- Home
-
- Luar Negeri
-
- Studi: Lebih dari 300 Juta...
Studi: Lebih dari 300 Juta Anak Setiap Tahun Alami Pelecehan Seksual Daring
Selasa, 28 Mei 2024, 00:03 WIBLONDON - Menurutperkiraan global mengenai skala masalah yang dipublikasikan pada Senin (27/5), lebih dari 300 juta anak setiap tahunnya menjadi korban eksploitasi dan pelecehan seksual daring atau online.
Dikutip dariThe Straits Times, para peneliti di Universitas Edinburgh menemukan satu dari delapan anak-anak di dunia telah menjadi korban pengambilan gambar dan video seksual tanpa persetujuan, serta berbagi dan terpapar konten tersebut, dalam 12 bulan terakhir.
"Jumlah ini berjumlah sekitar 302 juta anak muda," kata Childlight Global Child Safety Institute, lembaga universitas tersebut yang melakukan penelitian.
"Ada sejumlah kasus ajakan serupa, seperti sexting yang tidak diinginkan dan permintaan tindakan seksual oleh orang dewasa dan remaja lainnya," kata laporan tersebut.
Pelanggaran yang dilakukan berkisar dari apa yang disebut sextortion, di mana predator meminta uang dari korban untuk merahasiakan gambar, hingga penyalahgunaan teknologi kecerdasan buatan untuk membuat video dan gambar palsu.
Permasalahannya terjadi di seluruh dunia, namun penelitian menunjukkan Amerika Serikat adalah wilayah yang berisiko tinggi, dengan satu dari sembilan pria di sana pernah mengakui melakukan pelanggaran online terhadap anak-anak.
"Materi pelecehan terhadap anak sangat lazim sehingga rata-rata file dilaporkan ke organisasi pengawas dan kepolisian setiap detiknya," kata kepala eksekutif Childlight, Paul Stanfield.
"Ini adalah pandemi kesehatan global yang sudah terlalu lama tersembunyi. Hal ini terjadi di setiap negara, pertumbuhannya meningkat secara eksponensial, dan memerlukan respons global," tambahnya.
Laporan ini muncul setelah polisi Inggris memperingatkan pada bulan April tentang geng kriminal di Afrika Barat dan Asia Tenggara yang menargetkan remaja Inggris dalam penipuan pemerasan seks online.
Menurut organisasi non-pemerintah dan polisi, kasus-kasus khususnya terhadap remaja laki-laki, melonjak di seluruh dunia.
Badan Kejahatan Nasional Inggris atauNational Crime Agency (NCA) telah mengeluarkan peringatan kepada ratusan ribu guru, meminta mereka untuk mewaspadai ancaman yang mungkin dihadapi siswanya.
Para penipu sering kali menyamar sebagai anak muda, melakukan kontak di media sosial sebelum berpindah ke aplikasi pesan terenkripsi dan mendorong korban untuk berbagi gambar intim.
"Mereka sering mengajukan tuntutan pemerasan dalam waktu satu jam setelah melakukan kontak dan termotivasi oleh pemerasan uang sebanyak mungkin dibandingkan kepuasan seksual," kata NCA.
Redaktur: Marcellus Widiarto
Penulis: Selocahyo Basoeki Utomo S
Berita Terkait:
-
BRIN: Pencemaran Sungai Cisadane Berisiko Timbulkan Efek Kesehatan Kronis, Masyarakat Dilarang Konsumsi Air dan Ikannya
-
Ustadz SAM Masih Buron! Polri Ajukan "Red Notice" ke Interpol
-
Gubernur Jatim-Malut Bertemu Bahas Penguatan SPBE dan Manajemen ASN
-
Pelecehan di Kereta
-
Cuaca Panas Terik di Samarinda Dipicu Ekuinoks, BMKG Ingatkan Ancaman Pancaroba
-
Dilarang Naik Kereta, KAI Daop 8 Surabaya 'Blacklist' 9 Pelaku Pelecehan Seksual
-
Event di Jakarta Akhir Februari 2026: Dari Festival Lego hingga Bazar Khas Ramadan
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.