Puar Lolo, Tempat Pengamatan Burung Endemik Flores yang Terancam Punah
Sabtu, 22 Jun 2024, 06:10 WIBHutan Mbeliling saat ini menjadi pertahanan bagi keanekaragamanan hayati Flores. Di lokasi ekowisata Puar Lolo, wisatawan dapat melihat perilaku burung-burung endemik langka yang tidak dapat dijumpai di tempat lain.
Libur sekolah telah tiba, saatnya bagi keluarga untuk melakukan liburan.Aktivitas birdwatchingmungkin bisa menjadi pilihan liburan yang menyenangkan, edukatif, mengenalkan anak akan kecintaan terhadap lingkungan.
Kepulauan di Indonesia sangat kaya akan berbagai spesies endemik, juga termasuk burung-burung langka yang cantik. Karena hampir setiap pulau di Indonesia memiliki burung burung khas yang tidak dijumpai di pulau lain, hal ini menjadi salah satu tujuan dari kegiatanbirdwatching.
Seperti namanya,birdwatchingadalah kegiatan pengamatan spesies burung liar yang dilakukan di alam bebas dengan mata telanjang atau dengan menggunakan teropong. Selain mengamati, mendengarkan kicauannya adalah sebuah keindahan yang tiada tara.
Dalam sejarahnya,birdwatching sebenarnya ditujukan untuk kepentingan ilmiah. Kegiatan ini pertama kali diperkenalkan oleh Alexander Wilson asal Skotlandia. Pada periode 1808-1813, Wilson secara aktif melakukan pengamatan untuk mengumpulkan gambar dan informasi tentang burung-burung yang ditemui.
Kini kegiatan tersebut telah berkembang menjadi hobi dan juga wisata yang menyenangkan. Mereka umumnya pecinta burung, pecinta alam, fotografer, orang biasa yang ingin melihat burung di habitatnya secara langsung.
Kegiatan pengamatan ini kadang dilakukan dengan melakukan trekking di tengah hutan, menyeberang sungai, hingga mendaki gunung. Tidak heran pengamatan burung ini juga termasuk aktivitas yang dapat memacu adrenalin.
Salah satu destinasi yang menawarkanbirdwatchingadalah di ekowisata di Hutan Puar Lolo di Desa Golo Damu, Kecamatan Mbeliling, Kabupaten Manggarai Barat (Mabar). Jaraknya hanya 37,9 kilometer dari Labuan Bajo, ibu kota kabupaten tersebut, dengan waktu tempuh 1 jam 6 menit.
Untuk menarik kunjungan wisatawan dan meningkatkan pendapatan ekonomi masyarakat di Mabar, pemerintah kabupaten melalui Unit Pelaksana Teknis Dinas (UPT) Kesatuan Pengelolahan Hutan (KPH) Mabar mengembangan ekowisata Puar Lolo.
UPT KPH Mabar dalam mengembangan ekowisata Puar Lolo yang berada di dalam Hutan Mbeliling dengan menggandeng Dinas Pariwisata Ekonomi Kreatif dan Kebudayaan, Lembaga Burung Indonesia dan kelompok masyarakat Desa Golo Damu.
Hutan Mbeliling seluas 77.485,75 hektare. Tempat ini menjadi harapan terakhir bagi untuk bertemu dengan burung-burung endemik pulau Flores yang beberapa diantaranya berstatus terancam punah (critically endangered) dan terancam bahaya (endangered).
Sebagai habitat beberapa burung endemik, ekowisata Puar Lolo yang berada di kawasan hutan lindung Mbeliling yang selama ini belum dioptimalkan potensinya. Sebelumnya pemerintah Kabupaten Mabar masih berfokus mengembangan ekowisata Wae Bobok dan Sano Limbung yaang lokasi keduanya berada di Kecamatan Boleng.
Berbeda dengan keduanya, di Puar Lolo selain wisatawan dapat menikmati keindahan hutan lindung juga dapat mengamati berbagai bentuk dan warna serta kicauan merdu berbagai jenis burung yang ada.
Langka
Di kawasan Puar Lolo, pengunjung bisa menjumpai Elang Flores (Nisaetus floris), Kehicap Flores (Monarcha Sacerdotum), dan Gagak Flores (Corvus florensis). Ketiganya merupakan jenis burung langka di Flores yang bisa dijumpai di Hutan Mbeliling.
Elang Flores adalah burung endemik Nusa Tenggara yang persebarannya di Pulau Flores, Pulau Alor, Pulau Komodo, Pulau Sumbawa, dan Pulau Lombok. Elang Flores memiliki ukuran tubuh sepanjang 71-82 sentimeter dengan rentang sayap sepanjang 140-160 sentimeter.
Bagian tubuh Elang Flores berwarna coklat kehitaman dengan bulu kepala, leher, dada dan perut berwarna putih dan sedikit corak tipis kemerahan. Ekornya berwarna coklat gelap dengan enam batang sayap utama. Sayap Elang Flores berwarna putih keabu-abuan serta terlihat ujung yang menjari pada saat sedang terbang membentangkan sayap.
