- Home
-
- Luar Negeri
-
- PBB Serukan Penghentian Pe...
PBB Serukan Penghentian Perang di Gaza dan Pembebasan Sandera
Senin, 13 Mei 2024, 00:00 WIBNEW YORK - Sekretaris Jenderal PBB, Antonio Guterres, mendesak penghentian segera perang Israel dan Hamas di Gaza, pembebasan sandera, serta meningkatkan pengiriman bantuan kemanusiaan ke wilayah yang sedang dilanda konflik berkepanjangan itu.
"Saya mengulangi seruan saya, seruan dunia untuk segera melakukan gencatan senjata kemanusiaan, pembebasan semua sandera tanpa syarat, dan segera meningkatkan bantuan kemanusiaan," kata Guterres dalam video di konferensi donor internasional, di Kuwait, Minggu (12/5).
Guterres mengatakan gencatan senjata hanya akan menjadi permulaan. Kalau gencatan senjata tidak dilakukan akan menjadi jalan panjang dari kehancuran dan trauma dari perang ini.
Dikutip dari Barron, serangan Israel terhadap Gaza berlanjut pada hari Minggu setelah Israel memperluas perintah evakuasi ke Rafah meskipun ada kecaman internasional atas serangan militernya ke wilayah timur kota tersebut, yang secara efektif menutup jalur bantuan utama.
"Perang di Gaza menyebabkan penderitaan manusia yang mengerikan, kehidupan yang hancur, perpecahan keluarga dan menyebabkan banyak orang kehilangan tempat tinggal, kelaparan, dan trauma," kata Guterres.
Pidato Guterres disampaikan pada pembukaan konferensi di Kuwait yang diselenggarakan oleh Organisasi Amal Islam Internasional atau International Islamic Charitable Organization (IICO) dan Kantor Koordinasi Urusan Kemanusiaan Perserikatan Bangsa-Bangsa PBB atau United Nations Office for the Coordination of Humanitarian Affairs (OCHA).
Bencana Kemanusiaan
Pada hari Jumat, di Nairobi, Sekjen PBB memperingatkan Gaza akan menghadapi "bencana kemanusiaan yang besar" jika Israel melancarkan operasi darat skala penuh di Rafah.
Perang paling berdarah di Gaza dimulai setelah serangan Hamas pada 7 Oktober yang belum pernah terjadi sebelumnya terhadap Israel yang mengakibatkan kematian lebih dari 1.170 orang, sebagian besar warga sipil, menurut angka resmi Israel.
Sebelumnya, Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, untuk pertama kalinya secara terbuka mengakui kegagalan pemerintahnya melindungi warga Israel dari serangan mengejutkan kelompok pejuang Palestina, Hamas, pada 7 Oktober tahun lalu.
Redaktur: Marcellus Widiarto
Penulis: Selocahyo Basoeki Utomo S
Berita Terkait:
-
Blue Fire Papandayan, Bahaya Gas Beracun Tapi Bisa Jadi Wisata Baru
-
Cristiano Ronaldo Tinggalkan Timnas Portugal Jelang Lawan Denmark, Ada Apa?
-
Krisis Iklim Ancam Produktivitas Kerja
-
Jakarta Diprediksi Hujan pada Kamis Ini, BMKG Ungkap Waktu yang Perlu Diwaspadai
-
Film Komedi Cidro Asmoro Diramaikan Ndarboy dan Happy Asmara
-
Jangan Cuma Olahraga, Ternyata Rahasia Jantung Sehat Ada di Organ Sel Ini
-
Bukan Sekadar Hobi, Lomba Lari Jalanan Kini Jadi Mesin Ekonomi Baru dan Angkat Industri Olahraga Tanah Air
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.