Amerika Serikat (USTR) masih menangguhkan rencana tersebut dalam beberapa waktu ke depan.

Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Atmajaya Jakarta, YB Suhartoko, mengatakan jika kebijakan itu dilakukan, akan memicu perang dagang di antara kedua negara. Sebab, jika melihat skala ekonomi kedua negara tersebut, jelas akan mempengaruhi kenaikan harga internasional.

Ket. Foto: — Sumber: istimewa

"Kedua negara tersebut dengan skala ekonomi yang besar untuk beberapa komoditas adalah penentu harga," ujar Suhartoko kepada Koran Jakarta, Kamis (1/8).

Dia mengatakan perilaku perang dagang ini selanjutnya juga berpotensi diikuti perang tarif negara lain dengan berbagai alasan, antara lain lingkungan, HAM, eksploitasi anak dan sebagainya. "Globalisasi perekonomian yang sekian lama dibangun akan menjadi deglobalisasi," tandasnya.

Manajer Riset Seknas Fitra, Badiul Hadi, mengatakan jika keputusan kenaikan tarif impor itu dilakukan akan berdampak signifikan ke perdagangan global. Negara-negara yang berhubungan dengan rantai pasok global dalam hal ini termasuk Indonesia pasti terdampak.

Secara spesifik, papar Badiul, dampak terhadap perdagangan global mencakup gangguan rantai pasokan global, seperti produk kendaraan listrik, baterai, dan cip komputer. "Pemberlakuan tarif tinggi berdampak pada naiknya biaya produksi dan ujungnya harga jual akan tinggi ditingkat konsumen," ujarnya.

Selain itu, potensi perang dagang AS-Tiongkok dapat mengerem laju perekonomian global.

Seperti diketahui, Kantor Perwakilan Dagang Amerikat Serikat (AS) atau The United State Trade Representative (USTR), Selasa (30/7) waktu setempat, mengatakan AS menunda sekitar dua pekan kenaikan tarif AS pada sejumlah barang impor Tiongkok, yang mencakup kendaraan listrik dan baterainya, cip komputer, dan produk medis.

USTR mengatakan pada Mei tarif tersebut akan berlaku pada 1 Agustus 2024, tetapi kantor tersebut mengatakan mereka masih meninjau 1.100 komentar yang diterima dan sekarang berharap untuk mengeluarkan keputusan akhir pada bulan Agustus. Kantor tersebut menambahkan tarif baru akan berlaku sekitar dua minggu setelah keputusan akhir dirilis.

Beri Peluang

Badiul melanjutkan pergeseran perdagangan beberapa negara bisa menjadikan ini peluang untuk meningkatkan ekspor ke AS karena ada produk-produk Tiongkok yang kemungkinan meninggalkan AS.

"Bagi Indonesia, kebijakan AS dapat berdampak tekanan ekspor Indonesia jika produk produk Indonesia adalah bagian dari rantai pasok produk-produk Tiongkok, karena permintaan produk-produk tersebut pasti berkurang, dan ini sangat merugikan Indonesia," ucapnya.

Dampak investasi ke Indonesia, ketegangan perdagangan AS dan Tiongkok bisa menghasilkan kondisi ketidakpastian global. "Investor lebih hati-hati dan milah-milah sektor-sektor yang terdampak langsung pada ketegangan AS dan Tiongkok," urainya.

Tetapi lanjut Badiul, situasi ini juga bisa dimanfaatkan pemerintah Indonesia, misalnya menawarkan diri sebagai alternatif pemasok produk-produk yang di impor AS, misalnya komponen otomotif, baterai, dan produk elektronik yang selama ini diimpor Tiongkok ke AS.

"Situasi global ini bisa jadi peluang bagi Indonesia, kuncinya pemerintah harus fokus pada diversifikasi ekspor ke negara-negara Asia Tenggara, Eropa, maupun Afrika," paparnya.

Hal lainnya, diplomasi ekonomi dan perjanjian perdagangan dengan lebih proaktif ke negara-negara di belahan dunia lain tentu termasuk ke AS dan fokus pada sektor unggulan seperti ekonomi atau industri kreatif, pariwisata, dan ekowisata.

Redaktur: Muchamad Ismail

Penulis: Erik, Fredrikus Wolgabrink Sabini

Berita Terbaru

Polda Banten Ungkap Sindikat Curanmor Spesialis Pick-up di 14 Lokasi

Tetap Tunjukkan Dedikasi dan Keberanian, Perwira polisi Terluka Kena Pecahan Kaca saat Gerebek Gudang Uang Palsu di Tangsel

93.782 Ton Beras Siaga! BULOG Antisipasi Bencana NTT Hingga 10x Masa Darurat

Gubernur Bali Minta Peradi Siapkan Pendampingan Hukum Perkuat Desa Adat

Wagub Rano Buka Jakarta Beat Society 2026: Komitmen Perluas Ruang Kreatif Musisi Lokal

Pemkab Lebak Bantu Pasarkan Produk UMKM Lewat Bazar

Dukung Penanganan Karhutla, Kemenhub Fasilitasi Penggunaan Pesawat Registrasi Asing

Kemenag Targetkan Keterlibatan 1.781.945 Peserta dalam Gema Selawat Sambut Maulid Nabi

Coba Lerai Perkelahian, Dua Polisi Dikeroyok Masa saat Karnaval di Blora

Gubernur Pramono Sebut Keluarga Kuat dan Masyarakat Peduli Jadi Kunci Kerukunan Jakarta

Dua Anggota Polisi Jadi Korban Pengeroyokan saat Karnaval HUT RI di Blora

BNPB Perkuat OMC-Armada Pemadaman Karhutla di Kalimantan

Panen Durian dan Manggis di Lebak Serap Ribuan Tenaga Kerja

Labuan Bajo Normal Pascagempa NTT, Kemenpar Minta Aktivitas Wisata Utamakan Keselamatan

Nicolas Cage Akhirnya akan Kembali dalam National Treasure 3

Empat Wisatawan Terseret Ombak Saat Mandi di Pantai Tuturuga Minahasa, Kenzy Masih Hilang

Pemkot Tebing Tinggi Ajak Pelajar Budayakan Menabung

Kemenhut Pastikan Kebakaran Hutan di TN Way Kambas Sudah Padam, Seluruh Gajah Aman

Tol Cisumdawu Arah Bandung-Cirebon Ada Perbaikan, Kontraflow DIberlakukan

Pemerintah Tunjuk Sejumlah Menteri Tangani Karhutla Per Wilayah

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.