WWF 2024: Pertamina NRE Fokus Kembangkan Bisnis Rendah Emisi
Selasa, 21 Mei 2024, 14:42 WIBPertamina New & Renewable Energy (Pertamina NRE) memimpin transisi energi dan dekarbonisasi di Pertamina Group dengan fokus pada pengembangan bisnis rendah emisi. Hal ini disampaikan CEO Pertamina NRE, John Anis, dalam diskusi panel bertajuk "Indonesia's Energy Transition Roadmap" di paviliun Indonesia yang diselenggarakan di perhelatan World Water Forum ke-10 pada Senin (20/5).
Setelah G20, Indonesia kembali menjadi tuan rumah untuk acara forum skala global, kali ini yaitu World Water Forum ke-10. Terpilihnya Indonesia menjadi tuan rumah menjadi bukti komitmen kuat Indonesia dalam isu lingkungan dan keberlanjutan. Tidak hanya tentang air, isu keberlanjutan lainnya pun turut menjadi topik diskusi dalam acara ini, salah satunya transisi energi. Dalam diskusi panel tersebut, John memaparkan inisiatif yang menjadi kontribusi Pertamina bagi peta jalan transisi energi di Indonesia.
"Dibentuknya Pertamina NRE merupakan bentuk komitmen Pertamina guna mendukung pemerintah menuju target Net Zero Emission," ujar John.
Pertamina sebagai BUMN energi terbesar di Indonesia memiliki mandat untuk menjaga ketahanan energi sekaligus mendukung aspirasi karbon netral tahun 2060 dan tetap berorientasi pada pertumbuhan bisnis. Hal ini dilakukan dengan menerapkan strategi pertumbuhan ganda, yaitu dengan cara memperkuat bisnis eksisting dan membangun bisnis rendah karbon.
Dalam presentasinya, John menyampaikan bahwa Pertamina NRE menjadi ujung tombak dalam strategi membangun bisnis rendah karbon. Sejumlah portofolio bisnis menjadi prioritas strategis Pertamina NRE, antara lain gas to power, geothermal, efisiensi energi, hidrogen bersih, dan energi terbarukan lainnya seperti tenaga surya, angin, dan biomassa. Selain itu terdapat juga bisnis baterai, bisnis karbon, serta bioethanol. Pada tahun 2029 Pertamina NRE menargetkan kapasitas terpasang dari geothermal dan energi terbarukan lainnya mencapai sekitar 6 gigawatt (GW), kapasitas produksi bioethanol mencapai sekitar 630 ribu kilo liter (KL), kapasitas produksi hidrogen bersih mencapai sekitar 77 ribu ton per tahun (ktpa), dan kurang lebih 19 juta ton CO2 kredit karbon diperdagangkan.
Beberapa inisiatif Pertamina yang dapat mendorong dekarbonisasi cukup signifikan untuk sektor hulu migas dan sektor industri lainnya antara lain efisiensi energi, carbon capture and storage (CCS/CCUS), serta kredit karbon berbasis solusi alam (nature based solutions/NBS) maupun berbasis teknologi. Khusus untuk kredit karbon, Pertamina NRE telah memperdagangkannya di bursa karbon dan transaksi perdagangan telah mencapai total volume sekitar 561 ribu ton CO2 hingga saat ini. Pembeli kredit karbon berasal dari sektor industri pertambangan, perbankan, maupun penerbangan.
Untuk geothermal, Pertamina NRE melalui anak usahanya PT Pertamina Geothermal Energy Tbk. (PGE) menargetkan kapasitas terpasang dari area geothermal yang dioperasikan sendiri mencapai 1,4 GW pada tahun 2029. Saat ini kapasitas terpasang geothermal PGE mencapai 672 MW dan akan meningkatkannya secara agresif baik secara organik maupun anorganik. Pertamina NRE juga ke depan akan menjadi pemasok bioethanol untuk bahan bakar nabati yang diproduksi Pertamina, yaitu Pertamax Green. Sejalan dengan pertumbuhan ekonomi nasional, diproyeksikan permintaan Pertamax Green pada tahun 2034 mencapai 51 juta KL.
Vice President Corporate Communication PT Pertamina (Persero), Fadjar Djoko Santoso menyatakan bahwa Pertamina mendukung penuh target Pemerintah mencapai target Net Zero Emission 2060 atau lebih cepat. Berbagai program inisiatif penurunan emisi ini dilakukan di seluruh bisnisnya, terutama melalui PNRE yang memiliki peran besar dalam transisi energi.
"Inisiatif transisi energi dan dekarbonisasi terus berlanjut di seluruh lini usaha untuk menjaga sustainability energi di masa depan," pungkas Fadjar.
Pertamina secara konsisten menunjukkan komitmen kuatnya dalam mendukung sustainable development goals (SDGs), tidak saja dalam bentuk inisiatif bisnis, melainkan juga praktek bisnis yang berkelanjutan melalui implementasi aspek environmental, social, and governance (ESG).
(IKN/TSR)
Penulis: Tim Redaksi
Berita Terkait:
-
Sekolah di Samasuru Terancam Terdampak Polemik? Ini Sikap Tegas Pemprov Maluku
-
Pascagempa Flores, Warga Pulau Palue Hadapi Krisis Air Bersih
-
Kopi Bengkulu Go Global, Ekspor Perdana ke Italia Capai 19,2 Ton
-
Iran Berencana Umumkan 'Zona Eksklusi' Baru di Dekat Selat Hormuz
-
Jakarta Selatan Career Fest Bazaar 2026 Digelar, Legislator Minta Transparan Soal Hasil
-
Lenovo Idea Tab Plus, Tablet Ringkas untuk Kerja dan Belajar Mobile
-
DLH Palangka Raya Perkuat Pengelolaan Sampah Berbasis Masyarakat
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.