Bumi Dilanda Badai Matahari 'Ekstrem', Hadirkan Cahaya Aurora yang Spektakuler

Sabtu, 11 Mei 2024, 09:38 WIB

WASHINGTON - Badai matahari paling dahsyat dalam lebih dari dua dekade melanda Bumi pada hari Jumat (10/5), membentuk pertunjukan cahaya yang spektakuler di langit Tasmania hingga Inggris dan kemungkinan mengganggu satelit dan jaringan listrik jika berlanjut hingga akhir pekan.

Yang pertama dari beberapa lontaran massa koronal (CME) - pengusiran plasma dan medan magnet dari Matahari - terjadi tepat setelah pukul 16.00 GMT, menurut Pusat Prediksi Cuaca Luar Angkasa milik Administrasi Kelautan dan Atmosfer Nasional (NOAA).

Ket. Foto: Aurora borealis biasanya terdapat di bagian paling atas belahan bumi utara. Namun negara bagian AS hingga Alabama mungkin dapat melihatnya pada hari Jumat ini. — Sumber: Business Insider/George Lepp/Getty

Badai ini kemudian ditingkatkan menjadi badai geomagnetik "ekstrem" - yang pertama sejak "Badai Halloween" pada Oktober 2003 yang menyebabkan pemadaman listrik di Swedia dan merusak infrastruktur listrik di Afrika Selatan. CME yang lebih banyak lagi diperkirakan akan menghantam Bumi dalam beberapa hari mendatang.

Media sosial diramaikan dengan orang-orang yang memposting gambar aurora dari Eropa utara dan Australasia.

"Kami baru saja membangunkan anak-anak untuk menyaksikan Cahaya Utara di taman belakang! Terlihat jelas dengan mata telanjang," kata Mansfield, sebuah lembaga think tank di Hertford, Inggris, kepada AFP.

Pihak berwenang memberi tahu operator satelit, maskapai penerbangan, dan jaringan listrik untuk mengambil langkah pencegahan terhadap potensi gangguan yang disebabkan oleh perubahan medan magnet bumi.

Tidak seperti jilatan api matahari, yang bergerak dengan kecepatan cahaya dan mencapai Bumi dalam waktu sekitar delapan menit, CME bergerak dengan kecepatan yang lebih tenang, para pejabat memperkirakan kecepatan rata-rata saat ini adalah 800 kilometer (500 mil) per detik.

Lonatran-lontaran itu berasal dari gugusan bintik matahari raksasa yang berukuran 17 kali lebih luas dari planet kita. Matahari mendekati puncak siklus 11 tahun yang membawa peningkatan aktivitas.

Redaktur: Lili Lestari

Penulis: AFP

Berita Terbaru

Xabi Alonso Yakin Cole Palmer Tampil Menawan Bersama Chelsea Jelang Laga Lawan Fulham

Karya Tangan Badui Unjuk Gigi di Bazar Harkop Harnas 2026

Jelang Laga Kontra Liverpool, Newcastle United Resmi Perluas Kapasitas St James' Park

Musim Durian Tiba, Kantong Warga Lebak Ikut Berbuah

3 Tantangan Berat Trent Alexander-Arnold Usai Putuskan Hengkang dari Liverpool

Virus Zika Jadi Sorotan, Dispar Bali Minta Wisman Tetap Santai Berwisata

PLN dan YBM PLN Hadirkan Layanan Kesehatan hingga Promo Tambah Daya untuk Warga Lenteng Agung.

Era AI Datang, Wamenekraf Tantang Desainer Tingkatkan Kompetensi hingga Bisnis

Bukan Lagi Sekadar Cangkul, Teknologi Bantu Petani Bantul Kelola 200 Hektare Lahan Bawang Merah

Wali Kota Jakarta Barat Beri Penghargaan kepada PLN atas Kontribusi Cegah Kebakaran.

Pesawat Listrik Terbesar Dunia X1 Sukses Terbang Perdana, Biaya Cas Cuma Rp88 Ribu!

Siagakan 93.782 Ton Beras, Bulog Antisipasi Krisis Pangan Pascagempa NTT

PLN Hadir di Kantor Wali Kota Jakarta Utara, Ada Promo Merdeka Daya Diskon 50 Persen

Ganjil Genap Jakarta Ditiadakan Selasa 25 Agustus 2026, Ini Daftar 25 Ruas Jalan

Beroperasi 26 Agustus 2026, Ini Daftar 5 Stasiun Baru LRT Jakarta Kelapa Gading-Manggarai

TPOS Gedebage Ditargetkan Rampung 2027, Bandung Siapkan Teknologi Baru Olah 300 Ton Sampah per Hari

Desainer Masa Depan Wajib Kuasai AI hingga Bisnis, Kampus Diminta Jadi Ruang Eksperimen Kreatif

Bapemperda DKI Minta Naskah Akademik 16 Ranperda Prioritas 2027 Disiapkan Sejak Awal

Kemenhut Kerahkan 1.000 Polisi Hutan untuk Padamkan Karhutla di Kalimantan

67 Ribu Ton Beras Digerakkan ke NTT! BULOG Kirim Bantuan dari 4 Provinsi untuk Korban Bencana

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.