Menkes Ingatkan Perubahan Iklim Perlu Diantisipasi Guna Cegah Risiko Pandemi
Senin, 29 Apr 2024, 18:14 WIBJakarta - Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin mengatakan, perubahan iklim perlu diantisipasi melalui sistem kesehatan, karena perubahan iklim dapat mendatangkan penyakit menular, yang berisiko mendatangkan pandemi, serta penyakit tidak menular.
Budi menjelaskan, perubahan iklim dapat memicu penyakit menular karena adanya perubahan interaksi antara hewan dan manusia. Menurutnya, semakin sering perubahan interaksi tersebut terjadi, maka akan semakin besar risiko terjadinya pandemi.
"Misalnya Asia bird flu dari dulu, kemudian ada covid katanya dari kelelawar," ujarnya usai acara penandatanganan komitmen kerja sama dengan Program Pembangunan PBB (UNDP) dan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) di Jakarta, Senin.
Dia menjelaskan, sebelum penyakit dari hewan-hewan tersebut tertular ke manusia, seharusnya hewan-hewan tersebut dideteksi patogennya, baik virus maupun bakteri, kemudian diteliti agar ada diagnosis, vaksin, serta obatnya. Kalau dilakukan saat sudah tertular ke manusia, katanya, sudah telat dan biayanya lebih mahal.
Budi mengatakan, perubahan iklim mendorong perubahan perilaku hewan, contohnya nyamuk Aedesaegypti. Oleh karena itu, ujarnya, setiap kali ada El Nino, maka angka kasus dengue naik.
"Dampaknya dari perubahan iklim, El Nino tadi hanya terjadi di daerah tropis. Mungkin bisa terjadi di daerah-daerah lain. Demam berat tadi hanya terjadi di Brazil, Indonesia, dan negara-negara Afrika, mungkin nanti bisa makin lama makin naik ke atas," katanya.
Adapun untuk penyakit tidak menular, katanya, perubahan iklim dapat menyebabkan masalah gizi, karena menyebabkan kenaikan permukaan air laut, sehingga dataran menjadi lebih sempit, padahal jumlah manusia terus bertambah. Hal itu, katanya, menyebabkan lebih sedikit lahan untuk produksi makanan.
"Padahal jumlah manusia kan naik terus. Dulu manusia 100 tahun yang lalu mungkin cuma empat miliar. Sekarang udah delapan miliar. Lima tahun lagi mungkin 9 miliar. Eh, ya 10 miliar. Itu kan perlu makan ya. Makan dan tanahnya makin sedikit," katanya.
Contoh lainnya, kata Budi, adalah kanker kulit. Menurutnya, perubahan iklim dapat membuat lapisan ozon semakin tipis, sehingga radiasi matahari semakin tinggi.
Oleh karena itu, ujarnya, mereka bekerjasama dengan pihak seperti UNDP dan WHO untuk mempersiapkan sistem kesehatan guna menghadapi ancaman-ancaman tersebut.
Redaktur: Marcellus Widiarto
Penulis: Antara
Berita Terkait:
-
Old Trafford Tamat? Bos Proyek MU Buka Suara Soal Kapan Stadion Baru Resmi Dibuka
-
Pemerintah Sebut Program MBG Dorong Ketahanan Pangan
-
Pengusaha Rokok Muhammad Suryo Tak Penuhi Panggilan KPK
-
Asik, Kini Ratusan Pramuwisata Kalbar Terima Tip via QRIS GoPay Merchant
-
Bandara Sentani Prediksi Puncak Arus Mudik Lebaran 2026 Terjadi 18 Maret
-
Mudik Lebaran 2026: 313 Ribu Penumpang Diprediksi Melintas di Bandara Sepinggan Balikpapan, Dipicu Aktivitas IKN
-
Pabrik MVP, Rahasia Belanda dan Amerika Serikat 'Cetak' Noortje Driessen & Caden Pierce Jadi Raja 3x3 Dunia
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.