Membatasi Screentime Anak Bantu Tingkatkan Kesehatan Mental

Minggu, 21 Jul 2024, 17:04 WIB

Membatasi waktu bermain gawai sangat penting untuk meningkatkan kesehatan fisik, keterampilan sosial, dan perkembangan anak secara keseluruhan. Sebuah studi baru mengungkapkan bahwa mengurangi waktu bermain gadget hingga tiga jam per minggu dapat dengan cepat meningkatkan kesehatan mental dan perilaku anak.

Menurut penelitian yang dilakukan oleh Dr. Jesper Schmidt-Persson dari University of Southern Denmark dan timnya, manfaat kesehatan mental dari membatasi waktu penggunaan gawai pada anak-anak akan terlihat hanya dalam waktu dua minggu. Temuan ini didasarkan pada evaluasi terhadap 181 partisipan yang berusia antara empat hingga 17 tahun dari 89 keluarga.

Ket. Foto: — Sumber: Istimewa

Setengah dari partisipan diminta untuk membatasi waktu luang mereka untuk menggunakan layar gadget hingga maksimal tiga jam per minggu selama dua minggu, sementara partisipan lainnya diminta untuk melanjutkan kebiasaan mereka menggunakan layar gadget seperti biasa. Penting untuk dicatat bahwa waktu layar yang dibatasi tidak mencakup penggunaan yang penting seperti tugas sekolah atau pekerjaan rumah, tetapi secara khusus menargetkan aktivitas layar rekreasi.

Setelah masa uji coba, anak-anak dalam kelompok intervensi menunjukkan peningkatan yang signifikan dalam perilaku dan kesejahteraan emosional mereka. Dengan menggunakan Kuesioner Kekuatan dan Kesulitan (SDQ), para peneliti mengamati penurunan tantangan perilaku yang setara dengan transisi dari kategori "batas" ke kategori "normal" dalam waktu dua minggu.

Perbaikan signifikan terlihat pada masalah emosional dan kesulitan berteman, serta perilaku prososial, yang menunjukkan bahwa mengurangi waktu di depan layar dapat membantu anak-anak dalam mengelola emosi dan meningkatkan interaksi sosial.

"Analisis sekunder dari uji klinis acak ini menemukan bahwa pengurangan jangka pendek dalam penggunaan media layar di waktu senggang dalam keluarga berdampak positif pada gejala psikologis anak-anak dan remaja, terutama dengan mengurangi internalisasi masalah perilaku dan meningkatkan perilaku prososial," tulis para peneliti dalam penelitian yang diterbitkan dalam jurnal Jama Network, dikutip dari Medical Daily, Rabu (17/7).

"Penelitian lebih lanjut diperlukan untuk memastikan apakah efek ini dapat bertahan dalam jangka panjang," tambahnya.

Penelitian ini belum meneliti penjelasan yang mungkin di balik dampak positif dari pembatasan waktu penggunaan gawai, namun para peneliti percaya bahwa hal ini mungkin disebabkan karena para partisipan mendapatkan lebih banyak waktu untuk interaksi sosial.

"Kami hanya bisa berspekulasi tentang mekanisme yang mendasari dampak positif dari membatasi penggunaan media layar pada kesehatan mental anak-anak dan remaja. Ketika anak-anak dan remaja menghabiskan sebagian besar waktu luang mereka dengan menggunakan perangkat media layar, efek yang mungkin terjadi adalah berkurangnya interaksi sosial tatap muka dengan teman, teman sebaya, dan anggota keluarga," tutur para peneliti.

Redaktur: Fiter Bagus

Penulis: Rivaldi Dani Rahmadi

Berita Terbaru

Gubernur Pramono Tegas! Efisiensi Bukan Alasan untuk Mengorbankan Layanan Dasar Warga Jakarta

Pasukan Tambahan Berdatangan! Tiga Batalyon dari Jawa Bantu Atasi Karhutla Kalimantan

Mengkhawatirkan! 9 Kali Meletus dalam Sehari, Gunung Anak Krakatau Jadi Sorotan

Koperasi Tak Boleh Kuno Lagi! Menkop Ferry Dorong Digitalisasi hingga Ekspansi Bisnis

Dugaan Jual Beli Kursi Jalur Mandiri Unsoed Terjadi di Masa Rektor Akhmad Sodiq.

Gempa NTT, Pelni Cabang Ambon Siapkan Layanan Pengiriman Bantuan Kemanusiaan.

Relawan Medis UMI Makassar Tembus Pegunungan Manggarai, Bantu Warga Terdampak Bencana.

Baznas Salurkan 1.000 Mushaf Al Quran kepada Masyarakat Kampung Baduy.

Hujan Kalsel Diprakirakan Meningkat Oktober, BMKG Sebut Bisa Bantu Atasi Karhutla.

Karhutla Tanah Bumbu, Polisi Bagikan Masker untuk Lindungi Warga dari Asap.

Karhutla Jadi Perhatian, Papua Tengah Bentuk Satgas untuk 8 Kabupaten.

Kementerian PU Turun Tangani Karhutla di Tanjung Selor, Kaltara.

Kabut Asap Karhutla Muncul, Pelayaran Speedboat Tanjung Selor-Tarakan Tetap Normal.

Sungai Musi Dipenuhi Sampah, Wali Kota Palembang Ajak Warga Bergerak.

Pemerintah Luruskan Istilah “Emas di Bawah Bantal”, Ternyata Ada 1.800 Ton Senilai Rp4.000 Triliun

Mau Selamatkan Harimau? Rantai Makanan Harus Dijaga.

Rayakan 5 Abad Banjarmasin, Festival Tari Daerah Jadi Upaya Lestarikan Tradisi.

Polisi Buru Pemodal Sindikat Uang Palsu Rp36 Miliar di Tangsel

Gempa M4,8 Guncang Perairan 84 Km Timur Laut Ruteng Manggarai NTT.

Rumah Adat di Kawasan Wisata Sade Lombok Terbakar.

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.