Peralihan ke Kendaraan Listrik Harus Utamakan untuk Angkutan Umum
Selasa, 11 Jun 2024, 00:12 WIBJakarta - Pengamat transportasi dari Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI) Djoko Setijowarno mengatakan bahwa peralihan kendaraan berbahan bakar minyak ke kendaraan listrik mesti mengutamakan angkutan umum.
Hal itu, katanya saat dihubungi di Jakarta, Senin, agar peralihan energi tidak hanya berdampak pengurangan emisi tetapi juga pada pengurangan kemacetan dan lebih lanjut pada penyelesaian masalah polusi udara kota-kota besar Indonesia seperti Jakarta dan lainnya.
"Ini momentum, untuk memperbaiki angkutan umum dengan listrik, sekalian mengatasi kemacetan dan polusi juga. Kalau tetap fokus layani kendaraan pribadi, tetap macet, untuk apa? " katanya.
Sebelumnya, Kementerian Perindustrian (Kemenperin) membeli sebanyak 552 bus listrik dalam program insentif kendaraan listrik' sebesar Rp12,3 triliun pada dua tahun anggaran, 2023-2024.
Menurutnya, bus-bus tersebut dapat dioperasikan di 1.824 perumahan kelas menengah dan bawah di kawasan Bogor, Depok, Tangerang dan Bekasi untukmengisi kekosongan layanan angkutan umum di kawasan itu hingga kemudian bisa mengatasi kemacetan, termasuk di Jakarta.
"Kalau Jakarta sudah sebagian besar terpenuhi angkutan umumnya, 88,2 persen. Jakarta sudah terjangkau angkutan umum. Makanya 552 bus listrik itu bisa dimanfaatkan untuk 1.824 perumahan kelas menengah yang masih kosong layanan angkutan umumnya di wilayah Bodetabek," ucap Djoko.
Menurutnya, peralihan dari kendaraan berbahan bakar minyak ke kendaraan berdaya listrik yang tidak berfokus pada angkutan umum, tidak efektif untuk mengatasi masalah kemacetan di Jakarta.
"Peralihan ke kendaraan listrik itu untuk tekan emisi gas buang. Nah, sekarang transportasi publik diganti ke listrik saja, takhanya Jakarta, termasuk daerah lainnya. Jadi, selain emisi ditekan, kemacetan juga berkurang," ucap Djoko.
Oleh karena itu, kata Djoko, jika dorongan pemerintah kepada warga untuk beralih ke kendaraan listrik hanya akan menambah jumlah kendaraan dan dari sisi kepadatan lalu lintas, maka hal tersebut hanya berdampak buruk.
"Jakarta itu, mengapa orang tak mau naik angkutan umum karena sudah nyaman dengan motor. Beli tiket naik motor. Beli apa-apa naik motor. Malas kita jalan. Di Indonesia atau Jakarta, motor itu predator angkutan umum. Jika beralih ke roda dua listrik atau motor listrik hanya akan bikin Jakarta tambah macet," kata Djoko.
Dengan demikian, Djoko meminta agar pemerintah memperluas angkutan umum listrik, bukan malah mendorong masyarakat untuk membeli kendaraan listrik pribadi.
"Jumlah kendaraan bermotor ini sudah sangat banyak di Jabodetabek, tapi populasi kendaraan umum makin berkurang," kata Djoko.
Redaktur: Marcellus Widiarto
Penulis: Antara
Berita Terkait:
-
Simulasi Biaya Mobil Listrik Ini Lebih Hemat 9 Kali dari Bensin
-
Lewati 70 Gol Pelé, Lionel Messi Sah Jadi Eksekutor Bola Mati Tersubur Kedua dalam Sejarah
-
Libur Lebaran, Warga Serbu Blok M Naik MRT Jakarta dengan Tarif Rp1
-
Terganggu Oknum Minta THR, Polri Imbau Masyarakat Lapor ke 110
-
Harga Daging dan Ayam Depok Stabil
-
Dukung Pemberdayaan Petani Perempuan, Syngenta Indonesia Luncurkan 'Putri' Petani 'Maju'
-
Intelijen AS Bantu Operasi Anti-Kartel di Meksiko
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.