Burung ini termasuk ke dalam 10 jenis burung raptor (burung pemangsa) paling terancam di dunia. Berdasarkan IUCN Redlist, Elang Flores termasuk dalam kategori critically endangered (CR) atau terancam punah.
Elang Flores dapat dijumpai pada hutan primer, hutan sekunder, dan lahan budidaya mulai dari dataran rendah ke pegunungan di ketinggian 1600 mdpl. Pakan alaminya berupa mamalia kecil, burung, biawak, serta ayam peliharaan yang dibiarkan bebas. Kebiasaan memangsa ayam peliharaan tersebut menyebabkan Elang Flores sering diburu oleh petani karena dianggap sebagai hama.
Sedangkan Kehicap Flores merupakan salah satu burung endemik pulau Flores, Nusa Tenggara Barat. Burung ini menjadi salah satu burung langka di Indonesia. Daftar Merah IUCN memasukkannya sebagai spesies endangered (EN) atau terancam. Sayangnya, menurut Kehati, meskipun langka dan endemik, Kehicap Flores belum tercantum sebagai burung yang dilindungi di Indonesia.
Burung yang masih berkerabat dekat dengan Kehicap Boano (Monarcha boanensis) ini dalam bahasa Inggris disebut sebagai Flores Monarch. Sedangkan nama latin hewan dari famili Monarchidae ini adalah Monarcha sacerdotum (Mees, 1973). Nama sinonimnya, Symposiachrus sacerdotum (Mees, 1973).
Kehicap Flores atau Flores Monarch adalah burung berukuran berukuran sedang. Panjang tubuhnya sekitar 15,5 sentimeter. Tubuh bagian atas kombinasi hitam dan abu-abu. Sedangkan bagian leher depan dan juga wajahnya berwarna putih.
Sedangkan bulu luar ekor berwarna putih. Bagian muka berwarna hitam. Dahi, tenggorokan, dan bagian bawah tubuh berwarna putih. Sekilas mirip dengan kerabatnya, Kehicap Kacamata, namun tidak memiliki bulu berwarna merah-karat di tubuh bagian bawah.
Kehicap Flores adalah burung endemik Flores, yang hanya ditemukan di ujung barat Flores. Penyebaran burung dengan kicauan merdu ini melingkupi wilayah yang sangat sempit yakni Hutan Mbeliling dan Sano Nggoang, Manggarai Barat, NTT.
International Union for Conservation of Nature (IUCN) menempatkan Kehicap Flores dalam status terancam punah. Dari rangkuman catatan pendataan terakhir memperkirakan jumlah populasi burung langka ini berkisar antara 2.500 - 9.999 ekor dewasa.
Hutan Mbeliling disebut rumah terakhir burung ini, setelah mengalami tekanan masif di kawasan lain di bagian tengah dan timur Flores. Oleh karenanya, Puar Lolo yang berada di kawasan hutan ini sangat cocok untuk melihat burung langka ini.
Seperti gagak umumnya, Gagak Flores berwarna hitam. Ditemukan dalam kelompok kecil habitatnya berada di hutan dataran rendah dan perbukitan. Sebaran tumpang tindih dengan gagak kampung yang sama-sama memiliki paruh tebal, namun ukuran gagak Flores lebih kecil dengan paruh relatif lebih kecil, serta tidak memiliki dahi curam yang menjadi ciri khas gagak kampung.
Laman E-Bird menyebut, gagak flores juga lebih menyukai habitat hutan, menghindari habitat terbuka. Burung ini memiliki suara yang khas seperti suara panggilan merengek bernada tinggi mirip bayi "waa" dan "we-we-we", terkadang diikuti dengan "kyop" dalam menghasilkan juga nada "kraaa" tinggi, suara tenggorokan dua-kata "kwiyou" dan berbagai nada-nada lain.
Selain mengamati burung, di Puar Lolo wisatawan dapat menikmati aneka sajian kuliner yang bahannya diproduksi oleh masyarakat Desa Golo Damu, seperti pisang, ubi, dan jagung. Selain itu penduduk desa juga telah mengembangkan kerajinan lokal untuk dijual kepada wisatawan seperti tikar, tembikar, dan tenun. hay/I-1
Redaktur: Ilham Sudrajat
Penulis: Haryo Brono
Berita Terkait:
-
Ada yang Tahu Apa Itu Sidapakase Buat Pengembangkan Wisata Kalsel?
-
Sindangkasih, Serunya River Tubing di Kota Domba
-
Gunung Inerie, Piramida Alami dari Ngada
-
15 Destinasi Wisata Paling Populer dan Wajib Dikunjungi di Tiongkok
-
Meriahkan Pasar Murah, Khofifah Pastikan Kecukupan dan Keterjangkauan Harga Pangan
-
Russia Buka Rute Penerbangan Langsung Moskow-Pyongyang
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.