BUMDes Diminta Aktif Gerakkan Ekonomi Bekasi

Selasa, 28 Mei 2024, 04:00 WIB

BEKASI - Badan Usaha Milik Desa atau BUMDes diminta aktif menggerakkan roda perekonomian warga di tiap-tiap desa melalui sejumlah kreasi dan inovasi bisnis yang dijalankan. Kepala Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Pemerintah Desa Kabupaten Bekasi, Rahmat Atong, mengatakan BUMDes selaku unit usaha di level desa berperan penting dalam meningkatkan taraf perekonomian masyarakat melalui upaya pemberdayaan.

"Apa pun jenis usaha yang dijalankan asalkan dilakukan dengan tekad dan sepenuh hati pasti akan mendatangkan manfaat ekonomis bagi warga sekitar," ujar Rahmat, di Bekasi, yang dipantau, Senin (27/5).

Ket. Foto: Anggota BUMDes Pasirgombong, Kecamatan Cikarang Utara mengerjakan pesanan pembuatan busana muslim di Kantor BUMDes setempat, Minggu. — Sumber: ANTARA/Pradita Kurniawan Syah

Menurutnya, salah satu usaha kreatif yang dapat dikembangkan BUMDes dengan melihat potensi kewilayahan di tiap-tiap desa. Unit usaha ekonomi kreatif hingga sektor pariwisata dinilai memiliki prospek bisnis tinggi di Kabupaten Bekasi dengan daya dukung sektor industri.

"Sebagai pusat kawasan industri, pemerintah daerah memfasilitasi agar BUMDes bisa terus tumbuh dan berkembang, termasuk dukungan dari segi permodalan melalui desa, bimbingan usaha, hingga jalur masuk ke kawasan industri," katanya.

Dia menyebut tidak semua desa di Kabupaten Bekasi memiliki BUMDes bahkan dari keseluruhan jumlah unit usaha tersebut, tidak semua aktif berusaha. Kondisi ini yang membuat BUMDes belum berjalan optimal untuk meningkatkan taraf perekonomian masyarakat secara keseluruhan.

"Dari total 179 desa, ada 174 BUMDes, yang aktif 111. Sedangkan 63 BUMDes sudah tidak aktif. Ini yang juga terus kami dorong untuk bisa aktif secara keseluruhan, bisa tumbuh, berkembang, dan berdaya saing tinggi," ucapnya.

Dari seratusan jumlah BUMDes tersebut, tercatat hanya beberapa unit usaha dengan omzet tinggi. BUMDEs Pasirgombong menyumbang pendapatan desa 200 juta per tahun, BUMDEs Mekarmukti 30 juta, serta BUMDes Karangraharja 10 juta per tahun. Sisanya masih beromzet di bawah 10 juta.

Terbentur Modal

Ketua BUMDes Hegarmukti, Kecamatan Cikarang Pusat Saefudin mengakui kesulitan mengembangkan BUMDes untuk peningkatan perekonomian desa karena terbentur masalah anggaran permodalan.

"Saya sebagai pelaku BUMDes berani mengatakan bahwa BUMDes ini sulit berkembang seperti mati suri. Penyebabnya lagi-lagi basis anggaran yang harus diperlukan. Namun dalam hal ini kami mulai melakukan terobosan," katanya.

Saefudin menyatakan tidak semua desa memiliki BUMDes. Bahkan beberapa di antaranya pun tidak aktif. Fenomena ini, menurut dia, disebabkan tidak ada sinkronisasi antara ketua BUMDes dan kepala desa sehingga tidak setiap tahun mendapatkan anggaran.

Dia memiliki grup BUMDes untuk kami berdiskusi dan membangun gagasan supaya dapat memajukan BUMDes. Sulitnya maju karena tidak setiap tahun anggaran dikucurkan sehingga pengembangan terhenti.

Kini tengah menggali potensi alam serta membangun UMKM di wilayah Situ Rawa Binong dengan merancang tiga program yang akan dipromosikan yaitu wisata pemancingan, paket edukasi pembuatan kopi, dan sanggar budaya. Ini mencakup tari serta penggunaan alat musik tradisional Sunda.

Saat ini, kedai kopi BUMDes berkolaborasi dengan salah satu pemilik kafe sedang membangun tempat.

Redaktur: Aloysius Widiyatmaka

Penulis: Aloysius Widiyatmaka, Antara

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.